“Senja yang kita diami sekarang adalah rangkaian kejadian yang telah digariskan. Ada kamu,
kenangan, dan cinta yang tertunda.”
Waktu kita bertemu pertama kali, aku tak
pernah berpikir kamu akan jadi begini pentingnya bagiku. Hanya sekedar sapa
biasa, tak ada yang lain. Hingga suatu saat, waktu merubah segalanya. Aku tak
mengerti rasa itu, tapi jantungku selalu berdegup seratus kali lebih cepat
ketika aku bertemu denganmu. Hatiku bergejolak, antara membalas sapaanmu atau
membalas senyumanmu. Tubuhku bergetar hebat dan seketika dingin, padahal jelas
peluhku menetes menikmati sapaan mentari.
Aku mulai menyukai apa yang kamu sukai,
begitu pun kamu. Kejutan kecil serta candaanmu selalu mengisi baris awal
hariku. Ketika aku tersenyum, kamu bahagia. Saat aku sedih, tak pernah lelah
kamu menghiburku.
Pagi itu, ketika aku masih terbuai dalam
mimpi, kamu datang. Kamu membelaiku, mencium puncak kepalaku. Aku mengerjapkan
mataku, kamu tersenyum dan memberikan mawar biru untukku. Aku belum sadar
benar, bingung antara kenyataan atau aku masih dalam mimpi. Tapi aku samar-samar
mendengar kamu berkata, "Marry Me?".
Aku cepat-cepat mengembalikan
kesadaraanku, aku mencubit lenganku sendiri. Sakit. Aku mencubit lenganmu, kamu
tersenyum. "Apakah ini nyata?" tanyaku. Kemudian kamu mengeluarkan
sebuah kotak kecil berwarna ungu, warna kesukaanku. Lalu kamu membukanya,
"Marry Me?" tanyamu kesekian kali.
Jika ini mimpi, aku pasti enggan
terbangun. Tapi ini kenyataan, kamu melamarku. Aku begitu bingung hingga aku
tak tahu harus berkata apa. Hatiku telah melompat kegirangan, dan jantungku
rasanya ingin terlepas. Aku menganggukkan kepalaku, perlahan tapi pasti, cincin
itu telah terpasang di jari manisku. Aku terharu dan bahagia, lalu kamu
memelukku. "I Love You," katamu. "I Love You Too," jawabku.
Aku mencintaimu bukan dalam terang
siang. Aku mencintaimu dalam kegelapan, dengan hati sebagai mataku. Aku ingin
mencintaimu tanpa batas waktu. Tidak kini, dulu, apalagi nanti. Aku ingin
mencintaimu saja untuk selamanya. Di hadapan hatimu aku memilih untuk berserah.
Bawalah aku ke mana pun cinta menginginkan kita pergi.
Tak butuh menjadi siapa aku di matamu. Aku
adalah aku tanpa awalan atau akhiran, dan kamu adalah kamu tanpa notasi
berurutan di hatiku. Bersamamu, kupuji hari yang tak pernah alpha dari bahagia.
Hari membahagiakan kita telah tiba.
Senyumku tak pernah lepas dari bibirku. Aku mengenakan gaun pilihanmu. Bukan,
pilihan kita. Sebentar lagi aku akan menjadi pendampingmu. Bersatu dalam
kebahagiaan dan selalu bersama walaupun hidup terasa mematikan.
Aku begitu tak sabar menantimu saat itu.
Jarum jam berputar begitu lambat. 1 menit, 30 menit, 1 jam, 3 jam, kamu tak
kunjung datang. Hey! Apa kamu melupakan hari bersejarah untuk kita? Aku
gelisah, tak peduli bahwa peluhku membasahi keningku. Berkali-kali aku menoleh
keluar, tapi kamu tak kunjung datang.
Aku berdiri, ku putuskan berjalan keluar
gedung. Mungkin ini bagian kejutan darimu untukku di hari pernikahan kita. Tapi
sungguh, ini tidak lucu!
Beberapa saat kemudian, aku melihat
sebuah mobil melintas di depanku. Lalu mobil itu berhenti, kemudian seorang
lelaki cukup tua keluar dari mobil itu. Dia berlari menghampiriku, "Ada
apa pak?" tanyaku. Dia tertunduk diam, wajahnya pucat. Aku bertanya lagi,
"Ada apa?" perlahan dia mengangkat kepalanya, "Tuan
kecelakaan." katanya perlahan. "Dia meninggal."
Saat itu, aku ingin mati detik itu juga.
Ahh.. Membingungkan bukan? Kita hampir saja disatukan dalam sebuah janji suci.
Tapi Tuhan berkehendak lain. Ini takdir kita.
Aku
tidak tahu cinta itu terdiri dari berapa macam. Yang kutahu, cinta ini
tersendat, dan hatiku seperti mau mati pengap. Kendati kusayang kamu lebih
daripada siapun yang kutahu. Kendati bersamamu senyaman berselimut pada saat
hujan.
Dengarkah kamu? Aku ada. Aku masih ada.
Aku selalu ada. Rasakan perasaanku yang bergerak bersama alam untuk menyapamu.
Inilah liang rasaku. Penuh berisi tentangmu.
Seseorang yang hanya sanggup kuhayati
bayangannya dan tak akan pernah kumiliki seutuhnya. Seseorang yang hadir
sekelebat bagai bintang jatuh yang keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini
sanggup memiliki. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara,
langit, awan, hujan, atau jingga-nya senja.
Aku memandangmu tanpa perlu menatap. Aku
memandangmu tanpa perlu alat. Aku memandangmu tanpa perlu hadir. Begitu dekat,
tetapi begitu terpisah. Rectoverso!
Kyaaa.. apa ini? Belom sempet namatin “Disini, di hatiku” malah nulis ini. Tapi nggak apalah, keburu idenya ilang
*alibi* Oh iya, penulisan FF di atas ada rahasianya loh. Tau nggak? Kalo ada
yang tau, aku kasih ucapan selamat deh. Ahh.. sudahlah. Paling nggak bisa
ngomong banyak-banyak. Selalu menunggu komentarnya kawan. Bubay...
Jangan lupa follow yak >>
@EkaRahma28_

mbak ini bikin sendiri apa Rectoversonya Dee sih? *akibat belum baca*
BalasHapus