“Mbak, baru kali ini aku dapet pasien galak bener.
Katanya sakit tapi bisa bentak – bentak orang.” Kata Dana. “Siapa Dan?”aku
mengernyitkan alis.
“Siapa lagi kalo bukan Arya Rafi Subowo. Waktu itu aku
denger ada yang jatuh dari kamarnya. Aku masuk buat nolongin dia, eehhh.. aku
malah di bentak – bentak suruh keluar. Katanya dia nggak perlu bantuan, beneran
galak benget dia. Pokoknya aku nggak mau disuruh ngurusin dia lagi. Mbak mau
nggak gantiin aku? Entar aku bilang deh sama Bu Ajeng kalo mbak Ale gantiin
aku.”pinta Dana.
“Ya
udah kalo gitu. Kita itu harus sabar kalo ngadepin orang kaya gitu.”kataku.
“Sabar
sih sabar, tapi udah terlanjur sebel. Yang penting makasih deh mbak Ale udah
nolongin hidup aku. Hahahahahag…”Dana Tertawa.
“Alay
deh kamu. Oh,, ya udah waktunya makan siang nih. Ada job baru deh.”kataku.
“Arya
maksudnya?”Tanya Dana sambil mengernyitkan mata kanannya.
“Iyalah.
Siapa lagi? Lanjutin nanti lagi ya Dan?”aku menepuk pundak Dana.
“Ok
mbak. Aku juga harus ke kamar Teratai 20. Ddaaggh mbak.” Pradana meniggalkanku.
Aku mengambil makan siang untuk Arya, kemudian
mengantarkan ke kamar Arya. Aku mengetuk dan membuka pintu kamar. “Permisi.”
Aku tersenyum, ternyata ada yang menjenguk Arya.
Arya memperkenalkanku dengan keluarganya, kedua orang tua
Arya, kakak kandung Arya serta suaminya, keluarga yang masih lengkap. Tidak
sepertiku, tapi aku cukup bahagia dengan semua itu.
“Pantesan
Arya betah di Rumah Sakit, abis susternya cantik sih.”ledek kakak Arya.
“Apaan
sih Lo Kak. Sirik aja.”Arya agak malu mendengar perkataan kakaknya.
“Waktu
makan siang ya Sus? Biar saya aja deh yang nuapin anak satu ini.”pinta kakak
Arya.
“Oh
ya silakan. Kalau begitu saya permisi dulu. Jangan lupa nanti obatnya diberikan.”aku
tersenyum.
“Siap
sus.” Teriak kakaknya.
Beberapa jam kemudian aku kembali ke kamar Arya, Bu Ajeng
memanggilku. Aku tidak tau untuk apa aku dipanggil ke kamar Arya. Aku masuk
kamar Arya, sudah
ada Bu Ajeng dan keluarga Arya disana. Ada apa ini?
“Gini Al, beberapa hari ini Arya mengalami kemajuan yang
cukup pesat. Saya sudah memperbolehkan Arya untuk Rawat Jalan. Tapi harus tetap
ada suster yang merawatnya dirumah. Mama Arya meminta Ibu kalau kamu yang
menjadi suster pribadi Arya. Bagaimana?” Bu Ajeng bertanya. padaku.
Merawat Arya? Suster pribadi?
“Bagaimana
nak?” Tanya Ibu Arya dengan nada memohon.
“Emb,
ya boleh. Saya mau jadi suster pribadi Arya. Mulai kapan ya Dokter?”tanyaku.
“Nanti
Arya sudah boleh dibawa pulang. Jadi besok kamu bisa langsung bkrja disana.”jelas
Bu Ajeng.
“Tuh,,
susternya mau. Dia tadi pengennya Cuma sama suster loh.” Ledek kakak Arya.
“Apa
– apaan sih kak. Rese banget sih Lo.”kata Arya dengan nada sedikit kesal.
Semuanya tertawa, hanya aku yang tersenyum. Ada apa lagi
ini? Perasaanku tak karuan. Kenapa aku bahagia? Padahal sudah berkali – kali
aku diminta menjadi suster pribadi. Tapi baru kali ini aku menjawab Ya.
Apa jangan – jangan… Ah, hanya perasaanku. Aku membantu
membereskan barang – barang Arya serta mengantarkan sampai depan Rumah Sakit.
Keesokan harinya aku ke rumah Arya, alamatnya tidak sulit
untuk dicari. Termasuk kawasan elite daerah Jakarta.
Aku membunyikan bel, tak lama kemudian muncul seseorang
dari balik pintu. Ibu Subowo (Ibunya Arya) ternyata, “Masuk Al, Ibu kira kamu
nggak jadi dateng.”
“Maaf
bu kalo saya sedikit terlambat.” Aku sedikit malu, semoga ibu Arya bisa
mengerti.
“Nggak
apa – apa. Oh ya Alea, Arya belum mau makan pagi. Tolong ya Al, kayaknya dia
maunya cuma sama kamu.”kata Ibu Subowo.
“Siap
bu.” Aku segera mengambil sarapan pagi untuk Arya serta menyiapkan obat Arya.
Aku menuju taman yang ada dibelakang rumah Arya. Aku
melihat dia duduk dengan tatapan kosong, sekosong hatinya.
“Makan
dulu tuan Arya.” Aku mengajak Arya untuk makan pagi, tapi tak ada sahutan dari
Arya.
