Sabtu, 02 Maret 2013

Alea | Dia Arya | Part 3





“Mbak, baru kali ini aku dapet pasien galak bener. Katanya sakit tapi bisa bentak – bentak orang.” Kata Dana. “Siapa Dan?”aku mengernyitkan alis.

“Siapa lagi kalo bukan Arya Rafi Subowo. Waktu itu aku denger ada yang jatuh dari kamarnya. Aku masuk buat nolongin dia, eehhh.. aku malah di bentak – bentak suruh keluar. Katanya dia nggak perlu bantuan, beneran galak benget dia. Pokoknya aku nggak mau disuruh ngurusin dia lagi. Mbak mau nggak gantiin aku? Entar aku bilang deh sama Bu Ajeng kalo mbak Ale gantiin aku.”pinta Dana.
“Ya udah kalo gitu. Kita itu harus sabar kalo ngadepin orang kaya gitu.”kataku.
“Sabar sih sabar, tapi udah terlanjur sebel. Yang penting makasih deh mbak Ale udah nolongin hidup aku. Hahahahahag…”Dana Tertawa.
“Alay deh kamu. Oh,, ya udah waktunya makan siang nih. Ada job baru deh.”kataku.
“Arya maksudnya?”Tanya Dana sambil mengernyitkan mata kanannya.
“Iyalah. Siapa lagi? Lanjutin nanti lagi ya Dan?”aku menepuk pundak Dana.
“Ok mbak. Aku juga harus ke kamar Teratai 20. Ddaaggh mbak.” Pradana meniggalkanku.
Aku mengambil makan siang untuk Arya, kemudian mengantarkan ke kamar Arya. Aku mengetuk dan membuka pintu kamar. “Permisi.” Aku tersenyum, ternyata ada yang menjenguk Arya.
Arya memperkenalkanku dengan keluarganya, kedua orang tua Arya, kakak kandung Arya serta suaminya, keluarga yang masih lengkap. Tidak sepertiku, tapi aku cukup bahagia dengan semua itu.
“Pantesan Arya betah di Rumah Sakit, abis susternya cantik sih.”ledek kakak Arya.
“Apaan sih Lo Kak. Sirik aja.”Arya agak malu mendengar perkataan kakaknya.
“Waktu makan siang ya Sus? Biar saya aja deh yang nuapin anak satu ini.”pinta kakak Arya.
“Oh ya silakan. Kalau begitu saya permisi dulu. Jangan lupa nanti obatnya diberikan.”aku tersenyum.
“Siap sus.” Teriak kakaknya.
Beberapa jam kemudian aku kembali ke kamar Arya, Bu Ajeng memanggilku. Aku tidak tau untuk apa aku dipanggil ke kamar Arya. Aku masuk kamar Arya, sudah ada Bu Ajeng dan keluarga Arya disana. Ada apa ini?
“Gini Al, beberapa hari ini Arya mengalami kemajuan yang cukup pesat. Saya sudah memperbolehkan Arya untuk Rawat Jalan. Tapi harus tetap ada suster yang merawatnya dirumah. Mama Arya meminta Ibu kalau kamu yang menjadi suster pribadi Arya. Bagaimana?” Bu Ajeng bertanya. padaku.
Merawat Arya? Suster pribadi?
“Bagaimana nak?” Tanya Ibu Arya dengan nada memohon.
“Emb, ya boleh. Saya mau jadi suster pribadi Arya. Mulai kapan ya Dokter?”tanyaku.
“Nanti Arya sudah boleh dibawa pulang. Jadi besok kamu bisa langsung bkrja disana.”jelas Bu Ajeng.
“Tuh,, susternya mau. Dia tadi pengennya Cuma sama suster loh.” Ledek kakak Arya.
“Apa – apaan sih kak. Rese banget sih Lo.”kata Arya dengan nada sedikit kesal.
Semuanya tertawa, hanya aku yang tersenyum. Ada apa lagi ini? Perasaanku tak karuan. Kenapa aku bahagia? Padahal sudah berkali – kali aku diminta menjadi suster pribadi. Tapi baru kali ini aku menjawab Ya.
Apa jangan – jangan… Ah, hanya perasaanku. Aku membantu membereskan barang – barang Arya serta mengantarkan sampai depan Rumah Sakit.
Keesokan harinya aku ke rumah Arya, alamatnya tidak sulit untuk dicari. Termasuk kawasan elite daerah Jakarta.
Aku membunyikan bel, tak lama kemudian muncul seseorang dari balik pintu. Ibu Subowo (Ibunya Arya) ternyata, “Masuk Al, Ibu kira kamu nggak jadi dateng.”
“Maaf bu kalo saya sedikit terlambat.” Aku sedikit malu, semoga ibu Arya bisa mengerti.
“Nggak apa – apa. Oh ya Alea, Arya belum mau makan pagi. Tolong ya Al, kayaknya dia maunya cuma sama kamu.”kata Ibu Subowo.
“Siap bu.” Aku segera mengambil sarapan pagi untuk Arya serta menyiapkan obat Arya.
Aku menuju taman yang ada dibelakang rumah Arya. Aku melihat dia duduk dengan tatapan kosong, sekosong hatinya.
“Makan dulu tuan Arya.” Aku mengajak Arya untuk makan pagi, tapi tak ada sahutan dari Arya.
