Jumat, 01 Maret 2013

Di sini, di hatiku | Pertemuan | Part 1

             “Pertemuan itu begitu singkat tapi cukup membuatku gila, gila akan bayangmu yang singgah dalam pikiranku. Aku tak pernah mengerti tentang perasaanku padanya. Tapi yang pasti dia punya tempat tersendiri di sini, di hatiku.”


             Wanita itu menatap Laptop-nya, pikirannya tenggelam dalam kenangan masa lalu. Sebuah asa yang tak dapat diraihnya, yang kini telah menjadi alasan untuk mengunci hatinya. Rea.
             “Hei ndut, ngapain lo?” seorang lelaki  menepuk pundaknya.
             “Gua udah nggak gendut tau Nant.” Rea memanyunkan bibirnya.
             “Oke, oke! Mantan gendut berarti. Haha..” Lelaki itu tertawa, Venant.
             Rea meliriknya sekilas, lalu kembali menatap layar monitor yang ada di depannya. “Tumben lo kesini? Lo nggak ke kantor?”
             “Enggak, lagi cuti gue Re. Kak Irgi pulang, dia sementara gantiin gue di perusahaan Papa.” Venant menyandarkan kepalanya pada bangku taman.
             Rea menatap Venant, dia terlihat bahagia menikmati cutinya. Dasar pemalas, tapi dia sahabat terbaik Rea. “Terus lo ngapain kesini? Mau ngajak gue pergi? Nggak bisa, belom waktunya gue pulang.”
             “Diih, siapa yang mau ngajak pergi coba? Cuma mau ngasih tau kalo gue minggu depan ke Bandung, biasa urusan bisnis. Tapi rencananya abis itu gue mau liburan juga, mau ikut nggak lo? Katanya lo lagi pengen ke bandung.”
             Rea menaikkan salah satu alisnya, “Iya sih, tapi nggak ada yang gantiin gue Nant. Kasian anak-anak nanti, tapi kalo boleh izin sih nggak masalah. Haha..”
             “Dasar lo! Sama aja kaya gue.” Sebuah jitakan melesat pada kepala Rea.
             “Ishh..” Lalu Rea membalasnya. Mereka lari-lari kecil mengejar satu sama lain, seperti anak kecil. Hal yang sangat aneh untuk orang seusia mereka. Tak lama kemudian seorang wanita menghampiri mereka.
             “Ibu Rea..”
             Rea menoleh, “Iya Nela, ada apa?”
             “Hari ini kita kedatangan murid baru, kebetulan dia keponakan saya. Kalo Ibu Rea tidak sibuk, saya ingin mengenalkannya pada anda.” Ucap Nela.
             “Sama sekali tidak sibuk, muridnya laki-laki atau perempuan Nel?”
             “Perempuan, dan cantik seperti Ibu.” Nela tersenyum.
             “Jangan fitnah Nel, Rea tuh jelek.” Venant mencibir Rea.
             “Sirik aja lo. Huu...” Rea mencubit tangan Venant. “Kalo begitu, ayo kita pergi! Jadi nggak sabar ketemu anak itu.” Rea mengambil laptop-nya.
             “Gua ikutan.” Venant mengambil laptop Rea dan membawanya pergi, lalu dia berjalan mendahului Rea dan Nela.
             Rea hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya. Venant memang bukan guru seperti Rea, tapi dia anak pemilik yayasan di sekolah tempat Rea mengajar. Jadi dia bebas untuk keluar atau masuk ke dalam sekolah.
             “Kenapa Ibu nggak jadian aja sih sama Pak Venant? Dia ganteng, baik, mapan lagi. Kalo saya jadi Ibu, saya bakal jadiin dia pacar saya.” Ucap Nela polos.
             Rea terdiam sejenak, lalu berkata, “Dia itu sahabat saya dari bayi, tanggal lahir kita sama, lahir di tempat yang sama pula. Dia udah saya anggap sebagai saudara saya dan sebaliknya. Jadi nggak mungkinlah kita jadian. Kalo kamu suka Venant, deketin aja nggak apa-apa. Tapi jangan mepetin dia terus kaya jomblo desperate yang nggak punya pilihan lain. Bukannya dia suka kamu, tapi dia malah ilfeel sama kamu.”
             “Iya bu, siap.” Jawab Nela tegas.
             “Dan satu lagi, sebenernya saya kurang suka kamu panggil saya Ibu. Kita ini beda enam tahun, panggil mbak atau kakak itu lebih baik menurut saya.”
             “Baiklah. Tapi kalo di lingkungan sekolah, saya tetap memanggil anda Bu Rea. Oke Kak?”
             “Terserah kamulah.” Ucap Rea pasrah.
             Mereka berdua berjalan di belakang Venant. Nela sibuk mengamati setiap gerakan Venant, ya.. Nela sudah lama menyukai Venant. Tapi Venant sepertinya tidak pernah tertarik dengan Nela. Sedangkan Rea, masih memikirkan perkataan Nela. Perkataan yang membuatnya ingat tentang asa yang pupus, yang tak bisa ia raih.
             “Percuma, bergemingpun tidak. Lelahku kini melampaui batas logika, tapi tetap saja sia-sia. Dia selalu di sini, di hatiku. Menggerogoti kalbu dengan rindu.” Ucap Rea dalam hati.
***
             “Hai An, bagaimana kabarmu? Apa kamu bahagia? An, maaf aku tak bisa menjadi suami yang baik untukmu. Maafkan Arkanda yang bodoh ini. Maafkan aku! Maafkan aku karena aku tak pernah bisa mencintaimu. Maafkan aku karena aku tak pernah bisa melupakan dirinya, kenangan tentang dirinya selalu mengakar lekat dalam pikiranku. Dia selalu mempunyai tempat tersendiri, di sini, di hatiku. Aku sangat mencintainya, tapi kamu begitu mencintaiku melebihi dirimu sendiri.”
             “Oh iya, anak kita hari ini masuk sekolah baru. Kuharap dia bahagia masuk sekolah barunya, kita akan menetap di sini. Jadi jangan bersedih, karena kamu akan dekat dengan anakmu, anak kita. Jangan khawatir An, aku akan selalu menjaga dia dengan segenap jiwa dan ragaku. Hiduplah dengan tenang disana. Jaga dirimu baik-baik An, doaku selalu menyertaimu.” Lelaki itu mencium batu nisan yang ada di hadapannya.
             Perlahan dia meninggalkan nisan istrinya, pikirannya melayang pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Meninggalkan seseorang yang sangat ia cintai demi kedua orang tuanya. Dia sangat menyesali perbuatan bodohnya, mengapa ia dulu tidak kabur? Dia tak punya nyali.

