Sabtu, 02 Maret 2013

Alea | Awal Hidup Baru | Part 2



“Al,… sampai kapan kamu begini terus?” Ibu mendekatiku dan membelai rambutku. Aku diam saja tak berkata sepatah katapun. “Jangan hanya karena cinta kamu jadi patah semangat seperti ini.”
“Ibu nggak tau apa yang Ale rasain.”aku menangis. Ibu memelukku, pelukan kasih sayang yang takkan pernah tergantikan  oleh siapapun.
“Iya nak, Ibu ngerti perasaan kamu. Menangis itu boleh, selagi tangisanmu itu membuat kamu lega. Tapi bukan berarti kamu menangis terus dan bersedih seperti ini. Dibalik semua ini pasti ada sesuatu yang terkandung didalamnya.” Aku memeluk Ibu erat – erat, aku beruntung meliki Ibu. Walaupun tanpa ada Ayah di sisiku, Ibu selalu ada untukku.
Keesokan harinya aku memutuskan untuk melamar pekerjaan. Beberapa tes aku lalui. Hasilnya akan diumumkan minggu depan.
Aku mengetuk pintu kepala Rumah Sakit, kemudian membukanya dengan perlahan. “Pagi dok.”aku tersenyum walaupun perih berada di dalam hati ini.
“Pagi juga.”dokter itu  membalas senyumanku. “Berdasarkan hasil tes yang telah di lalui, anda diterma sebagai perawat di Rumah Sakit Fatmawati Kusuma. Selamat saudari Alea Rahma Aviroe” kata dokter. Aku berjabat tangan dengannya. “Terima kasih dok. Oh ya.. kapan saya bisa mulai bekerja?”
“Minggu depan kamu sudah bisa bekerja disini. Ingat, harus rajin ya?”
“Pasti. Saya akan melaksanakan tugas sebaik mungkin.”
“Saya akan ingat janji anda saudari Alea.”
“Iya dok. Kalau begitu saya permisi dulu dok.”
“Silakan. Hati – hati di jalan.”

Empat bulan sudah aku melalui hari – hariku di Rumah Sakit Fatmawati Kusuma. Hari – hari yang aku lalui dengan senyuman palsu. Cinta tak harus memiliki tidak juga harus dimiliki. Meski kau bukan milikku lagi tapi setidaknya engkau pernah membahagiakan diriku. Walaupun akhirnya kau juga yang menjatuhkanku dalam kepdihan ini. Aku akan terusmenari dan menyanyi, menghibur diri. Mengisi sepi hari tanpamu. Sampai datang seorang pengganti. Sampai datang kembali cinta yang baru.
“Mbak, nglamun terus?” seseorang mengagetkanku. “Eeh, kamu Dan. Nggak nglamun kok. Oh iya, udah makan? Aku belom nih. Makan dulu yuk?”
“Belom siih. Tapi…..”
“Aku yang bayarin.”
“Oke. Ayuk.” ( Langsung ddehh )
“Dasar kamu.”
Anak yang aneh, Pradana namaya. Kita beda 2 tahun, tapi Pradana manggil aku “Mbak” katanya sih biar kaya saudara sendiri.
“Mbak tadi mikirin apa sih? Sampe aku panggil nggak nyaut – nyaut.”
“Nyaut? Nyaut itu yang ….. aduuhh rambutku nyaut nih di jemuran.”
“Nyangkut kallee. Aku kalo pulang naik nyangkut Pasar Rambutan mbak.”
“Angkot?”
“hahahahaha………” kita tertawa bersama. Disaat –saat seperti inilah aku dapat sejenak melupakan kepedihan hatiku.
Setiba di rumah makan dekat rumah sakit, kita mencari tempat duduk. Noleh kanan noleh kiri penuh semua. Hhuhh… jam istirahat nasional, jadi susah buat cari tempat duduk untuk makan. “Mbak di situ kosong tuh. Ayo cepetan mbak.” Dana menggandeng tanganku. Eemmbbb,, lumayan dapat tempat nyaman.
Seusai makan aku ke kasir untuk membayar. Setelah membayar aku bingung karena Dana nggak ada. Di tinggal semenit aja udah nggak.  "Bener – bener nih anak, jadi keluar sendiri."aku berkata dalam hati. Tiba – tiba ….
“Uppzt,, sorry.”aku menabrak seseorang. Dia menoleh ke arahku begitupun teman – temannya. “Maaf  aku nggak sengaja. Soalnya buru – bur…”belum sempat  aku menyelesaikan perkataanku, dia langsung nyelonong masuk sama temen – temennya. Dasar cowok, nggak punya sopan santun.
"Mbak aallee,,, ttuuunnggguiiinnn..." teriak seseorang dari dalam. Suara yang aku kenal, Dana. "Aduh, anak ini malu - maluin."aku menepuk kepalaku. "Iiiihhh mbak kok ninggalin aku sih."kata Dana dengan sedikit kesal. "Kamu kemana aja? kirain kamu yang ninggalin aku."
"Aku tadi pipis dulu mbak, abis kebelet. Dari pada ngompol, emang mbak Ale mau gantiin popokku?"
"Iiiiiih ogah banget. pamitan dulu kek. Biar aku tau kamu kemana, kebiasan jelek jangan di piara."
"hehe,, Ya deh. Maaf kalo gitu."
"Udah tadi nabrak orang, soommbong beneer."
"Emang siapa mbak?"
"Nggak taulah. Ayolah udah hampir abis jam istirahatnya."
"Mbak, mbak itu kenapa mbak? Rame banget. Kayanya ada pasien kecelakaan deh."
"Ayo cepet Dan"
Kita berlari menuju IGD. Aduuuhh penuh banget di depan IGD, banyak kerumunan wartawan. Sepertinya pasien kali ini Artis Ibu Kota. "Permisi mbak mas. Maaf Selain Suster dan Dokter dilarang masuk."aku dan  Dana melarang para wartwan itu.
"Dasar wartawan, udah tau situasi kaya gini. Masih aja masuk. Sebel aku mbak."
"Iya ya. Maka dari itu aku nggak bercita - cita jadi wartawan Dan."
Kami dan tim medis lainnya segera memberi pertolongan. Detik - detik yang menegangkan akhirnya dapat kami lalui.