“Pilih disuapin atau makan sendiri?” Aku menyodorkan sendok yang telah berisi makanan.
Arya langsung mengambil sendok dan piringnya. Dia terlihat kesal, aku tersenyum dalam hati melihat kelakuan Arya.
“Nah gitu dong. Kalo gitukan cepet sembuh Tuan Arya.”kataku dengan menahan tawa melihat tingkah laku Arya. “Nggak usah panggil Tuan deh, nggak enak di denger. Panggil Arya aja”Arya sedikit membentak.
“Ehmbt ok! Kalo gitu panggil aku Ale atau Alea.”kataku.
“Iya.” Jawab Arya dengan nada juteknya.
Ampun deh, jutek bener orang ini. Sabar Al masih ada yang orang yang lebih jutek di dunia ini (mungkin?).
Hari demi haripun berlalu, keadaan Arya semakin baik. Namun siapa yang mengira apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku. Arya, dan Ibu Arya sedang berada di ruang tamu, kami saling bercanda tawa. Tiba – tiba . . .
“Aduh Ma, . . kepalaku sakit.” Arya merintih kesatikan sambil memegangi kepalanya.
“Arya, Arya, kamu kenapa sayang.” Ibu Arya mulai panik.
“Aaarrggghhh, . . . Arya nggak tahan.” Teriak Arya.
Aku segera memberikan pertolongan untuk Arya. Aku dan Mama Arya membopong Arya menuju ke kamarnya.
“Aduh nak Ale, Arya gimana. Apakah kita perlu memanggil Dokter? Atau ambulance? Tanya mama Arya panik.
“Tidak perlu bu. Ibu tenang dulu.” Aku menenangkan Ibu Arya.
 Setelah aku memberikan obat untuk Arya, perlahan – lahan keadaan Arya membaik. Sekarang ia tertidur, aku dan Ibunya keluar dari kamar Arya.
Keesokan harinya. . .
“Ma, aku mau pergi ke Vila keluarga kita yang ada di Bandung. Aku mau nenangin diri aku Ma.” Kata Arya kepada Mamannya.
Aku kaget mendengarkan apa yang Arya katakana.
Ibu Subowo menoleh kepada suaminya, kemudian suaminya memberikan isyarat (memperbolehkan). Tapi Ibu Subowo tidak terlalu setuju dengan keinginan Arya. Tapi mau bagaimana lagi?
“Kamu yakin Arya?” tanya Bapak Subowo.
“Iya Ma Arya yakin. Arya mau nenangin diri Arya disana. Menikmati hari – hari terskhir Arya disana.” Ucap Arya.
“Arya, kamu jangan bilang gitu sayang.” Kata Ibu Subowo sambil memeluk Arya.
“Umur itu yang menentukan Tuhan. Bukan kita Arya.” Kali ini Bapak Subowo yang berbicara.
“Iya Pa. Aku boleh kesana?” tanya Arya.
“Papa memperbolehkan kamu. Tinggal keputusan mama seperti apa.” Kata Pak Subowo sambil menepuk pundak Arya.
Aku hanya diam melihat mereka semua, aku ingin sekali berbicara untuk membela Arya. Tapi apa hakku? Aku hanya perawat pribadi Arya.
“Ok, Mama memperbolehkan kamu. Asalkan mama ikut kesana.” Ucap Ibu Sibowo dengan menahan tangisnya.
“Nggak ma. Mama dirumah aja. Aku kesana sama Alea aja.” Kata Arya sambil menoleh ke arahku.
Apa – apaan ini, kenapa harus aku?
“Hmmb. . . kalau begitu terserah kamu aja.” Ucap Ibu Subowo pasrah.
“Gimana Al, kamu mau temenin aku ke Bandung?” tanya Arya kepadaku.
“Aku. . . aku. . . ehmb aku tanya sama Ibu aku dulu.” Ucapku kebingungan.
“Oh ya udah. Sekarang kamu pulang dulu minta izin sama Ibu kamu. Kalo boleh besok kamu langsung bawa pakaian kamu ya Al?” kata Arya.
“Hah? Secepat itukah?” aku kaget.
“Kenapa kamu nggak mau?” tanya Arya.
“Oh nggak kok. Aku mau tapi aku harus izin sama Ibu.” Ucapku ke Arya.
“Ya sudah nak Ale. Kamu saya perbolehkan pulang lebih awal.” Ucap Bapak Subowo.
Aku bergegas pulang, dengan langkah gontai aku memasuki rumah. Mencari dimana Ibuku sekarang.
“Loh kok kamu udah pulang Al?” tanya Ibu heran.
Aku merangkul Ibu dari belakang, “Bu, ada yang mau Ale omongin sama Ibu.” Ibu mengernyitkan keningnya.
“Mau ngomong apa Al? Kok kayanya serius?” Ibu menoleh ke arahku.
“Uhmm, . . uhm . . ” aku bingung menjelaskan kepada Ibu.
“Kamu kenapa? Udah kamu ngomong aja.” Ibu mendekatiku.
“Bu, besok Arya minta berlibur ke Bandung. Apakah aku boleh menenemaninya?” tanyaku perlahan.
Ibu terdiam sejenak, dia menghelakan napasnya. “Kamu..”

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan langsung kabur! Ayo ketik sesuatu dulu di sini :)