Jumat, 26 April 2013

Rectoverso | Flash Fiction






         “Senja yang kita diami sekarang adalah rangkaian kejadian yang telah digariskan. Ada kamu, kenangan, dan cinta yang tertunda.”

        Waktu kita bertemu pertama kali, aku tak pernah berpikir kamu akan jadi begini pentingnya bagiku. Hanya sekedar sapa biasa, tak ada yang lain. Hingga suatu saat, waktu merubah segalanya. Aku tak mengerti rasa itu, tapi jantungku selalu berdegup seratus kali lebih cepat ketika aku bertemu denganmu. Hatiku bergejolak, antara membalas sapaanmu atau membalas senyumanmu. Tubuhku bergetar hebat dan seketika dingin, padahal jelas peluhku menetes menikmati sapaan mentari.
        Aku mulai menyukai apa yang kamu sukai, begitu pun kamu. Kejutan kecil serta candaanmu selalu mengisi baris awal hariku. Ketika aku tersenyum, kamu bahagia. Saat aku sedih, tak pernah lelah kamu menghiburku.
        Pagi itu, ketika aku masih terbuai dalam mimpi, kamu datang. Kamu membelaiku, mencium puncak kepalaku. Aku mengerjapkan mataku, kamu tersenyum dan memberikan mawar biru untukku. Aku belum sadar benar, bingung antara kenyataan atau aku masih dalam mimpi. Tapi aku samar-samar mendengar kamu berkata, "Marry Me?".
        Aku cepat-cepat mengembalikan kesadaraanku, aku mencubit lenganku sendiri. Sakit. Aku mencubit lenganmu, kamu tersenyum. "Apakah ini nyata?" tanyaku. Kemudian kamu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna ungu, warna kesukaanku. Lalu kamu membukanya, "Marry Me?" tanyamu kesekian kali.
        Jika ini mimpi, aku pasti enggan terbangun. Tapi ini kenyataan, kamu melamarku. Aku begitu bingung hingga aku tak tahu harus berkata apa. Hatiku telah melompat kegirangan, dan jantungku rasanya ingin terlepas. Aku menganggukkan kepalaku, perlahan tapi pasti, cincin itu telah terpasang di jari manisku. Aku terharu dan bahagia, lalu kamu memelukku. "I Love You," katamu. "I Love You Too," jawabku.

        Aku mencintaimu bukan dalam terang siang. Aku mencintaimu dalam kegelapan, dengan hati sebagai mataku. Aku ingin mencintaimu tanpa batas waktu. Tidak kini, dulu, apalagi nanti. Aku ingin mencintaimu saja untuk selamanya. Di hadapan hatimu aku memilih untuk berserah. Bawalah aku ke mana pun cinta menginginkan kita pergi.
        Tak butuh menjadi siapa aku di matamu. Aku adalah aku tanpa awalan atau akhiran, dan kamu adalah kamu tanpa notasi berurutan di hatiku. Bersamamu, kupuji hari yang tak pernah alpha dari bahagia.
       
        Hari membahagiakan kita telah tiba. Senyumku tak pernah lepas dari bibirku. Aku mengenakan gaun pilihanmu. Bukan, pilihan kita. Sebentar lagi aku akan menjadi pendampingmu. Bersatu dalam kebahagiaan dan selalu bersama walaupun hidup terasa mematikan.
        Aku begitu tak sabar menantimu saat itu. Jarum jam berputar begitu lambat. 1 menit, 30 menit, 1 jam, 3 jam, kamu tak kunjung datang. Hey! Apa kamu melupakan hari bersejarah untuk kita? Aku gelisah, tak peduli bahwa peluhku membasahi keningku. Berkali-kali aku menoleh keluar, tapi kamu tak kunjung datang.
        Aku berdiri, ku putuskan berjalan keluar gedung. Mungkin ini bagian kejutan darimu untukku di hari pernikahan kita. Tapi sungguh, ini tidak lucu!
        Beberapa saat kemudian, aku melihat sebuah mobil melintas di depanku. Lalu mobil itu berhenti, kemudian seorang lelaki cukup tua keluar dari mobil itu. Dia berlari menghampiriku, "Ada apa pak?" tanyaku. Dia tertunduk diam, wajahnya pucat. Aku bertanya lagi, "Ada apa?" perlahan dia mengangkat kepalanya, "Tuan kecelakaan." katanya perlahan. "Dia meninggal."

        Saat itu, aku ingin mati detik itu juga. Ahh.. Membingungkan bukan? Kita hampir saja disatukan dalam sebuah janji suci. Tapi Tuhan berkehendak lain. Ini takdir kita.
          Aku tidak tahu cinta itu terdiri dari berapa macam. Yang kutahu, cinta ini tersendat, dan hatiku seperti mau mati pengap. Kendati kusayang kamu lebih daripada siapun yang kutahu. Kendati bersamamu senyaman berselimut pada saat hujan.
        Dengarkah kamu? Aku ada. Aku masih ada. Aku selalu ada. Rasakan perasaanku yang bergerak bersama alam untuk menyapamu. Inilah liang rasaku. Penuh berisi tentangmu.
        Seseorang yang hanya sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan pernah kumiliki seutuhnya. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup memiliki. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, hujan, atau jingga-nya senja.
        Aku memandangmu tanpa perlu menatap. Aku memandangmu tanpa perlu alat. Aku memandangmu tanpa perlu hadir. Begitu dekat, tetapi begitu terpisah. Rectoverso!




        Kyaaa.. apa ini? Belom sempet namatin “Disini, di hatiku” malah nulis ini. Tapi nggak apalah, keburu idenya ilang *alibi* Oh iya, penulisan FF di atas ada rahasianya loh. Tau nggak? Kalo ada yang tau, aku kasih ucapan selamat deh. Ahh.. sudahlah. Paling nggak bisa ngomong banyak-banyak. Selalu menunggu komentarnya kawan. Bubay...
        Jangan lupa follow yak >> @EkaRahma28_

1 komentar:

  1. mbak ini bikin sendiri apa Rectoversonya Dee sih? *akibat belum baca*

    BalasHapus

Jangan langsung kabur! Ayo ketik sesuatu dulu di sini :)