Rabu, 28 Desember 2011

Penantian Panjang

Penantian Panjang . . .

“Dek bangun. . . bbbaannnggguuunnn. . .“ teriak seseorang membangunkanku.
“Iyaa bentar lagi. . .” gue menggeliat di tempat tidur.
 “Nanti loe telad ke sekolahnya Tha.” Teriak kak Rafa tak kalah kencangnya dengan suaranya yang tadi.
“Masih pagi gini. Bentar 10 menit lagi.” gue narik selimut yang tadi di tarik oleh kak Rafa.
“Sekarang udah jam setengah tuju, kakak mau berangkat nih.” Teriak kak Rafa dengan nada kesalnya.
What?” gue menoleh kearah jam dinding, dan ternyata My God beneran jam setengah tuju. Gue langsung menuju kamar mandi tak menghiraukan kak Rafa yang berada di kamar tercinta gue.
“Kenapa loe nggak bangunin gue dari tadi sih kak?” gue berteriak dari dalam kamar mandi.
“Loe tuh yang kebo. Gue udah bangunin dari tadi, tapi loe nggak bangun – bangun. Cepetan mandi.” Teriak kak Rafa.
(*Dari tadi teriak mulu deh. . . :D)

“Iya – iya, gue jangan di tinggal.” gue mempercepat ritual pagi yang biasa yang gue lakuin (*baca = mandi)
“Makanya jangan teriak – teriak mulu.” kata kak Rafa kesal.
“Kaaaakkkk Raaaffffaaaaaa. . . ambilin handuk donk di lemari. Gue lupa bawa. Cepettaaannn. . .” gue berteriak kesekian kalinya.
  Tak ada jawaban.
“Kaaaaakkkkkkkk . . .” teriakku.
“Iyaaa bawel. Lagi gue ambilin. Nih anduknya.” kak Rafa menyodorkan handuknya.
Gue membuka sedikit pintu buat ngambil handuk. “Makasih kakakku tersayang, udah keluar sana gue mau ganti baju.” gue cengar – cengir nggak jelas ke kak Rafa.
Kak Rafa keluar dari kamar gue, kayaknya dia kesel banget sama gue. Maklum gue paling nggak bisa kalo bangun pagi. (*daripada bo’ong)
15 menit kemudian. Gue turun ke ruang makan.
“Loh kok kak Rafa nggak ada ?” kataku agak sedikit kesal.
“Non, Tuan Rafanya udah mau berangkat. Dia di Garasi Mobil mungkin.” kata bi Inem.
“oh ya udah. Berangkat dulu bi.” gue langsung nyamber roti yang ada di meja makan terus kabur.
Nah itu dia kirain ditinggal.
“Cepetan masuk.” kata kak Rafa. Gue langsung masuk mengikuti perintah kak Rafa. Busett . . . tampang kak Rafa kali ini bener – bener galak.
“Ciiiieee. . . jutek amat mukanya.” gue nyubit pipinya kak Rafa.
“Diem loe, awas sampe entar telad.” bentak kak Rafa. Gue cuma cengar – cengir liat mukanya kak Rafa.
(*eeeiiittzzz perasaan belom kenalan yah?)
*Nama gue Agatha Landry Tanubrata. Gue itu orang baek, cantik, pinter, rajin menabung, tapi jeleknya. . . paling susah kalo disuruh bangun pagi (hhe..). Gue dirumah cuma sama sama kak Rafa lengkapnya Rafael Landry Tanubrata dan Bi Inem. Orang tua gue sibuk ngurusin bisnisnya yang ada dimana – mana. Kalo ditanya perusahaannya ada dimana, gue juga nggak hafal semuanya.
Kak Rafael itu. . . duh nggak enak ngomongnya. Kak Rafa itu orangnya hampir sempurna dimata gue dia itu ganteng, baek, rajin, di idolain sama semua cewek di sekolah. Kalo bukan kakak kandung gue, bakalan gue embat deh. Kita di sekolah di SMA Tunas Bangsa di daerah Jakarta Timur (*ngarang banget ) gue kelas XI IPA 1 dan kak Rafa kelas XII IPA 1.


