“Pehatian-perhatian!”
seorang senior laki-laki berteriak melalui meghaphone yang dibawanya. Semua
peserta MOS segera berlari menuju sumber suara. Mereka segera berbaris, dan
diam tak bersuara. Mereka tidak ingin mencari masalah dengan senior mereka.
Termasuk aku.
Walaupun
dalam hati, aku menyumpahi seniorku agar mereka jatuh dalam jurang kematian dan
tak pernah kembali lagi. Hahaha… sadis dan kejam sekali aku ini.
Aku sungguh
kesal dengan mereka, peserta MOS di suruh memakai rumbai-rumbai dari daun pohon
kelapa yang berwarna hijau muda. Jumlahnya harus sesuai dengan 2 digit angka
terakhir dari tahun kelahirannya.
Sangat
menyebalkan tugas MOS kali ini, aku sampai setengah mati mencarinya dengan kak
Radit.
Tiba-tiba
tubuhku terasa gatal dan muncul bintik-bintik merah. Karena tak tahan aku
menggaruknya, dan tak menghiraukan senior yang berada di depan.
“Eh.. loe yang
garuk-garuk. Sini!” bentak seorang senior pria menampakan muka garangnya. Semua
mata tertuju ke arahku.
“Mampus,
tamat riwayat gue.” Ucapku lirih.
“Loe budek
ya? Sini nggak loe! Cepetan!” bentak senior itu semakin garang.
“I…ya kak.”
Aku berjalan menghampiri iblis-iblis ups… maksudnya aku berjalan menuju
senior-senior yang siap memangsaku.
Dag… dig…
dug…
Jantungku
berdetak cepat, aku melihat muka-muka garang mereka. Keringatku mengalir deras.
Dan sekarang, mereka di depan mataku.
“Loe anak
baru kenapa nggak bisa diem? Nama loe siapa?” bentak senior laki-laki.
“Ren… Renata
kak.” Ucapku terbata-bata.
“Nama di
kokat loe bego’, bukan nama asli loe.” Bentak salah satu senior wanita tak
kalah kencangnya.
“Nam… nama
saya bebek kak.” Ucapku ketakutan. Yap, saat itu nama di kokatku adalah
“Bebek”, peserta MOS harus mempunya nama salah satu binatang yang ada di dunia.
“Loe bebek,
kenapa tadi nggak bisa diem?” tanya senior laki-laki itu dengan membentak.
“Mungkin saya
alergi daun kelapa kak. Makanya saya garuk-garuk nggak jelas kaya gini kak.”
Jelasku. Sungguh saat itu aku sangat bodoh sekali. Kenapa kalimatbodoh itu yang
keluar dari mulutku.
“Alaaa…
alesan. Dasar junior manja.” Ucap senior wanita tadi dan mendorongku.
Mereka berdua
berbisik, ku lirik name tag yang berkalung
di leher mereka. “Arya” dan “Liona” aku tak tau lengkapnya. Karena
ketika ingin menyelesaikan kalimat yang ku baca mereka berdua telah selesai
berbisik. Mereka tersenyum licik, dan menatapku dengan tatapan pembunuh.
“Karena tadi
loe nggak bisa diem dan nggak sopan, kita akan kasih hukuman ke elo.” Ujar kak
Liona.
“Loe keliling
lapangan 5 kali.” Ucap kak Arya.
“Eh, dikit
amat? Nggak-nggak, 10 kali.” Protes kak Liona.
“Udah 5 kali
aja, entar kalo mantan tercinta loe tau kita juga yang kena.” Ucap kak Arya
berbisik kepada kak Liona, tapi masih terdengar olehku. Kak Liona memanyunkan
bibirnya.
“Kenapa
bengong? Cepetan lari…!” bentak kak Arya.
Karena
refleks, aku langsung berlari mengelilingi lapangan yang cukup luas ini.
Sungguh sial nasibku pada saat itu. Pada putaran kedua, aku melirik kea rah
para senior. Mereka mengintrogasi salah satu junior. MOS ? Masa Otoritas
Senior. Benarkan?
Setelah lama
berlari, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Seseorang mengikutiku, aku menoleh
ke belakang. Betapa tekejutnya aku, dia Adzam. Adzam tersenyum ke arahku,
kemudian dia menyetarakan langkah larinya denganku.
“Udah nggak
usah kaget kaya gitu, gue nggak tega liat loe sendirian di hokum. Jadi gue
bikin kesalahan biar bisa nemenin loe. Bersikap biasa aja ok?” ucapnya
tersenyum.
Aku
mengangguk, dalam hati aku berkata “Love you so much Adzam. Hahahaha.”.
walaupun terkadang Adzam sangat menyebalkan, dia sangat baik dan sangat
menyayangiku. Dia kakak keduaku. Dia rela berkorban untukku, begitupun aku.
Saat putaran
ke empat tubuhku terasa gatal dan panas. Kepalaku terasa berat. Tak hanya itu,
nafasku tak beraturan karena sesak. Aku menoleh kea rah Adzam, aku melihat
bayangan tubuh Adzam. “Adzam…” ucapku lirih dengan memegangi kepalaku. Adzam
menoleh ke arahku dan bruuuk… semuanya menjadi gelap.
Aaarrgghhh…
aku memegangi kepalaku, ku lihat sekelilingku. “Aku ada dimana?” tanyaku dalam
hati. Tak lama kemudian seseorang muncul, dia sangat tampan. Dia tersenyum
kepadaku. Sungguh senyumnya sangat manis. Aku membalas seyumannya. Sepertinya
dia juga senior, karena dia memakai name
tag yang sama seperti panitia yang lain.
“Syukurlah
kamu udah sadar. Masih sakit nggak?” dia bertanya lembut dan tetap tersenyum.
“Udah enakan
kok kak. Kok saya bisa disini ya kak?” tanyaku heran.
“Kamu tadi
pingsan, jadi saya sama senior yang lain bawa kamu ke UKS.” Ujarnya tersenyum.
Aku hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.
“Oh ya, kakak
boleh tanya?” dia tersenyum. Jika dia sampai tersenyum lagi, aku akan terbang
ke angkasa karena senyumnya yang manis itu. Hust, Renata… jangan ngaco kamu.
Aku tersadar
dari lamunanku, “Ups, eh… mau tanya apa ya kak? Boleh kok.” Aku membalas
senyumannya.
“Mau tanya,
kenapa kamu sampai di hukum kaya gitu? Tadi Arya sama Liona bilang kalau kamu
nggak bisa diem waktu baris. Benarkah itu?” tanyanya perlahan.
“Oh soal itu.
Iya kak maaf. Tadi tiba-tiba badan saya gatal, jadi saya garuk-garuk nggak
jelas. Sepertinya saya alergi sama daun kelapa kak. Dan karena saya tadi kurang
beruntung, kak Arya sama kak Liona tau. Alhasil saya dihukum deh.” ucapku
“Oh gitu,
berarti mereka udah salah. Biar nanti aku tegur mereka semua. Kamu tenang aja.”
Ucapnya.
“Nggak usah
kak, saya dah nggak kenapa-kenapa kok. Nanti di kiranya saya ngadu sama kakak.
Saya nggak mau cari masalah disini.” Ucapku merengek. Padahal ucapan itu sangat
bertolak belakang dengan hatiku. “Hahahaha… rasakan hukumannya.” Aku berteriak
dalam hati.
“Um…
nama kamu siapa? Aku...."
Tetoottttt... udah sampe sini ajah. Nggak usah banyak-banyak. Tuh, kalo mau follow @EkaRahma28_

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jangan langsung kabur! Ayo ketik sesuatu dulu di sini :)