Minggu, 03 Maret 2013

Untitled | Astaga | 1


Ingin rasanya aku pergi jauh dari semua ini. Melupakan kenangan-kenangan pahit yang pernah aku alami. "Huh... Selalu seperti ini, nggak pernah berubah." aku mendengus kesal. Menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur kesayanganku. 

Pikiranku melayang, beribu-ribu memory dalam otakku berlarian entah kemana. Sungguh aku ingin hilang ingatan saat ini juga. Agar tak terbebani dengan semua ini. 
"Oh Tuhan, apa salahku? Hingga semua ini Kau limpahkan padaku. Sungguh aku tidak tahan dengan semua ini." 

Aku mencoba menutup mataku, tapi tetap saja tak bisa tidur. "Arrggg... Rese' banget sih..." aku melampar bantal ke arah dinding kamarku.
Bbuukk...
"Lama-lama aku bisa gilaaa..." aku berteriak dalam hati. 
Tak terasa ada sesuatu membasahi pipiku, sebuah cairan keluar dari mataku. Aku menangis lagi. Entah sudah kesekian kalinya aku menangis seperti ini. Yang bisa aku lakukan hanya menangis, dan menangis. Tak ada yang mengerti perasaanku, atau mungkin belum ada yang bisa mengerti aku. Lama-lama kepalaku terasa berat, aku membenamkan kepalaku ke tempat tidur. Setelah lama menangis, akhirnya akupun tertidur. Yap, ini sudah menjadi kebiasaanku akhir-akhir ini. 
Ingin rasanya aku pergi jauh dari semua ini. Melupakan kenangan-kenangan pahit yang pernah aku alami. "Huh... Selalu seperti ini, nggak pernah berubah." aku mendengus kesal. Menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur kesayanganku. 
Pikiranku melayang, beribu-ribu memory dalam otakku berlarian entah kemana. Sungguh aku ingin hilang ingatan saat ini juga. Agar tak terbebani dengan semua ini. 
"Oh Tuhan, apa salahku? Hingga semua ini Kau limpahkan padaku. Sungguh aku tidak tahan dengan semua ini." 
Aku mencoba menutup mataku, tapi tetap saja tak bisa tidur. "Arrggg... Rese' banget sih..." aku melampar bantal ke arah dinding kamarku. Bbuukk... 
"Lama-lama aku bisa gilaaa..." aku berteriak dalam hati. 
Tak terasa ada sesuatu membasahi pipiku, sebuah cairan keluar dari mataku. Aku menangis lagi. Entah sudah kesekian kalinya aku menangis seperti ini. Yang bisa aku lakukan hanya menangis, dan menangis. Tak ada yang mengerti perasaanku, atau mungkin belum ada yang bisa mengerti aku.
Lama-lama kepalaku terasa berat, aku membenamkan kepalaku ke tempat tidur. 
Setelah lama menangis, akhirnya akupun tertidur. Yap, ini sudah menjadi kebiasaanku akhir-akhir ini. 
Pagi ini ku terbangun, "Uuhh, pusing." aku merintih memegangi kepalaku. Aku melihat ke arah jam dinding, "Oh No." mataku membola. Jam menunjukkan pukul 4 pagi. Aku memejamkan mataku kembali, tiba-tiba ada memory yang berputar di kepalaku. 


