Dimana aku? Aku merasa bingung, “Maju tak mungkin mundur tak bisa”. Sedangkan aku selalu memimpikannya, merindukannya, dan parahnya “Aku begitu mencintainya”. Tapi aku sendiri bingung seperti apa perasaannya padaku. Entah kenapa aku selalu jatuh dalam masalah cinta yang menyebalkan begini. Mencintai seseorang yang hatinya telah dikurung oleh hati lain dan tak bisa memahami seperti apa perasaannya kepadaku. Terkadang aku dan dia tersenyum bersama dan berjalan bersama. Kadang “Aku begitu ingin pergi jauh darinya”. Aku takut cinta ini semakin dalam menggali relung hati. Tapi dia “Selalu mencegahku”. Saat sedikit demi sedikit aku masuk ke kehidupannya. Aku mulai sadar, dia sudah memiliki apa yang dia miliki. “Mundur tak bisa, maju tak mungkin”Kau mampu mengunci jiwa ini di tengah kehidupanmu yang kadang menggores hati ini. Saat ku lihat dirinya bersama dirimu, kadang aku begitu mengerti dan tak mengerti “Antara Cinta dan Sahabat”. KATAKANLAH! “AKU INI APA DI HIDUPMU?”.
***
Pagi ini begitu cerah dan indah, seperti
dirinya yang selalu terlihat indah di mataku. Mentari yang bersinar terang,
seperti mata bulatnya yang selalu mencerahkan hariku. Udara yang begitu sejuk,
seperti senyumnya yang selalu mendaimaikan hatiku. Tak pernah sedikitpun aku
ingin melukainya, mencampakkannya, atau meninggalkannya. Aku selalu ingin
berada di sampingnya, menemani setiap langkahnya, dan selalu ingin menjadi
orang yang pertama untuk menjadi sandarannya ketika dia sedih. Tapi tak
selamanya yang kita inginkan berjalan seperti apa yang kita harapkan, takdir
berkata lain.
Wanita itu adalah Rara, “Rara
Ziandra” sahabatku. Yeah, sahabat tak lebih. Tapi aku selalu
menginginkan lebih dari itu. Aku ingin dia yang menjadi pendampingku kelak,
tapi apa daya lidah ini kelu setiap aku ingin mengatakan “Aku Begitu
Mencintaimu”. Hanya tiga kata dan tak lebih. Tapi tetap saja aku tak bisa
mengatakan itu.
Dia sangat menyayangi kedua orang tuaku.
Mungkin karena kita bertetangga, tapi ku rasa tidak. Dia selalu menyayangi
semua orang yang berada di dekatnya. Begitu juga aku, tapi hanya sebagai
sahabat tak lebih.
Aduh… dari tadi aku menghayal saja. Ku
lirik jam tanganku, pukul 07.50. “Oh damn, dosen bakal ngamuk nih.”
Ku sambar Tas kesayanganku, serta mengenakan sepatuku dengan kilat. Lalu aku
menghampiri kedua orang tuaku, mencium tangannya dan pergi.
Ketika sampai di luar rumah, sejenak aku
teringat dia. Wanita yang selalu membuat aku tersenyum di pagi hari. Serta
wanita yang selalu marah padaku ketika aku telat berangkat sekolah.
***
#DearYou Kamu adalah semata rindu
itu
Rindu. Satu-satunya kemewahan yang
kumiliki ada padamu, titik!
Selalu ingin kuberi dan tak ingin
kuingkari.
Pada larik-lariknya, aku bisa berkaca
tentang dambaku yang merajuk senyap, dan memendarkan getar pesakitan.
Setia tergopoh berlari ke arahmu,
kapanpun itu.
Adalah semata dirimu yangmembuat diriku
menjadi luar biasa.
Adalah rekah tawa dan lebam tangis yang
membuat kebersamaan kitaselama ini menjadi berharga dan bermakana.
Adalah dirimu, semata sebab yang
menghadirkan bahagiaku berlinangair mata.
Pagi itu saat aku keluar rumah, ku lihat
wanita berkacak pinggang ke arahku. Mukanya terlihat sangat marah. Dan
bibirnya, ahh sungguh menggelikan. Tak kuasa aku menahan tawa melihat wanita
itu, dia ehem… sahabatku, Rara.
“Nggak usah senyam – senyum, nggak merasa
bersalah banget sih lo. Gua masuk 15 menit lagi. Elo enak masih 30 menit lagi.”