“Pilih
disuapin atau makan sendiri?” Aku menyodorkan sendok yang telah berisi makanan.
Arya langsung mengambil sendok dan piringnya. Dia
terlihat kesal, aku tersenyum dalam hati melihat kelakuan Arya.
“Nah
gitu dong. Kalo gitukan cepet sembuh Tuan Arya.”kataku dengan menahan tawa
melihat tingkah laku Arya. “Nggak usah panggil Tuan deh, nggak enak di denger.
Panggil Arya aja”Arya sedikit membentak.
“Ehmbt
ok! Kalo gitu panggil aku Ale atau Alea.”kataku.
“Iya.”
Jawab Arya dengan nada juteknya.
Ampun deh, jutek bener orang ini. Sabar Al masih ada yang
orang yang lebih jutek di dunia ini (mungkin?).
Hari demi haripun berlalu, keadaan Arya semakin baik.
Namun siapa yang mengira apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku. Arya, dan Ibu
Arya sedang berada di ruang tamu, kami saling bercanda tawa. Tiba – tiba . . .
“Aduh
Ma, . . kepalaku sakit.” Arya merintih kesatikan sambil memegangi kepalanya.
“Arya,
Arya, kamu kenapa sayang.” Ibu Arya mulai panik.
“Aaarrggghhh,
. . . Arya nggak tahan.” Teriak Arya.
Aku segera memberikan pertolongan untuk Arya. Aku dan
Mama Arya membopong Arya menuju ke kamarnya.
“Aduh nak Ale, Arya gimana. Apakah kita perlu memanggil
Dokter? Atau ambulance? Tanya mama
Arya panik.
“Tidak
perlu bu. Ibu tenang dulu.” Aku menenangkan Ibu Arya.
Setelah aku
memberikan obat untuk Arya, perlahan – lahan keadaan Arya membaik. Sekarang ia
tertidur, aku dan Ibunya keluar dari kamar Arya.
Keesokan harinya. . .
“Ma, aku mau pergi ke Vila keluarga kita yang ada di Bandung.
Aku mau nenangin diri aku Ma.” Kata Arya kepada Mamannya.
Aku
kaget mendengarkan apa yang Arya katakana.
Ibu Subowo menoleh kepada suaminya, kemudian suaminya
memberikan isyarat (memperbolehkan). Tapi Ibu Subowo tidak terlalu setuju
dengan keinginan Arya. Tapi mau bagaimana lagi?
“Kamu
yakin Arya?” tanya Bapak Subowo.
“Iya
Ma Arya yakin. Arya mau nenangin diri Arya disana. Menikmati hari – hari
terskhir Arya disana.” Ucap Arya.
“Arya,
kamu jangan bilang gitu sayang.” Kata Ibu Subowo sambil memeluk Arya.
“Umur
itu yang menentukan Tuhan. Bukan kita Arya.” Kali ini Bapak Subowo yang
berbicara.
“Iya
Pa. Aku boleh kesana?” tanya Arya.
“Papa
memperbolehkan kamu. Tinggal keputusan mama seperti apa.” Kata Pak Subowo
sambil menepuk pundak Arya.
Aku hanya diam melihat mereka semua, aku ingin sekali
berbicara untuk membela Arya. Tapi apa hakku? Aku hanya perawat pribadi Arya.
“Ok,
Mama memperbolehkan kamu. Asalkan mama ikut kesana.” Ucap Ibu Sibowo dengan
menahan tangisnya.
“Nggak
ma. Mama dirumah aja. Aku kesana sama Alea aja.” Kata Arya sambil menoleh ke
arahku.
Apa
– apaan ini, kenapa harus aku?
“Hmmb.
. . kalau begitu terserah kamu aja.” Ucap Ibu Subowo pasrah.
“Gimana
Al, kamu mau temenin aku ke Bandung?” tanya Arya kepadaku.
“Aku.
. . aku. . . ehmb aku tanya sama Ibu aku dulu.” Ucapku kebingungan.
“Oh
ya udah. Sekarang kamu pulang dulu minta izin sama Ibu kamu. Kalo boleh besok
kamu langsung bawa pakaian kamu ya Al?” kata Arya.
“Hah?
Secepat itukah?” aku kaget.
“Kenapa
kamu nggak mau?” tanya Arya.
“Oh
nggak kok. Aku mau tapi aku harus izin sama Ibu.” Ucapku ke Arya.
“Ya
sudah nak Ale. Kamu saya perbolehkan pulang lebih awal.” Ucap Bapak Subowo.
Aku bergegas pulang, dengan langkah gontai aku memasuki
rumah. Mencari dimana Ibuku sekarang.
“Loh kok kamu udah pulang Al?” tanya Ibu heran.
Aku merangkul Ibu dari belakang, “Bu, ada yang mau Ale
omongin sama Ibu.” Ibu mengernyitkan keningnya.
“Mau ngomong apa Al? Kok kayanya serius?” Ibu menoleh ke
arahku.
“Uhmm, . . uhm . . ” aku bingung menjelaskan kepada Ibu.
“Kamu kenapa? Udah kamu ngomong aja.” Ibu
mendekatiku.
“Bu, besok Arya minta berlibur ke Bandung. Apakah aku
boleh menenemaninya?” tanyaku perlahan.
Ibu terdiam sejenak, dia menghelakan napasnya. “Kamu..”
Bersambung...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jangan langsung kabur! Ayo ketik sesuatu dulu di sini :)