Sabtu, 02 Maret 2013

Antara Cinta dan Sahabat | Arya | 1




Dimana aku? Aku merasa bingung, “Maju tak mungkin mundur tak bisa”. Sedangkan aku selalu memimpikannya, merindukannya, dan parahnya “Aku begitu mencintainya”. Tapi aku sendiri bingung seperti apa perasaannya padaku. Entah kenapa aku selalu jatuh dalam masalah cinta yang menyebalkan begini. Mencintai seseorang yang hatinya telah dikurung oleh hati lain dan tak bisa memahami seperti apa perasaannya kepadaku. Terkadang aku dan dia tersenyum bersama dan berjalan bersama. Kadang “Aku begitu ingin pergi jauh darinya”. Aku takut cinta ini semakin dalam menggali relung hati. Tapi dia “Selalu mencegahku”. Saat sedikit demi sedikit aku masuk ke kehidupannya. Aku mulai sadar, dia sudah memiliki apa yang dia miliki. “Mundur tak bisa, maju tak mungkin”Kau mampu mengunci jiwa ini di tengah kehidupanmu yang kadang menggores hati ini. Saat ku lihat dirinya bersama dirimu, kadang aku begitu mengerti dan tak mengerti “Antara Cinta dan Sahabat”. KATAKANLAH! “AKU INI APA DI HIDUPMU?”.
***

Pagi ini begitu cerah dan indah, seperti dirinya yang selalu terlihat indah di mataku. Mentari yang bersinar terang, seperti mata bulatnya yang selalu mencerahkan hariku. Udara yang begitu sejuk, seperti senyumnya yang selalu mendaimaikan hatiku. Tak pernah sedikitpun aku ingin melukainya, mencampakkannya, atau meninggalkannya. Aku selalu ingin berada di sampingnya, menemani setiap langkahnya, dan selalu ingin menjadi orang yang pertama untuk menjadi sandarannya ketika dia sedih. Tapi tak selamanya yang kita inginkan berjalan seperti apa yang kita harapkan, takdir berkata lain.
Wanita itu adalah Rara, “Rara Ziandra” sahabatku. Yeah, sahabat tak lebih. Tapi aku selalu menginginkan lebih dari itu. Aku ingin dia yang menjadi pendampingku kelak, tapi apa daya lidah ini kelu setiap aku ingin mengatakan “Aku Begitu Mencintaimu”. Hanya tiga kata dan tak lebih. Tapi tetap saja aku tak bisa mengatakan itu.

Dia sangat menyayangi kedua orang tuaku. Mungkin karena kita bertetangga, tapi ku rasa tidak. Dia selalu menyayangi semua orang yang berada di dekatnya. Begitu juga aku, tapi hanya sebagai sahabat tak lebih.
Aduh… dari tadi aku menghayal saja. Ku lirik jam tanganku, pukul 07.50. “Oh damn, dosen bakal ngamuk nih.” Ku sambar Tas kesayanganku, serta mengenakan sepatuku dengan kilat. Lalu aku menghampiri kedua orang tuaku, mencium tangannya dan pergi.
Ketika sampai di luar rumah, sejenak aku teringat dia. Wanita yang selalu membuat aku tersenyum di pagi hari. Serta wanita yang selalu marah padaku ketika aku telat berangkat sekolah.
***
#DearYou Kamu adalah semata rindu itu
Rindu. Satu-satunya kemewahan yang kumiliki ada padamu, titik!
Selalu ingin kuberi dan tak ingin kuingkari.
Pada larik-lariknya, aku bisa berkaca tentang dambaku yang merajuk senyap, dan memendarkan getar pesakitan.
Setia tergopoh berlari ke arahmu, kapanpun itu.
Adalah semata dirimu yangmembuat diriku menjadi luar biasa.
Adalah rekah tawa dan lebam tangis yang membuat kebersamaan kitaselama ini menjadi berharga dan bermakana.
Adalah dirimu, semata sebab yang menghadirkan bahagiaku berlinangair mata.