             “Maafkan aku, aku harus pergi meninggalkanmu. Mengakhiri hubungan kita. Lupakan aku, anggap saja kalau kita tak pernah bertemu.”
             “Kamu ini bicara apa? Apa maksudmu?”
             “Aku lelah Al, sangat lelah. Aku tak bisa menjelaskan semuanya padamu, aku mohon mengertilah aku.”
             “Oke, kalo kamu nggak mau mengatakan yang sebenarnya. Aku hargai keputusanmu. Selama kamu bahagia, teruslah berpegang pada alasan yang kamu yakini, dan cara yang kamu pilih. Aku takkan menggugat lagi. Sebab aku mencintaimu, biar ku tanggung sendiri segala akibatnya.”

             Lelaki ini bernama Arka, dia terlihat kuat dari luar tapi di dalam hatinya  sangat rapuh. Dia tak bisa mengalahkan pikirannya untuk melupakan gadis itu, gadis yang selalu ia cintai. Sekeras apapun usaha untuk melupakannya, dia tetap mencintai gadis itu. Kenangan tentang dirinya telah mengakar lekat dalam barisan hari.
             “Bahagiakah kamu Al? Kuharap kamu selalu bahagia, tanpaku. Rasa ini selalu kujaga untukmu, karena mencintaimu adalah sebuah keajaiban sempurna yang mengakar lekang dalam barisan hari. Al, aku berharap kita bertemu lagi. Kali ini aku berjanji untuk tidak meniggalkanmu, aku akan menjagamu, melindungimu. Takkan aku ulangi kesalahan yang dulu pernah aku lakukan padamu. Tapi, apakah kamu masih menanti aku? Apakah aku menjadi urutan pertama sebagai seseorang yang kamu nantikan? Tak mungkin, aku telah meninggalkanmu. Mungkin aku telah menjadi orang pertama yang kamu benci. Tapi ketahuilah Al, setelah kuputuskan pergi meninggalkanmu, aku seperti tak tau lagi bagaimana caranya bahagia.” Arka memandangi foto yang berada dalam genggamannya.
             Tak lama kemudian, handphone-nya bergetar.
             “Halo.”
***
             Tampak seorang pemuda sedang mengenakan jas-nya, dia terlihat bahagia. Dia bersemangat sekali, berkali-kali dia bersiul lalu menyanyikan sebuah lagu.
             “Rea, I’m back.” Dia mencium sebuah foto. Foto seorang gadis yang ia sayangi.
             “Irgi, cepat turun.” Seorang wanita memanggilnya.
             “Iya Ma, sebentar.” Dia memasukan kembali foto Rea kedalam dompetnya. Lalu beranjak turun.
             Kedua orang tua Irgi heran melihat tingkah anaknya pagi ini. Dia terlihat bersemangat dan sangat bahagia.
             “Kamu itu kenapa? Bahagia sekali pagi ini?” tanya Papa irgi.
             “Nggak kenapa-kenapa Pa. Irgi cuma senang bisa kembali ke Jakarta, berkumpul dengan keluarga. Dekat dengan Papa, Mama, dan si tengil Venant.” Irgi tersenyum, “Dan Rea.” Ucap Irgi dalam hati.
             “Dasar anak Mama. Oh iya, kapan teman kamu datang ke kantor Papa?” tanya Mamanya.
             “Katanya hari ini, sebentar aku telepon dia dulu.” Irgi mengambil handphone yang berada di saku celananya, lalu dia menekan tombol-tombol di handphone-nya.