Jam menunjukkan pukul 07.00 WIB, pas banget kita sampai disekolah.
“Untung nggak telat.” kata kak Rafa.
“Hehe. . . gue ke kelas dulu ya. Muaacchh.” Gue mencium pipi kiri kak Rafa dan pergi kekelas.
Gue lari – lari ke kelas, olahraga rutin yang setiap pagi gue lakuin (*iyalah kesiangan hampir tiap hari)
Tiba – tiba.. . .
Bruuuuukkkkk . . .
“Adduuhh. . . maaf gue nggak sengaja” gue belom ngeliat orang itu, bukunya berantakan jadi gue ambilin deh buku orang yang gue tabrak terus gue kasih ke dia. Dan ternyata orang itu adalah  . . .
Jreng. . . jreng  . . . jrengg.  . .
“Kak Morgan, aduh maaf kak aku nggak sengaja, aku buru – buru.” dari elo gue langsung berubah deh ke aku kamu.
“Kebiasaan” jawab kak Morgan dengan wajah sinisnya serta mengambil bukunya dan langsung pergi.
“Aaadduuhh. . . bego banget deh gue. Kenapa harus nabrak dia sih. Jadi jelekkan reputasi gue ke dia.” batin gue.
Tadi itu kak Morgan lengkapnya Morgan Handi Winata . Kak Morgan itu teman satu kelas kak Rafa, gue dari dulu suka sama dia sejak pertama ketemu. Tapi kayaknya dia nggak pernah suka sama gue. Dia orangnya jutek, pendiam (*menurut gue) tapi kak Rafa bilang kak Morgan itu sebenernya baik hati cuma orang – orang yang nggak kenal dia aja yang bisa menganggap dia kaya gitu.
“Wooooooyyy. . .” teriak seseorang mengagetkanku dari belakang.
*Ternyata dia Visca, Revisca Handi Winata. Handi Winata?? Ya dia adeknya kak Morgan, dia sahabat gue. Sayang gue nggak pernah sekalipun akrab sama kakaknya. Kak Morgan kayaknya juga nggak pernah tau kalo gue itu adeknya kak Rafa. Nama gue aja dia nggak tau. Selain itu gue punya sahabat lain yang selalu ada buat gue yaitu Prilly Salsabila dan Iyas Salsabila (*Loh kok sama?). iya mereka berdua kembar jadi nggak usah bingung. Mereka juga dapet pacar kembar juga yaitu Reza Anugrah Wibowo dan Ilham Fauzi Wibowo.
Eeiittzz perkenalannya udahan . . Back to story. . .
“Ngagetin aja loe.” jawab gue dengan tampang bête.
“Adduuhhh dateng – dateng muka loe bête gitu sih?” tanya Visca.
“Hancur deh nama baik gue didepan kakak loe. Hampir tiap hari gue telat.” Gue menundukkan kepala ke meja.
“Ciiie. . . yang lagi jatuh cinta. Uuppzztt . . . salah patah hati tepatnya” kata Prilly dan Iyaz barengan sambil menutup mulut dengan tangan kanannya. (*bisa bayanginkan?)
Gue cuma diem. Tiba – tiba Gurupun datang. Uuhh . . . pelajaran pertama Fisika, mata pelajaran yang sedikit membuat aku pusing karena rumus – rumusnya. Untungnya guru Fisika gue baik hati, Ibu Amy namanya.
Ttteeett . . . TTtttteeettt. . . Tak terasa bel istirahat berbunyi.
“Ke kantin yuk?” ajak Visca.
“Ya, gue juga udah laper.” jawab gue enteng.
Sesampainya dikantin, kita berempat langsung mesen makanan.
“Bu, pesen bakso 4, es teh 4.” kata Iyaz sama Ibu kantin.
“Tapi bakso yang satu nggak usah pake saos sama sambel, kasih kecap aja.” aku menambahi.
