Ingin rasanya
aku pergi jauh dari semua ini. Melupakan kenangan-kenangan pahit yang pernah
aku alami. "Huh... Selalu seperti ini, nggak pernah berubah." aku
mendengus kesal. Menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur kesayanganku.
Pikiranku
melayang, beribu-ribu memory dalam otakku berlarian entah kemana. Sungguh aku
ingin hilang ingatan saat ini juga. Agar tak terbebani dengan semua ini.
"Oh Tuhan, apa salahku? Hingga semua ini Kau limpahkan padaku. Sungguh aku tidak tahan dengan semua ini."
"Oh Tuhan, apa salahku? Hingga semua ini Kau limpahkan padaku. Sungguh aku tidak tahan dengan semua ini."
Aku mencoba
menutup mataku, tapi tetap saja tak bisa tidur. "Arrggg... Rese' banget
sih..." aku melampar bantal ke arah dinding kamarku.
Bbuukk...
"Lama-lama
aku bisa gilaaa..." aku berteriak dalam hati.
Tak terasa
ada sesuatu membasahi pipiku, sebuah cairan keluar dari mataku. Aku menangis
lagi. Entah sudah kesekian kalinya aku menangis seperti ini. Yang bisa aku
lakukan hanya menangis, dan menangis. Tak ada yang mengerti perasaanku, atau
mungkin belum ada yang bisa mengerti aku. Lama-lama
kepalaku terasa berat, aku membenamkan kepalaku ke tempat tidur. Setelah lama menangis, akhirnya akupun
tertidur. Yap, ini sudah menjadi kebiasaanku akhir-akhir ini.
Ingin rasanya
aku pergi jauh dari semua ini. Melupakan kenangan-kenangan pahit yang pernah
aku alami. "Huh... Selalu seperti ini, nggak pernah berubah." aku
mendengus kesal. Menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur kesayanganku.
Pikiranku melayang, beribu-ribu memory dalam otakku berlarian entah kemana. Sungguh aku ingin hilang ingatan saat ini juga. Agar tak terbebani dengan semua ini.
"Oh Tuhan, apa salahku? Hingga semua ini Kau limpahkan padaku. Sungguh aku tidak tahan dengan semua ini."
Pikiranku melayang, beribu-ribu memory dalam otakku berlarian entah kemana. Sungguh aku ingin hilang ingatan saat ini juga. Agar tak terbebani dengan semua ini.
"Oh Tuhan, apa salahku? Hingga semua ini Kau limpahkan padaku. Sungguh aku tidak tahan dengan semua ini."
Aku mencoba
menutup mataku, tapi tetap saja tak bisa tidur. "Arrggg... Rese' banget
sih..." aku melampar bantal ke arah dinding kamarku. Bbuukk...
"Lama-lama aku bisa gilaaa..." aku berteriak dalam hati.
"Lama-lama aku bisa gilaaa..." aku berteriak dalam hati.
Tak terasa
ada sesuatu membasahi pipiku, sebuah cairan keluar dari mataku. Aku menangis
lagi. Entah sudah kesekian kalinya aku menangis seperti ini. Yang bisa aku
lakukan hanya menangis, dan menangis. Tak ada yang mengerti perasaanku, atau
mungkin belum ada yang bisa mengerti aku.
Lama-lama
kepalaku terasa berat, aku membenamkan kepalaku ke tempat tidur.
Setelah lama menangis, akhirnya akupun tertidur. Yap, ini sudah menjadi kebiasaanku akhir-akhir ini.
Setelah lama menangis, akhirnya akupun tertidur. Yap, ini sudah menjadi kebiasaanku akhir-akhir ini.
Pagi ini ku
terbangun, "Uuhh, pusing." aku merintih memegangi kepalaku. Aku
melihat ke arah jam dinding, "Oh No." mataku membola. Jam menunjukkan
pukul 4 pagi. Aku memejamkan mataku kembali, tiba-tiba ada memory yang berputar
di kepalaku.
"Gimana
nih ngerjainnya? Gue nggak bisa." aku memajukan bibirku.
"Ih, tuh
bibir ngegemesin banget. Pengen gua kucir deh Ren. Hahaha..." seseorang
meledekku.
"Adzam,
loe nyebelin banget sih. Loe enak jadi cowok nggak perlu kucir-kucir rambut,
nggak perlu bikin rok dari daun-daun nggak jelas kaya gini. Sumpah demi apapun
gue benci banget sama seniornya." ucapku kesal.
"Loe sih
jadi cewek." Adzam mengacak-acak poniku. "Tuhkan, loe bukannya
bantuin gue, malah ngeledek mulu." aku beranjak pergi karena kesal.
