"Nggak mau, sekali
nggak mau tetep nggak mau." Ucap seorang lelaki sedikit berteriak. Dia
terlihat kesal.
"Kok gitu sih? Kalo kamu nggak mau kita bikin drama
apa coba?" kata seorang gadis membentaknya.
"Yang lainnya
kek, Cinderella aja. Cerita yang modern donk." Ujar lelaki itu tak kalah
sengaknya.
"Rafka, itu tuh ceritanya udah banyak yang meranin.
Pasti udah pada bosen nonton ceritanya. Pokoknya kita main drama Legenda Putri
Bulan titik nggak ada koma." ujar gadis itu kesal.
"Eh, nggak bisa gitu donk. Itu cuma dongeng Lea, ah
pokoknya aku nggak mau. Lagian yang lain juga belum milih cerita mana yang mau
di pentasin." ucap lelaki itu geram.
"Ok, sekarang kita voting." kata gadis itu tersenyum
sinis.
Pengambilan suarapun dilakukan, hasil voting menunjukkan
bahwa mereka akan mementaskan drama Legenda Putri Bulan pada HUT sekolahnya
yang akan datang. Terlukis senyum dari seorang gadis cantik berperawakan
tinggi, berambut panjang, bermata bulat. Lea
Ananta Wijaya gadis yang berpendapat bahwa drama Legenda
Putri Bulan lebih baik dipentaskan daripada drama Cinderella. Menurutnya, kisah
Cinderella sudah terlalu umum untuk dipentaskan, lain halnya dengan Legenda
Putri Bulan. Karena Legenda itu semakin lama semakin terlupakan bak hilang
ditelan Bumi.
"Gimana Raf! Lebih baik Putri Bulankan? Nanti aku buat
naskah dramanya, doain gue biar cepet jadi ya Rafka?" ucap Lea tersenyum
devil.
"Terserah loe!" ucap lelaki itu kesal lalu pergi. Dia
adalah Rafka
Anugrah Effendi. Dia sangat kesal karena pendapatnya ditolak,
menurutnya cerita itu tidak berkualitas. Karena hanya sebagian orang saja yang
mengetahui dan mempercayai cerita itu.
Rafka berjalan menelusuri taman kota yang tak jauh dari
rumahnya, dia masih kesal dengan kejadian yang ia alami tadi pagi. "Cerita
apaan sih? Nggak bermutu banget. Dasar cewek gila." Umpat Rafka. Dia
melihat ke arah jalan raya yang sangat padat, "Uh, macet lagi. Gara-gara
cewek tengil itu mood gue ilang." ucap Rafka kesal. Lalu ia menyandarkan
kepalanya di bangku taman.
Srrreekk... Sssrrreekk..
Terdengar suara gesekan, "Suara apaan sih tadi?" Rafka
mencari sumber suara tersebut. Hiks.. Hiks... Hiks... Suara tadi berubah
menjadi suara tangisan seseorang. "Kok malah nangis sih? Siapa sih
malem-malem kaya gini nangis?"
Rafka berhenti di dekat pohon Cemara yang cukup besar. Terlihat
seorang gadis memakai pakaian serba putih, kulitnya sangat putih dan mulus,
rambutnya panjang tergerai menutupi muka gadis itu, warna rambutnya putih
seputih kulitnya. Rafka mengira dia adalah hantu, bukannya dia pergi tapi Rafka
semakin mendekat ke arah gadis tersebut.
"Hey, kenapa kamu malam-malam sendirian di tempat
kaya gini?"Ucap Rafka. Namun gadis itu tak menjawab.
Lalu ia mendekati gadis itu.
“Hey, kamu nggak denger?” Rafka duduk di samping
gadis tadi. Gadis tersebut terkejut melihat Rafka yang berada di sampingnya.
“Kamu? Kamu manusia?” Gadis tersebut membulatkan matanya.
Rafka bingung mendengar gadis itu bertanya seperti itu, “Ya
iyalah aku manusia. Kamu manusiakan?”
“E… i… iya aku manusia.” Ucap gadis itu terbata – bata. “Nggak
usah gugup gitulah, biasa aja. Oh ya kamu kenapa malam – malam sendiri disini?
Nangis lagi.” Ujar Rafka.
Gadis itu menghela nafasnya dan mengusap air matanya, “Aku di usir
dari is…” gadis itu menghentikan kalimatnya sejenak, “Aku di usir dari rumah,
ya di usirr dari rumah.” Ucap gadis itu ragu.
Rafka mengernyitkan kedua alisnya, “Kenapa? Emang salah kamu
besar banget ya sampai – sampai kamu di usir dari rumah?”