Pagi itu saat aku keluar rumah, ku lihat wanita berkacak pinggang ke arahku. Mukanya terlihat sangat marah. Dan bibirnya, ahh sungguh menggelikan. Tak kuasa aku menahan tawa melihat wanita itu, dia ehem… sahabatku, Rara.
“Nggak usah senyam – senyum, nggak merasa bersalah banget sih lo. Gua masuk 15 menit lagi. Elo enak masih 30 menit lagi.” Rara memanyunkan bibirnya. Ciri khas yang selalu ia keluarkan ketika dia kesal.
“Iya-iya maaf. Maaf yah Beeiibb…” kataku menggodanya.
Dia menyambar helm yang berada di tanganku, lalu memakainya. Aku tau dia sangat marah. “Arya hari ini kau berhutang padanya.” Ucapku dalam hati. Di sepanjang perjalanan ke sekolahnya, dia hanya diam saja. Akupun tak berani mengajaknya bicara. Karena nanti akan memperkeruh keadaan, sudah menjadi kebiasaan dia. Dia akan diam ketika marah. Bukan hanya itu, dia akan saangat diam ketika dia lapar. Haha… sungguh aneh sifat manusia satu ini. Seseorang yang sangat aku kagumi, kusayangi, dan kucintai.
Memory hari-hariku bersamanya dulu, tak akan pernah kulupakan.

#DearYou  Kau selalu kunanti, meski tiada hadirmu di sini, di pelukku.
Meski aku hanya bisa memuaskan dahaga rinduku dengan memori tentang dirimu.
Datanglah… datanglah segera ke peraduan cinta kita

Sosok Rara begitu mengubah hidupku, mengubah gaya hidpku yang dulunya seorang playboy dan err… preman menjadi seseorang yang lebih baik. Hanya dia yang mengerti aku. Semangat hidupnya yang tak gentar membuatku sangat mengaguminya. Tak dapat ku pungkiri, tak sedikit kaum Adam jatuh hati padanya. Termasuk sahabatku, Adrian. Beda dengan Adrian, dia lebih berani mengambil keputusan. Yah… dia pernah menyatakan cintanya pada Rara. Tapi sayang, sebelum Rara menjawab pertanyaan Adrian “Apakah Rara mau menjadi kekasihnya” Adrian telah menjadi kekasih orang lain. Dasar, dia tak sabar menunggu Rara. Tak sabar seperti aku yang selalu setia menunggunya. Walaupun kemungkinan itu sangat tidak mungkin untuk terjadi.
Alasan Adrian mencari kekasih lain di karenakan Rara terlalu lama memberikan jawaban. “Hey Adrian, apa lo lupa kalo Rara abis putus sama pacarnya?”. Penyebab putusnya hubungan Rara dengan mantan pacarnya itu karena adanya pihak ketiga. Rara berselingkuh? Bukan. Dia menyelingkuhi Rara? Ya. Lelaki tak tau di untung itu menyelingkuhi Rara. Jika aku menjadi kekasihnya, aku tak akan pernah melakukan hal bodoh seperti itu. Aku akan menjadikan Rara sebagai “Number one in my life”. Tapi, kembali ke keadaan semula. Takdir berkata lain, aku ini sahabatnya.

Beberapa bulan kemudian, Rara dekat dengan seorang cowok. Katanya, dia teman SMA-nya. Sebernarnya mereka dulu dari SMP yang sama, tapi Rara tak pernah bertegur sapa dengannya. Karena Rara dulu sangat benci dengan dia, kata Rara mukanya sadis dan galak. Tapi ketika dia mengenalnya, ternyata dia seseorang yang cukup gila dan selalu membuat orang-orang di sekitarnya tertawa ketika melihat tingkah lakunya. Seperti err… pujaan hatiku, Rara.
Di saat yang sama, hatiku terasa perih mendengarkan segala curhatannya tentang cowok itu, his name is Rafi. Tapi apa daya aku harus mendengarkannya. Aku tak ingin membuatnya sedih. Setelah aku bertemu dengan  Rafi, menurutku dia memang lebih pantas bersanding dengan Rara. Dia sukup smart, good looking,dan selalu bisa membuat orang tertawa. Dia pintar sekali mengatur emosinya. Pantas saja Rara jatuh hati padanya.