"Gimana nih ngerjainnya? Gue nggak bisa." aku memajukan bibirku. 
"Ih, tuh bibir ngegemesin banget. Pengen gua kucir deh Ren. Hahaha..." seseorang meledekku. 
"Adzam, loe nyebelin banget sih. Loe enak jadi cowok nggak perlu kucir-kucir rambut, nggak perlu bikin rok dari daun-daun nggak jelas kaya gini. Sumpah demi apapun gue benci banget sama seniornya." ucapku kesal. 
"Loe sih jadi cewek." Adzam mengacak-acak poniku. "Tuhkan, loe bukannya bantuin gue, malah ngeledek mulu." aku beranjak pergi karena kesal. 
"Eh, eh, kok ngambek sih? Ren, Renata..." adzam berteriak memanggilku. Tapi aku tak menghiraukan Adzam, dia sangat menyebalkan hari ini. Ups, ralat dia selalu menyebalkan setiap hari. Tapi dia juga selalu membuatku tersenyum setiap harinya. 
"Renata Rasyafara Ziandra, bisa berhenti nggak loe!" teriak Adzam. Dia menarik tanganku, karena terlalu keras aku terjatuh. Dan tak hanya itu, aku menyentuh bagian yang seharusnya tak ku sentuh. Aku terjatuh menimpa Adzam, dan bibirku bersentuhan dengan bibir Azdam. 
Mataku membola tak percaya. "Oh Tuhan, maafkan aku." ucapku dalam hati. Aku segera berdiri, pipiku merah padam. Menahan amarah dan juga malu.
"Maaf." kata Adzam dengan tampang inoncent-nya.
"Loe tuh... Aarrggggg..." aku berlari meninggalkan Adzam. 
Azdam mengejarku, "Ren, Ren, maaf gue nggak sengaja." Aku berhenti dan berbalik arah, "Loe jahat banget Adzamara Geonida Wijaya, itu tuh.. Aarrgg...Loe tau sendirikan?" aku menangis. 
Lalu Adzam menarikku ke dalam pelukannya, "Iya gue tau, kita itu udah 15 taun bareng. Maaf Ren, maaf, maaf." ucapnya. 
Aku tetap diam. "Sebagai permintaan maaf gue, gue bakalan bantuin elo bikin rumbai-rumbai yang nggak penting itu. Gimana?" Aku melepaskan pelukannya, "Cuma itu doank?" 
"Terus apaan lagi? Masa iya gue harus jadi pembokat loe." ucapnya. 
"Selama sebulan?" ucapku dan melipat kedua tanganku. 
"Astaga… Hah? Sebulan? Gila loe. Seminggu gue mau." ucapnya. 
"Protes jadi 2 bulan." ucapku ketus. 
Adzam menyatukan kedua alisnya, "Ok, fine. Sebulan gue jadi pembokat loe." ucapnya kesal. 
Senyumku mengembang,"Hahaha, ok." Adzam mengacak-acak poniku, "Gitu aja girang banget loe."

Hari itu menjadi hari yang bersejarah bagiku. Terkadang aku bisa tertawa senidir jika mengingatnya. Tapi kini semua itu hanya kenangan yang tak akan ku lupakan. Ku lirik jam dindingku, pukul 05.30. Aku beranjak dari tempat tidurku. Kemudian aku menyiapkan sarapan pagi.
Ketika aku menyiapkan makanan, seseorang menghampiriku. Dia tersenyum padaku. Kakakku, Abimanyu Raditya Ziandra. Dia melarangku untuk mngerjakan semua ini. Astaga, aku ini bukan anak kecil lagi. Aku kesal melihat perlakuan kak Radit seperti ini.
Kak Radit mendekatiku, dia mengamati wajahku cermat. Lalu ia menyatukan alisnya, “Kamu nangis lagi ya?” kak Radit memegang kedua bahuku. Aku diam, menundukkan kepalaku. Tak ada sepatah katapun yang aku ucapkan. Tak terasa butir-butir air mataku mengalir deras membahasi pipiku.
“Ssttt.. udah-udah jangan nagis lagi. Kakak ada disini buat kamu. Kakak janji nggak bakalan ninggalin kamu. Kakak sayang sama kamu Nata.” Ucap kak Radit lirih.
Di saat seperti ini hanya kak Radit-lah yang memahami perasaanku.

“Kak…” ujarku lirih. Kak Radit melepaskan dekapannya, “Iya, kenapa Nat?”
“Kakak nggak kerja?” aku melirik kak Radit. “Astaga…” kak Radit menepuk keningnya, “Kakak lupa Nata, ya udah kakak mandi dulu.” Ucap kak Radit.

Aku kembali ke kamarku, merebahkan tubuh yang tak berdaya ini. Di saat seperti ini aku hanya mengingat masa laluku. Bisa di bilang manis, mungkin juga pahit.



Kenapa "Untitled"? Jawaban saya cukup singkat, karena saya nggak tau harus kasih judul apa sama cerita yang satu ini. Maklum, abang-abang. *eh abal-abal maksudnyah. Dari dulu sampai sekarang, saya selalu bingung nentuin judul. Apapun bentuknya. Terus skripsinya gimana? Ahh.. masih lama skripsinyah. Tuh, kalo mau follow (¬˛ ¬") @EkaRahma28

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan langsung kabur! Ayo ketik sesuatu dulu di sini :)