“Aku tidak salah, Ayah kandungku telah mengusirku. Ibu tiriku
memfitnahku kalau aku berusaha membunuh Ayah kandungku sendiri karena ingin
merebut kekuasaan milik Ayahku. Huh, sungguh tak masuk akal. Sekarang aku
bingung mau tinggal dimana.” Gadis itu menundukkan kepalanya.
Rafka mengangkat kepala gadis itu, “Kamu nggak usah bingung, aku
bisa membantumu. Kamu boleh tinggal di rumaku, aku hanya tinggal sendirian di
rumah. Kedua orang tuaku bekerja di luar negeri.”
“Kamu bercanda? Kamu baru melihatmu. Bahkan kita belum mengenal
satu sama lain.” Ujar gadis itu. Rafka tersenyum mendengar jawaban dari gadis
itu, lalu ia mengulurkan tangannya, “Aku Rafka Anugrah Effendi, panggil Rafka.
Nama kamu siapa?”
“Zhevara Kansandra, terserah kamu panggil aku apa.” Ucap gadis
itu ketus. “Ok, aku panggil kamu Rara. Sekarang kamu udah kenal aku, dan aku
udah kenal kamu. Ayo kita pulang.” Rafka menggandeng tangan Zhevara.
“Eh, eh.. Rafka kamu ini apa-apaan? Jangan pegang-pegang aku.
Kamu manusia Rafka.” Zhevara membentak. Rafka membalikkan tubuhnya, “Ya ampun
Rara, emang kamu itu apa? Setan? Hantu? Bidadari? Atau Putri Bulan seperti yang
di ceritakan temanku tadi pagi? Kamu itu manusia Rara, bukan yang lain.” Ucap
Rafka kesal.
“Putri Bulan?” Zhevara mengernyitkan kedua alisnya. “Iya Putri
Bulan, katanya dia di usir dari Kerajaan Bulan karena ingin membunuh Ayah
kandungnya sendiri. Lalu ia di kutuk oleh Ayahnya menjadi manusia dan… ah
sudahlah aku benci cerita itu. Aku tidak percaya dongeng, cerita itu
benar-benar tidak masuk akal.” Ucap Rafka lalu pergi.
Zhevara berlari kecil mengikuti Rafka, “Benarkah kau tidak
percaya dengan itu semua Rafka?” tanya Zhevara ingin tau. “Sangat tidak
percaya, cerita itu konyol Rara. Apa kamu percaya dengan itu semua?” Rafka
menghentikan langkahnya. Zhevara tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda
bahwa ia percaya dengan cerita Putri Bulan. Sebenarnya dia ingin marah kepada
Zhevara karena dia percaya dengan itu semua, tapi karena melihat senyum yang
terpancar dari bibir mungil Zhevara Rafka mengurungkan niatnya.
“Terserah kamu sajalah, aku tidak mau sepertimu dan temanku yang
mempecayai hal – hal konyol seperti itu. Sekarang kita pulang Rara.” Rafka
tersenyum dan mengacak – acak rambut Zhevara.
Zhevara menepis tangan Rafka, “Jangan menyentuh aku Rafka, aku tidak
mengenalmu.” Rafka menggelengkan kepalanya, “Kalau kamu tidak mengenalk kenapa
kau mengikutiku?
“Ya… aku… aku terpaksa mengikutimu. Kurasa kamu cukup baik, jadi
aku mengikutimu.” Ucap Zhevara. “Ra… Ra… kamu itu sungguh aneh. Sudahlah,
jangan bertengkar lagi. Aku sangat lelah, kalau kau ingin tinggal di rumahku
ikuti aku. Tapi kalau tidak, cari orang lain yang ingin menolongmu.” Ujar Rafka
dan berlalu pergi.
Akhrinya, Zhevara memutuskan untuk mengikuti Rafka. Dia merasa
bahwa Rafka adalah manusia yang baik. Manusia? Ya Rafka adalah manusia, dan
Zhevara adalah seorang Dewi. Tepatnya, Putri Bulan. Dia di usir Ayahnya karena
Reyana Ibu tirinya memfitnah dia kalau Zhevara ingin membunuh Ayahnya Raja
Deandra. Raja murka, lalu ia mengubah Zhevara menjadi setengah manusia dan
setengah dewi dan menurunkannya ke Bumi. Hanya manusia yang berhati tulus yang
mau menyerahkan nyawanya agar Zhevara menjadi seorang Dewi kembali. Nyawa
dibayar nyawa.
Hari – haripun berlalu, Zhevara tinggal bersama Rafka. Sekarang
Zhevara sudah terbiasa dengan manusia, tingkah lakunyapun sudah berubah
layaknya manusia. Dia sudah mengganti warna rambutnya menjadi hitam, cara
berpakainya sudah berubah. Rafka yang mengajari semua itu. Sampai sekarang
Rafka belum mengetahui bahwa Zhevara adalah seorang Putri dari Kerajaan Bulan.