Hatiku kembali rapuh setelah mendengar Rara mempunyai kekasih lagi, Rafi. Untuk kesekian kalinya aku merasakan hal yang sama. Selalu pedih jika melihat Rara bersama orang lain, Rafi. Walaupun aku tak satu sekolah dengan Rara, rasa perih itu selalu muncul ketika Rafi ke rumahnya.
Karena tak tahan dengan keadaan yang selalu seperti ini, kali ini ku putuskan aku pergi meninggalkan Rara, menghilang dari kehidupannya. Aku meninggalkan kota Metropolitan ini yang telah membuat aku bahagia bersamanya, serta sangat sukses membuat hati ini rapuh (lagi).

Aku memulai kehidupan baruku di Bandung, sejenak mendamaikan hati ini. Aku sengaja tak memberitahu Rara. Aku tak mau melihatnya bersedih dan memohon padaku agar aku tak pergi. Tapi selama apapun aku menutupinya, dia akhirnya tau. Dia sangat marah padaku, ketika aku tiba-tiba menghilang. Ya Rara, ku mohon bencilah aku.
***
#DearYou Semoga aku bukan termasuk orang yang serakah jika selalu berharap kau di dekat hatiku,
Kapanpun itu.
Dalam labirin hatimu,
Aku masih kukuh berdiri.
Menanti!
Pergi atau… setia bernaung dalam mata beningmu.
Tiga tahun sudah aku meninggalkan Rara, dan itu tak mudah bagiku menjalani hari-hari tanpanya. Terbiasa hidup tanpa senyumnya, tanpa tawanya yang riang, serta semangatnya yang tak pernah padam.

Drrtt… ddrrtt… andai saja waktu itu tak ku tunda. Tuk ungkapkan isi hati kepadanya. Mungkin dia jadi milikku, bahagiakan hariku. Oh tetapi kenyataan tak begitu.

Handphone-ku bergetar, kuambil handphone dari sakuku. One message received. “Siapa nih pagi-pagi ganggu, nggak tau orang telat aja.” Lalu aku membuka pesan itu.

From : Rara_Beb
Jodoh itu rahasia Tuhan. Sekuat apa kita setia. Selama apa kita menunggu. Sekeras apa kita sabar. Sejujur apa kita menerima orang yang kita sayangi. Jika Tuhan tidak menulis JODOH kita dengan orang itu dengan kita, kita tetap TIDAK  AKAN BERSAMANYA. Be Positive.  Dan terimalah takdir-Nya. Karena tulang rusuk dan pemiiliknya tidak akan pernah tertukar dan akan bertemu pada saatnya nanti. 

Damn… kalimat ini nyindir gue.” Umpatku dalam hati, aku tak menghiraukan message darinya. Bukan karena malas, tapi karena keadaan tak mendukung. Kuliah masuk lima menit lagi.

Aku berlari menelusuri lorong kampus. Ketika sampai di kelas, seseorang berkumis berbadan tegap telah berdiri di depan kelas melihatku dengan sinisnya. Aku hanya cengar-cengir melihatnya.
“Hari ini alasan apalagi? Setiap mata kuliah saya kamu selalu telat Arya. Bagaimana bisa bangsa ini maju kalau anak muda sepertimu banyak di negeri ini?” beliau berkacak pinggang. Memperlihat muka sadisnya.
“Maaf Pak, saya memang sangat sulit bangun pagi. Kalau bapak mau menghukum saya, hukum saja saya. Saya menerima apapun keputusan bapak.” Kataku pada Pak Heri. Jujur tak ada Rara, kehidupanku berubah (lagi).
“Sudahlah, saya lelah menghukum kamu, cepat masuk dan ikuti mata kuliah saya.” Beliau menyuruhku masuk.
Fiuuhh… tumben banget nggak dihukum. Lalu aku masuk ke dalam kelas. Hey… wait. Ada yang duduk di kursiku. Siapa dia? Berani-beraninya dia menduduki kursiku. Aku melirik dia sinis. Mungkin dia tau apa yang ku maksud lalu dia berkata, “Kenapa liat-liat? Nggak suka gue duduk disini? Kursi masih banyak yang kosong. So, jangan suruh gue pindah.
Astaga, berani sekali dia. “Lo nggak tau apa gue siapa? Minggir…” sentakku.
“Kurang ajar banget lo nyuruh-nyuruh gue, emang lo siapa? Apa sebegitu pentingnya gue harus tau nama lo?” dia menatapku sinis.
“Hey kalian, jangan ribut saat mata kuliah saya sedang berlangsung. Arya, dia anak baru di kampus ini. Dan kamu Rheta, dia anak paling badung di kampus ini. Arya kamu cari tempat duduk lain saja. Dan kalian semua ikuti mata kuliah saya dengan baik.” Ucap Pak Heri. Oh God… kata-kata Pak Heri begitu menyebalkan.
Dengan berat hati aku menempati tempat duduk lain. Tunggu pembalasanku Rheta.
***
Satu bulan sudah aku menjalani hidup bersama wanita psikopat in, Rheta. Dia ternyata sangat gila. Dia wanita pertama yang berani melawanku di kampus ini. Saat itu aku menaruh tikus ke dalam tasnya, berharap dia akan terkejut dan takut akan hadiahku itu. Tapi dugaanku meleset, dia malah membelai-belai tubuh tikus itu. Mungkin dia tau kalau yang menaruh tikus itu ke dalam tasnya adalah aku, beberapa hari kemudian aku dibuatnya kesal. Celana kesayanganku menempel pada kursi Kampus. Dasar freak…
  Bukan Arya namanya kalau tak punya akal, aku membalasnya dengan siraman tepung pada ke esokan harinya. Sungguh aku sangat bahagia telah mengerjainya. Saat itu dia langsung pulang. Ku harap ia menangis dan suatu hari nanti dia akan bertekuk lutut padaku. Haha…