Rara memanyunkan bibirnya. Ciri khas yang selalu ia keluarkan ketika dia kesal.
“Iya-iya maaf. Maaf yah Beeiibb…”
kataku menggodanya.
Dia menyambar helm yang berada di tanganku,
lalu memakainya. Aku tau dia sangat marah. “Arya hari ini kau berhutang
padanya.” Ucapku dalam hati. Di sepanjang perjalanan ke sekolahnya, dia hanya
diam saja. Akupun tak berani mengajaknya bicara. Karena nanti akan memperkeruh
keadaan, sudah menjadi kebiasaan dia. Dia akan diam ketika marah. Bukan hanya
itu, dia akan saangat diam ketika dia lapar. Haha… sungguh aneh sifat manusia
satu ini. Seseorang yang sangat aku kagumi, kusayangi, dan kucintai.
Memory hari-hariku bersamanya dulu, tak akan
pernah kulupakan.
#DearYou Kau selalu kunanti, meski
tiada hadirmu di sini, di pelukku.
Meski aku hanya bisa memuaskan dahaga
rinduku dengan memori tentang dirimu.
Datanglah… datanglah segera ke
peraduan cinta kita
Sosok Rara begitu mengubah hidupku, mengubah
gaya hidpku yang dulunya seorang playboy dan err… preman
menjadi seseorang yang lebih baik. Hanya dia yang mengerti aku. Semangat
hidupnya yang tak gentar membuatku sangat mengaguminya. Tak dapat ku pungkiri,
tak sedikit kaum Adam jatuh hati padanya. Termasuk sahabatku, Adrian. Beda
dengan Adrian, dia lebih berani mengambil keputusan. Yah… dia pernah menyatakan
cintanya pada Rara. Tapi sayang, sebelum Rara menjawab pertanyaan Adrian
“Apakah Rara mau menjadi kekasihnya” Adrian telah menjadi kekasih orang lain.
Dasar, dia tak sabar menunggu Rara. Tak sabar seperti aku yang selalu setia
menunggunya. Walaupun kemungkinan itu sangat tidak mungkin untuk terjadi.
Alasan Adrian mencari kekasih lain di
karenakan Rara terlalu lama memberikan jawaban. “Hey Adrian, apa lo lupa kalo
Rara abis putus sama pacarnya?”. Penyebab putusnya hubungan Rara dengan mantan
pacarnya itu karena adanya pihak ketiga. Rara berselingkuh? Bukan. Dia
menyelingkuhi Rara? Ya. Lelaki tak tau di untung itu menyelingkuhi Rara. Jika
aku menjadi kekasihnya, aku tak akan pernah melakukan hal bodoh seperti itu.
Aku akan menjadikan Rara sebagai “Number one in my life”. Tapi,
kembali ke keadaan semula. Takdir berkata lain, aku ini sahabatnya.
Beberapa bulan kemudian, Rara dekat
dengan seorang cowok. Katanya, dia teman SMA-nya. Sebernarnya mereka dulu dari
SMP yang sama, tapi Rara tak pernah bertegur sapa dengannya. Karena Rara dulu
sangat benci dengan dia, kata Rara mukanya sadis dan galak. Tapi ketika dia
mengenalnya, ternyata dia seseorang yang cukup gila dan selalu membuat
orang-orang di sekitarnya tertawa ketika melihat tingkah lakunya. Seperti err…
pujaan hatiku, Rara.
Di saat yang sama, hatiku terasa perih
mendengarkan segala curhatannya tentang cowok itu, his name is Rafi.
Tapi apa daya aku harus mendengarkannya. Aku tak ingin membuatnya sedih.
Setelah aku bertemu dengan Rafi, menurutku dia memang lebih pantas
bersanding dengan Rara. Dia sukup smart, good looking,dan selalu
bisa membuat orang tertawa. Dia pintar sekali mengatur emosinya. Pantas saja
Rara jatuh hati padanya.
Hatiku kembali rapuh setelah mendengar
Rara mempunyai kekasih lagi, Rafi. Untuk kesekian kalinya aku merasakan hal
yang sama. Selalu pedih jika melihat Rara bersama orang lain, Rafi. Walaupun
aku tak satu sekolah dengan Rara, rasa perih itu selalu muncul ketika Rafi ke
rumahnya.