Tok.. tok.. tok.. aku mengetuk pintu kamar 014. Tak ada jawaban, aku memasuki kamar itu. “Arya Rafi Subowo” aktor Ibu Kota yang sedang melejit karirnya. Tapi sekarang dia terbaring lemah akibat kecelakaan minggu lalu. Tak hanya itu, Dokter mengatakan umurnya tak akan bertahan lama. Tumor otak yang di deritanya sudah semakin parah. Kita tidak pernah tau berapa umur kita, tapi yang pasti kita harus selalu berusaha dalam menghadapi kehidupan ini. Karena hanya Tuhan yang tau berapa umur kita.
Aku meletakkan sarapan dan obat untuk Arya di meja, lalu aku membuka jendela kamar, melihat mentari yang tersenyum kepada seluruh insan. Sebagian mentari itu tertutup oleh gedung – gedung pencakar langit, tetapi mentari itu tetap tersenyum meskipun kita tidak tau apa yang ia rasakan sekarang. Entah sedih atau bahagia. Tersenyum di balik kesedihannya.
“Apa – apaan sih? Pagi – pagi udah gangguin orang.” Teriak Arya. Aku tersenyum, dia tidak sadar betapa indahnya pagi ini. “Mas udah bangun? Hari ini indah sekali. Coba deh mas bangun, lihat betapa indahnya pagi ini.” Tak ada jawaban dari Arya. “Ngapain sih susah – susah ngurusin aku. Umur aku tu nggak akan lama lagi. Bentar lagi juga mati. Nggak usah minum obat segala.”
“Mas Arya mau makan sendiri atau saya suapin?” tak ada jawaban lagi. Aku menghelakan nafas, “Satu jam lagi saya akan kesini untuk mengambil piring kosong. Permisi mas.” Aku keluar dan menutup pintu.
Satu jam kemudian aku kembali ke kamar Arya. Aku mendengar sedikit keributan dari dalam kamar.
“Pergi kamu dari sini. Jangan sekali – kali temun aku lagi”
“Mas aku minta maaf. Maksudku bukan seperti itu.”
“Ya bukan kaya gitu. Kamu cuma cinta sama harta dan kepopuleranku. Setelah aku jadi cacat kaya gini dan bentar lagi mau mati, kamu tinggalin aku. Pergi… pergi sekarang. Aku nggak mau lihat wajah kamu lagi.” Ternyata Arya sedang bertengkar dengan pacarnya. Aku pergi tak ingin mengganggu mereka.


Bersambung. . . 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan langsung kabur! Ayo ketik sesuatu dulu di sini :)