Minggu, 03 Maret 2013

Untitled | Pertemuan | 2



“Pehatian-perhatian!” seorang senior laki-laki berteriak melalui meghaphone yang dibawanya. Semua peserta MOS segera berlari menuju sumber suara. Mereka segera berbaris, dan diam tak bersuara. Mereka tidak ingin mencari masalah dengan senior mereka. Termasuk aku.

Walaupun dalam hati, aku menyumpahi seniorku agar mereka jatuh dalam jurang kematian dan tak pernah kembali lagi. Hahaha… sadis dan kejam sekali aku ini.
Aku sungguh kesal dengan mereka, peserta MOS di suruh memakai rumbai-rumbai dari daun pohon kelapa yang berwarna hijau muda. Jumlahnya harus sesuai dengan 2 digit angka terakhir dari tahun kelahirannya.
Sangat menyebalkan tugas MOS kali ini, aku sampai setengah mati mencarinya dengan kak Radit.
Tiba-tiba tubuhku terasa gatal dan muncul bintik-bintik merah. Karena tak tahan aku menggaruknya, dan tak menghiraukan senior yang berada di depan.
“Eh.. loe yang garuk-garuk. Sini!” bentak seorang senior pria menampakan muka garangnya. Semua mata tertuju ke arahku.
“Mampus, tamat riwayat gue.” Ucapku lirih.
“Loe budek ya? Sini nggak loe! Cepetan!” bentak senior itu semakin garang.
“I…ya kak.” Aku berjalan menghampiri iblis-iblis ups… maksudnya aku berjalan menuju senior-senior yang siap memangsaku.
Dag… dig… dug…
Jantungku berdetak cepat, aku melihat muka-muka garang mereka. Keringatku mengalir deras. Dan sekarang, mereka di depan mataku.
“Loe anak baru kenapa nggak bisa diem? Nama loe siapa?” bentak senior laki-laki.
“Ren… Renata kak.” Ucapku terbata-bata.
“Nama di kokat loe bego’, bukan nama asli loe.” Bentak salah satu senior wanita tak kalah kencangnya.
“Nam… nama saya bebek kak.” Ucapku ketakutan. Yap, saat itu nama di kokatku adalah “Bebek”, peserta MOS harus mempunya nama salah satu binatang yang ada di dunia.
“Loe bebek, kenapa tadi nggak bisa diem?” tanya senior laki-laki itu dengan membentak.
“Mungkin saya alergi daun kelapa kak. Makanya saya garuk-garuk nggak jelas kaya gini kak.” Jelasku. Sungguh saat itu aku sangat bodoh sekali. Kenapa kalimatbodoh itu yang keluar dari mulutku.
“Alaaa… alesan. Dasar junior manja.” Ucap senior wanita tadi dan mendorongku.
Mereka berdua berbisik, ku lirik name tag yang berkalung di leher mereka. “Arya” dan “Liona” aku tak tau lengkapnya. Karena ketika ingin menyelesaikan kalimat yang ku baca mereka berdua telah selesai berbisik. Mereka tersenyum licik, dan menatapku dengan tatapan pembunuh.
“Karena tadi loe nggak bisa diem dan nggak sopan, kita akan kasih hukuman ke elo.” Ujar kak Liona.
“Loe keliling lapangan 5 kali.” Ucap kak Arya.
“Eh, dikit amat? Nggak-nggak, 10 kali.” Protes kak Liona.
“Udah 5 kali aja, entar kalo mantan tercinta loe tau kita juga yang kena.” Ucap kak Arya berbisik kepada kak Liona, tapi masih terdengar olehku. Kak Liona memanyunkan bibirnya.
“Kenapa bengong? Cepetan lari…!” bentak kak Arya.
Karena refleks, aku langsung berlari mengelilingi lapangan yang cukup luas ini. Sungguh sial nasibku pada saat itu. Pada putaran kedua, aku melirik kea rah para senior. Mereka mengintrogasi salah satu junior. MOS ? Masa Otoritas Senior. Benarkan?

Setelah lama berlari, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Seseorang mengikutiku, aku menoleh ke belakang. Betapa tekejutnya aku, dia Adzam. Adzam tersenyum ke arahku, kemudian dia menyetarakan langkah larinya denganku.
“Udah nggak usah kaget kaya gitu, gue nggak tega liat loe sendirian di hokum. Jadi gue bikin kesalahan biar bisa nemenin loe. Bersikap biasa aja ok?” ucapnya tersenyum.
Aku mengangguk, dalam hati aku berkata “Love you so much Adzam. Hahahaha.”. walaupun terkadang Adzam sangat menyebalkan, dia sangat baik dan sangat menyayangiku. Dia kakak keduaku. Dia rela berkorban untukku, begitupun aku.
Saat putaran ke empat tubuhku terasa gatal dan panas. Kepalaku terasa berat. Tak hanya itu, nafasku tak beraturan karena sesak. Aku menoleh kea rah Adzam, aku melihat bayangan tubuh Adzam. “Adzam…” ucapku lirih dengan memegangi kepalaku. Adzam menoleh ke arahku dan bruuuk… semuanya menjadi gelap.

Aaarrgghhh… aku memegangi kepalaku, ku lihat sekelilingku. “Aku ada dimana?” tanyaku dalam hati. Tak lama kemudian seseorang muncul, dia sangat tampan. Dia tersenyum kepadaku. Sungguh senyumnya sangat manis. Aku membalas seyumannya. Sepertinya dia juga senior, karena dia memakai name tag yang sama seperti panitia yang lain.
“Syukurlah kamu udah sadar. Masih sakit nggak?” dia bertanya lembut dan tetap tersenyum.
“Udah enakan kok kak. Kok saya bisa disini ya kak?” tanyaku heran.
“Kamu tadi pingsan, jadi saya sama senior yang lain bawa kamu ke UKS.” Ujarnya tersenyum. Aku hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.
“Oh ya, kakak boleh tanya?” dia tersenyum. Jika dia sampai tersenyum lagi, aku akan terbang ke angkasa karena senyumnya yang manis itu. Hust, Renata… jangan ngaco kamu.
Aku tersadar dari lamunanku, “Ups, eh… mau tanya apa ya kak? Boleh kok.” Aku membalas senyumannya.
“Mau tanya, kenapa kamu sampai di hukum kaya gitu? Tadi Arya sama Liona bilang kalau kamu nggak bisa diem waktu baris. Benarkah itu?” tanyanya perlahan.
“Oh soal itu. Iya kak maaf. Tadi tiba-tiba badan saya gatal, jadi saya garuk-garuk nggak jelas. Sepertinya saya alergi sama daun kelapa kak. Dan karena saya tadi kurang beruntung, kak Arya sama kak Liona tau. Alhasil saya dihukum deh.” ucapku
“Oh gitu, berarti mereka udah salah. Biar nanti aku tegur mereka semua. Kamu tenang aja.” Ucapnya.
“Nggak usah kak, saya dah nggak kenapa-kenapa kok. Nanti di kiranya saya ngadu sama kakak. Saya nggak mau cari masalah disini.” Ucapku merengek. Padahal ucapan itu sangat bertolak belakang dengan hatiku. “Hahahaha… rasakan hukumannya.” Aku berteriak dalam hati.
“Um… nama kamu siapa? Aku...."












Tetoottttt... udah sampe sini ajah. Nggak usah banyak-banyak. Tuh, kalo mau follow @EkaRahma28_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan langsung kabur! Ayo ketik sesuatu dulu di sini :)