Sejak kejadian itu, Rheta tak masuk kuliah. Dimana dia? Ahh… akhirnya dia mengaku kalah. Aku tertawa jika mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.

Drrtt… ddrrtt… andai saja waktu itu tak ku tunda. Tuk ungkapkan isi hati kepadanya. Mungkin dia jadi milikku, bahagiakan hariku. Oh tetapi kenyataan tak begitu.

Handphoneku bergetar, one message received. Aku mengernyitkan alisku.

From : Rara_Beb
Arya, gue minta maaf atas semua kesalahan gue selama ini. Entah yang nggak di sengaja ataupun yang gue sengaja. Thanks Ar, lo udah buat hidup gue berwarna

“Sebelom lo minta maaf ke gue, gue udah maafin lo kalo punya salah Ra. Tapi yang ada di pikiran gue sekarang, emang lo punya salah apa sama gue? Sampe lo minta maaf minta maaf ke gue segala.” kataku dalam hati. Aku tak menghiraukan message  darinya. Aku mengambil kunci  alphard  hitam yang berada di saku celana lalu membuka pintunya. Setelah terbuka aku langsung masuk ke dalam alphard­-ku.
Bbrreesss… sebuah kantung plastik berisi cairan yang berbau sangat busuk tak sengaja ku duduki. Ternyata tak hanya cairan yang berbau busuk dan sangat amis ini yang berada dalam kantung plastik itu. Ketika aku sedikit berdiri, terbanglah lalat-lalat yang menjijikan dalam mobilku. Aarrggg… sialan, pasti ulah gadis psikopat itu lagi.

Lengkaplah penderitaanku hari ini, aku terpaksa naik Taxi karena ban mobilku bocor. Dan untuk menghilangkan bau busuk di badanku ini, aku harus mandi 7 kali, 5 kali creambath serta spa 3 kali. Psikopat itu lagi, arrggg…
***
Pagi ini aku berniat membalasnya. Tanganku menggengggam satu toples yang berisi telur ayam yang telah ku kocok tadi malam. Aku ingin cewek psikopat itu merasakan penderitaanku kemarin. “Itu dia.” Kataku. Aku menghampirinya ke kantin kampus dan… brruuss… cairan yang berbau amis ini menyiram tubuhnya.
Dia terkejut melihat kelakuanku ini, “Eh… cowok psikopat, salah gue apa sih sama lo sampe-sampe lo benci banget sama gue?” dia berteriak.
“Mau tau salah lo? Banyak. Lo udah masuk dan ganggu hidup gue.” Ucapku santai.

Tak ada jawaban darinya, ku lihat dia sangat marah karena ulahku ini. Mukanya merah padam. Kemudian dia menyambar jus yang berada di mejanya lalu menyiram jus itu ke wajahku. Aku geram, tanganku hendak menampar mukanya. Dan…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan langsung kabur! Ayo ketik sesuatu dulu di sini :)