             “Hei bro... dimana lo sekarang? Kapan lo datang ke kantor, bokap nyokap gue nggak sabar ketemu lo.”
             Irgi mendengarkan jawaban dari temannya. “Oh oke! Nggak masalah, salam buat anak anak lo.” Irgi mengakhiri panggilannya.
             “Katanya dia mau ke sekolah anaknya dulu Pa, mengurus kepindahan anaknya. Mungkin agak siang dia ke kantor.” Ucap Irgi.
             “Dia sudah punya anak?” tanya Mamanya.
             “Iya Ma, lucu banget anaknya.” Kata Irgi sambil memakan rotinya.
             “Kapan kamu menikah? Temanmu saja sudah punya anak. Sedangkan kamu, pacarpun tidak punya.” Kata Papanya.
             “Sebentar lagi, tunggu saja Pa. Irgi sudah punya calon istri yang baik. Dia juga cantik, Papa dan Mama pasti sangat senang dengan pilihan Irgi.”
***
             “Nah ini dia sekolah Aletha.” Ucapnya. Arka segera memarkirkan mobilnya, lalu ia keluar dari mobilnya. Dia menuju ruangan Kepala Sekolah.
             Tok.. tok.. Arka mengetuk pintu.
             “Silakan masuk.” Ucap seseorang dari dalam.
             Arka membuka pintunya, lalu tersenyum kepada Ibu Kepala Sekolah.
             “Bapak Arka, selamat datang.” Ibu Kepala Sekolah menjabat tangan Arka. “Silakan duduk Pak.”
             “Terima kasih.” Arka tersenyum. Dia membetulkan posisi kacamatanya, “Gini bu, saya ingin menyelesaikan urusan kepindahan anak saya. Apakah masih ada hal-hal yang harus saya lakukan?” tanya Arka.
             “Oh, tenang saja Pak Arka. Adik anda sudah mengurusnya dengan baik, jadi bapak tidak perlu repot-repot lagi. Hari ini Aletha juga di kenalkan dengan wali kelasnya. Semoga dia suka sekolah di sini.”
             “Iya bu. Bolehkah saya bertemu dengan Aletha? Saya ingin bertanya apakah dia menyukai sekolah barunya.”
             “Tentu saja boleh Pak Arka, mari saya antarkan.”
             Ibu Kepala Sekolah mengantarkan Arka ke Taman bermain yang terletak di samping sekolah. Arka tersenyum melihat anaknya sedang bermain, dia terlihat gembira sekali. Anaknya kini sedang bermain dengan gurunya. Arka mendekati mereka.
             “Aletha…” Ucapnya sedikit berteriak. Arka sedikit menunduk karena membetulkan posisi kacamatanya. Ketika kembali menatap kedepan, Arka terkejut. Jantungnya berdegup begitu cepat, matanya terpaku melihat sosok yang ada di depannya. “Kamu…” ucapnya lirih.






...................................................................................................................................................................
Udah, sampe sini dulu aja. Saya juga capek ngetiknya. haha :D
Sesuatuh banget saya buka-buka blog. Kalo bukan karena kakak saya, nggak bakalan keurus ini blog. Oke, gitu aja. Tunggu part selanjutnya. :)
Nih akun Facebook saya Eka Rahmawati atau follow @EkaRahma28_



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan langsung kabur! Ayo ketik sesuatu dulu di sini :)