"Eh, eh,
kok ngambek sih? Ren, Renata..." adzam berteriak memanggilku. Tapi aku tak
menghiraukan Adzam, dia sangat menyebalkan hari ini. Ups, ralat dia selalu
menyebalkan setiap hari. Tapi dia juga selalu membuatku tersenyum setiap
harinya.
"Renata
Rasyafara Ziandra, bisa berhenti nggak loe!" teriak Adzam. Dia
menarik tanganku, karena terlalu keras aku terjatuh. Dan tak hanya itu, aku menyentuh
bagian yang seharusnya tak ku sentuh. Aku terjatuh menimpa Adzam, dan bibirku
bersentuhan dengan bibir Azdam.
Mataku
membola tak percaya. "Oh Tuhan, maafkan aku." ucapku dalam hati. Aku
segera berdiri, pipiku merah padam. Menahan amarah dan juga malu.
"Maaf."
kata Adzam dengan tampang inoncent-nya.
"Loe
tuh... Aarrggggg..." aku berlari meninggalkan Adzam.
Azdam
mengejarku, "Ren, Ren, maaf gue nggak sengaja." Aku berhenti dan berbalik arah, "Loe
jahat banget Adzamara Geonida Wijaya, itu tuh.. Aarrgg...Loe tau
sendirikan?" aku menangis.
Lalu Adzam
menarikku ke dalam pelukannya, "Iya gue tau, kita itu udah 15 taun bareng.
Maaf Ren, maaf, maaf." ucapnya.
Aku tetap
diam. "Sebagai permintaan maaf gue, gue bakalan bantuin elo bikin
rumbai-rumbai yang nggak penting itu. Gimana?" Aku melepaskan pelukannya, "Cuma
itu doank?"
"Terus
apaan lagi? Masa iya gue harus jadi pembokat loe." ucapnya.
"Selama
sebulan?" ucapku dan melipat kedua tanganku.
"Astaga…
Hah? Sebulan? Gila loe. Seminggu gue mau." ucapnya.
"Protes
jadi 2 bulan." ucapku ketus.
Adzam
menyatukan kedua alisnya, "Ok, fine. Sebulan gue jadi pembokat loe."
ucapnya kesal.
Senyumku
mengembang,"Hahaha, ok." Adzam
mengacak-acak poniku, "Gitu aja girang banget loe."
Hari itu
menjadi hari yang bersejarah bagiku. Terkadang aku bisa tertawa senidir jika
mengingatnya. Tapi kini semua itu hanya kenangan yang tak akan ku lupakan. Ku
lirik jam dindingku, pukul 05.30. Aku beranjak dari tempat tidurku. Kemudian
aku menyiapkan sarapan pagi.
Ketika aku
menyiapkan makanan, seseorang menghampiriku. Dia tersenyum padaku. Kakakku, Abimanyu
Raditya Ziandra. Dia melarangku untuk mngerjakan semua ini. Astaga, aku
ini bukan anak kecil lagi. Aku kesal melihat perlakuan kak Radit seperti ini.
Kak Radit mendekatiku,
dia mengamati wajahku cermat. Lalu ia menyatukan alisnya, “Kamu nangis lagi
ya?” kak Radit memegang kedua bahuku. Aku diam, menundukkan kepalaku. Tak ada
sepatah katapun yang aku ucapkan. Tak terasa butir-butir air mataku mengalir
deras membahasi pipiku.
“Ssttt..
udah-udah jangan nagis lagi. Kakak ada disini buat kamu. Kakak janji nggak
bakalan ninggalin kamu. Kakak sayang sama kamu Nata.” Ucap kak Radit lirih.
Di saat
seperti ini hanya kak Radit-lah yang memahami perasaanku.
“Kak…” ujarku
lirih. Kak Radit melepaskan dekapannya, “Iya, kenapa Nat?”
“Kakak nggak
kerja?” aku melirik kak Radit. “Astaga…” kak Radit menepuk keningnya, “Kakak
lupa Nata, ya udah kakak mandi dulu.” Ucap kak Radit.
Aku kembali
ke kamarku, merebahkan tubuh yang tak berdaya ini. Di saat seperti ini aku
hanya mengingat masa laluku. Bisa di bilang manis, mungkin juga pahit.
Kenapa "Untitled"? Jawaban saya cukup singkat, karena saya nggak tau harus kasih judul apa sama cerita yang satu ini. Maklum, abang-abang. *eh abal-abal maksudnyah. Dari dulu sampai sekarang, saya selalu bingung nentuin judul. Apapun bentuknya. Terus skripsinya gimana? Ahh.. masih lama skripsinyah. Tuh, kalo mau follow (¬˛ ¬") @EkaRahma28

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jangan langsung kabur! Ayo ketik sesuatu dulu di sini :)