Karena tak tahan dengan keadaan yang
selalu seperti ini, kali ini ku putuskan aku pergi meninggalkan Rara,
menghilang dari kehidupannya. Aku meninggalkan kota Metropolitan ini yang telah
membuat aku bahagia bersamanya, serta sangat sukses membuat hati ini rapuh
(lagi).
Aku memulai kehidupan baruku di Bandung,
sejenak mendamaikan hati ini. Aku sengaja tak memberitahu Rara. Aku tak mau
melihatnya bersedih dan memohon padaku agar aku tak pergi. Tapi selama apapun
aku menutupinya, dia akhirnya tau. Dia sangat marah padaku, ketika aku
tiba-tiba menghilang. Ya Rara, ku mohon bencilah aku.
***
#DearYou Semoga aku bukan termasuk
orang yang serakah jika selalu berharap kau di dekat hatiku,
Kapanpun itu.
Dalam labirin hatimu,
Aku masih kukuh berdiri.
Menanti!
Pergi atau… setia bernaung dalam
mata beningmu.
Tiga tahun sudah aku meninggalkan Rara,
dan itu tak mudah bagiku menjalani hari-hari tanpanya. Terbiasa hidup tanpa
senyumnya, tanpa tawanya yang riang, serta semangatnya yang tak pernah padam.
Drrtt… ddrrtt… andai saja waktu itu tak
ku tunda. Tuk ungkapkan isi hati kepadanya. Mungkin dia jadi milikku,
bahagiakan hariku. Oh tetapi kenyataan tak begitu.
Handphone-ku bergetar, kuambil handphone dari
sakuku. One message received. “Siapa nih pagi-pagi ganggu, nggak
tau orang telat aja.” Lalu aku membuka pesan itu.
From : Rara_Beb
Jodoh itu rahasia Tuhan. Sekuat apa kita
setia. Selama apa kita menunggu. Sekeras apa kita sabar. Sejujur apa kita
menerima orang yang kita sayangi. Jika Tuhan tidak menulis JODOH kita dengan
orang itu dengan kita, kita tetap TIDAK AKAN BERSAMANYA. Be Positive. Dan
terimalah takdir-Nya. Karena tulang rusuk dan pemiiliknya tidak akan pernah
tertukar dan akan bertemu pada saatnya nanti.
“Damn… kalimat ini nyindir gue.”
Umpatku dalam hati, aku tak menghiraukan message darinya.
Bukan karena malas, tapi karena keadaan tak mendukung. Kuliah masuk lima menit
lagi.
Aku berlari menelusuri lorong kampus.
Ketika sampai di kelas, seseorang berkumis berbadan tegap telah berdiri di
depan kelas melihatku dengan sinisnya. Aku hanya cengar-cengir melihatnya.
“Hari ini alasan apalagi? Setiap mata
kuliah saya kamu selalu telat Arya. Bagaimana bisa bangsa ini maju kalau anak
muda sepertimu banyak di negeri ini?” beliau berkacak pinggang. Memperlihat
muka sadisnya.
“Maaf Pak, saya memang sangat sulit
bangun pagi. Kalau bapak mau menghukum saya, hukum saja saya. Saya menerima
apapun keputusan bapak.” Kataku pada Pak Heri. Jujur tak ada Rara, kehidupanku
berubah (lagi).
“Sudahlah, saya lelah menghukum kamu,
cepat masuk dan ikuti mata kuliah saya.” Beliau menyuruhku masuk.
Fiuuhh… tumben banget nggak dihukum.
Lalu aku masuk ke dalam kelas. Hey… wait. Ada yang duduk di
kursiku. Siapa dia? Berani-beraninya dia menduduki kursiku. Aku melirik dia
sinis. Mungkin dia tau apa yang ku maksud lalu dia berkata, “Kenapa liat-liat?
Nggak suka gue duduk disini? Kursi masih banyak yang kosong. So, jangan
suruh gue pindah.
Astaga, berani sekali dia. “Lo nggak tau
apa gue siapa? Minggir…” sentakku.
“Kurang ajar banget lo nyuruh-nyuruh
gue, emang lo siapa? Apa sebegitu pentingnya gue harus tau nama lo?” dia
menatapku sinis.