“Iya neng, tunggu sebentar.” jawab Ibu kantin.
“Eh, kak Ogan, kak Rafa.” sapa Visca.
Aku hanya diam melihat kak Morgan dengan kak Rafa. Kak Rafa senyum – senyum genit ngeliat Visca. Yupz. . . kak Rafa emang naksir Visca. Dan Visca juga ada cinta sama kak Rafa. Lah gue?? Nggak pernah tau kak Morgan kaya gimana.
“Bu, pesen bakso 2, es teh 2.” kak Rafa memesan.
“Tapi bakso yang satu nggak usah pake kecap, kasih saos sama sambel yang banyak.” Tambah kak Morgan.
Gila, beda banget gue sama kak Morgan. Gue suka kecap dia enggak. Gue nggak suka saos sama sambel dia malah suka. Nggak jodoh nih. Dia nggak pernah telat, nah gue ?? tiada hari tanpa telat. Gue kayaknya harus berubah deh
“Duduk yuk Girls.” Gue ngajak temen - temen duduk jauh dari kursi kak Morgan sama kak Rafa.
Setelah makan kita ke kelas. Tapi sebelumnya aku beli es krim kesukaanku. “Magnum”. Uuhmm . . . yummy.
“Hai Gatha cantik.” sapa seseorang.
Aku menoleh, dan ternyata . . .
Dia Bisma Karisma, si playboy yang terkenal di sekolah gue. Dia juga salah satu temannya kak Rafa.
“Loe manggil gue?” jawab gue ketus.
“Iyalah siapa lagi cantik.” kata bisma sambil tersenyum lebar memperlihatkan behelnya.
“Iihh genit amat loe kak. Gue ke kelas dulu.” kata gue ketus.
“Eeeiittss jangan pergi dulu. Temenin gue donk,” Bisma menarik tangan gue.
“Lepasin.” gue mencoba nglepasin tangan Bisma dengan paksa. Dan . . .
Brruukk. . .
Gue menabrak kak Morgan yang kedua kalinya untuk hari ini. Dan bukan hanya itu, Magnum gue melayang ke baju kak Morgan.
“Uppst. . Sorry.” gue minta maaf ke kak Morgan (*iyalah minta maaf. Masa ngajak berantem)
“Loe seneng banget ya nabrak gue. Dan ini liat baju gue kotor.” bentak kak Morgan.
“Udahlah Gan. Gatha nggak sengaja.” kak Rafa membela gue.
“Iya kak. Gatha nggak sengaja.” Sekarang Visca yang ngebela gue.
“Ho’oh kak, Gatha nggak sengaja.” Kata Prilly dan Iyaz barengan. Sungguh membantu
“Kalian kenapa belain dia sih. Baju gue kotor, ini baru istirahat pertama.” Kata kak Morgan.
“Iyalah gue ngebelain dia. Agatha kan adek gue.” Jawab kak Rafa.
“Hah . . . adek loe?” kata kak Morgan dan kak Bisma bersamaan.
“Iya. Loe semua belom tau. Diakan namanya Agatha Landry Tanubrata.” Jawab kak Rafa enteng.
“Pantesan gue pernah liat loe berangkat bareng sama dia. Kirain dia pacar loe.” Kata Bisma.
Semua ketawa keuali aku dan kak Morgan.
“Gini aja Gan, loe pake sergam gue yang ada di mobil. Biar seragam loe entar di cuciin sama adek gue. Gimana?” kali ini kak Rafa benar – benar banyak membantu. Love you so much brother.
“Iya deh.” Jawab kak Morgan ketus.
Akhirnya, seperti apa yang dikatakan kak Rafa tadi. Gue jadi Nyuciin seragamnya Kak Morgan. Ada untungnya juga sih, belajar jadi istri yang baek (*mimpi kali ya??).


Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan langsung kabur! Ayo ketik sesuatu dulu di sini :)