“Hey kalian, jangan ribut saat mata
kuliah saya sedang berlangsung. Arya, dia anak baru di kampus ini. Dan kamu
Rheta, dia anak paling badung di kampus ini. Arya kamu cari tempat duduk lain
saja. Dan kalian semua ikuti mata kuliah saya dengan baik.” Ucap Pak Heri.
Oh God… kata-kata Pak Heri begitu menyebalkan.
Dengan berat hati aku menempati tempat
duduk lain. Tunggu pembalasanku Rheta.
***
Satu bulan sudah aku menjalani hidup
bersama wanita psikopat in, Rheta. Dia ternyata sangat gila. Dia wanita pertama
yang berani melawanku di kampus ini. Saat itu aku menaruh tikus ke dalam
tasnya, berharap dia akan terkejut dan takut akan hadiahku itu. Tapi dugaanku
meleset, dia malah membelai-belai tubuh tikus itu. Mungkin dia tau kalau yang
menaruh tikus itu ke dalam tasnya adalah aku, beberapa hari kemudian aku
dibuatnya kesal. Celana kesayanganku menempel pada kursi Kampus. Dasar freak…
Bukan Arya namanya kalau tak punya akal,
aku membalasnya dengan siraman tepung pada ke esokan harinya. Sungguh aku
sangat bahagia telah mengerjainya. Saat itu dia langsung pulang. Ku harap ia
menangis dan suatu hari nanti dia akan bertekuk lutut padaku. Haha…
Sejak kejadian itu, Rheta tak masuk
kuliah. Dimana dia? Ahh… akhirnya dia mengaku kalah. Aku tertawa jika mengingat
kejadian beberapa hari yang lalu.
Drrtt… ddrrtt… andai saja waktu itu tak
ku tunda. Tuk ungkapkan isi hati kepadanya. Mungkin dia jadi milikku, bahagiakan
hariku. Oh tetapi kenyataan tak begitu.
Handphoneku bergetar, one
message received. Aku mengernyitkan alisku.
From : Rara_Beb
Arya, gue minta maaf atas semua
kesalahan gue selama ini. Entah yang nggak di sengaja ataupun yang gue
sengaja. Thanks Ar, lo udah buat hidup gue
berwarna
“Sebelom lo minta maaf ke gue, gue udah
maafin lo kalo punya salah Ra. Tapi yang ada di pikiran gue sekarang, emang lo
punya salah apa sama gue? Sampe lo minta maaf minta maaf ke gue segala.” kataku
dalam hati. Aku tak menghiraukan message darinya. Aku
mengambil kunci alphard hitam yang berada di saku
celana lalu membuka pintunya. Setelah terbuka aku langsung masuk ke dalam alphard-ku.
Bbrreesss… sebuah kantung plastik berisi
cairan yang berbau sangat busuk tak sengaja ku duduki. Ternyata tak hanya
cairan yang berbau busuk dan sangat amis ini yang berada dalam kantung plastik
itu. Ketika aku sedikit berdiri, terbanglah lalat-lalat yang menjijikan dalam
mobilku. Aarrggg… sialan, pasti ulah gadis psikopat itu lagi.
Lengkaplah penderitaanku hari ini, aku
terpaksa naik Taxi karena ban mobilku bocor. Dan untuk
menghilangkan bau busuk di badanku ini, aku harus mandi 7 kali, 5 kali
creambath serta spa 3 kali. Psikopat itu lagi, arrggg…
***
Pagi ini aku berniat membalasnya.
Tanganku menggengggam satu toples yang berisi telur ayam yang telah ku kocok
tadi malam. Aku ingin cewek psikopat itu merasakan penderitaanku kemarin. “Itu
dia.” Kataku. Aku menghampirinya ke kantin kampus dan… brruuss… cairan yang
berbau amis ini menyiram tubuhnya.
Dia terkejut melihat kelakuanku ini,
“Eh… cowok psikopat, salah gue apa sih sama lo sampe-sampe lo benci banget sama
gue?” dia berteriak.
“Mau tau salah lo? Banyak. Lo udah masuk
dan ganggu hidup gue.” Ucapku santai.
Tak ada jawaban darinya, ku lihat dia
sangat marah karena ulahku ini. Mukanya merah padam. Kemudian dia menyambar jus
yang berada di mejanya lalu menyiram jus itu ke wajahku. Aku geram, tanganku
hendak menampar mukanya. Dan…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jangan langsung kabur! Ayo ketik sesuatu dulu di sini :)