Tanpa mereka sadari, timbulah perasaan yang berbeda di antara
mereka. Bukan perasaan antara adik dan seorang kakaknya, atau perasaan antar
sahabat. Perasaan itu selalu membuat mereka salah tingkah jika mereka tak sengaja
memandang satu sama lain. Perasaan itu membuat hati mereka bebunga – bunga
layaknya bunga yang bermekaran di hamparan tanah yang luas. Membuat hati mereka
berdebar seperti deburan ombak di tengah laut. Perasaan itu sangat luas dan
suci seperti langit yang tak dapat di ukur jumlahnya. Mereka saling mencintai.
“Rafka, terimakasih buat semua yang kamu berikan buat
aku.” Zhevara tersenyum dan menggenggam tangan Rafka. “Kok terimakasih? Emang
aku kasih kamu apaan?” tanya Rafka berpura-pura tidak tahu.
“Ya buat semuanya Rafka, kamu selalu bantu aku. Tapi aku nggak
pernah sekalipun bantu kamu. Aku merasa jadi parasit dalam hidup kamu. Yang
bisanya cuma mengeluh dan…”
Rafka menaruh jari telunjuknya pada bibir Zhevara, “Ssttt…
udah-udah Ra, aku nggak merasa kamu repotin kok. Aku malah seneng ada kamu, aku
selalu bahagia di samping kamu Ra.” Rafka tampak berpikir, “Eemb, sebenernya
aku jatuh cinta sama kamu Ra.” Rafka mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku
celananya, dia meraih tangan kanan Zhevara dan membungkukkan sedikit badannya
di depan Zhevara, “Maukah kau menjadi sandaran hatiku di saat duka maupun duka
di sepanjang hidupku Zhevara Kasandra?”
Zhevara mengembangkan senyumnya, hatinya terbang layaknya burung
merpati di udara. Dia tak menyangka Rafka akan melamarnya seperti ini, dia
sangat bahagia mendengar ucapan Rafka. Tapi, di saat itu pula pikirannya
melayang, mengingat bahwa dirinya tak seutuhnya. “Rafka kamu bercanda lagi.”
Ucap Zhevara ketus, ia menepis tangan Rafka.
Rafka terkejut melihat reaksi Zhevara, “Kenapa Ra? Bukankah kau
juga mencintaiku? Lalu apa artinya dari semua sikap perhatianmu, kasih sayang
yang kau berikan kepadaku?” ujar Rafka membentak.
“Rafka, kau belum mengerti aku sepenuhnya. Asal-usulku darimana
bahkan kau tidak mengerti diriku sebenarnya Rafka.” Tak terasa Zhevara
mengeluarkan air matanya.
Rafka menghapus air mata Zhevara lalu membawa Zhevara dalam
dekapannya, “Maafkan aku Ra, aku tidak bermaksud membentakmu tadi. Aku tidak
peduli dengan asal-usulmu, atau dirimu siapa. Aku hanya mencintaimu Zhevara.
Sangat mencintaimu. Cintaku seluas langit suci, dan tak akan pernah tergantikan
oleh siapapun.” Rafka membelai rambut Zhevara.
Zhevara melepas dekapan Rafka, “Aku juga mencintaimu Rafka,
cintaku hanya untukmu seorang. Tapi kita ini berbeda Rafka. BERBEDA.” Ucap
Zhevara dan menekankan kata “BERBEDA”.
“Maksud kamu apa Ra?” Rafka mengerutkan dahinya. Zhevara
membenarkan posisi duduknya, demikian Rafka. Zhevara menoleh kea rah kanan dan
kiri taman untuk memastikan bahwa tak ada seorangpun yang mendengarkan
pembicaraan mereka ini. “Maaf dari awal aku tak jujur padamu Rafka. Aku ini
seorang dewi, mungkin lebih tepatnya setengah dewi dan setengah manusia. Aku di
rubah oleh Ayah kandungku sendiri karena Ibu tiriku telah memfitnahku bahwa aku
akan membunuh Raja Deandra, ayah kandungku sendiri.” Zhevara menghentikan
kalimatnya.
“Kamu… kamu bercanda Zhevara?” tanya Rafka. “Tidak Rafka, aku
serius. Aku ini Putri Bulan, cerita yang kamu dengar itu nyata Rafka. Itu
adalah kutukan untuk Kerajan kami Rafka, Kerajaan Bulan. Dulu, kisahku pernah
terjadi pada Kerajaan Matahari. Putri dari Raja Vanderga yaitu Putri Aliandra
di usir dan di rubah menjadi manusia oleh Raja Vanderga ayahnya sendiri. Di
bumi dia bertemu dengan seorang pemuda dan jatuh cinta padanya. Ketika Raja
Vanderga tau, dia amat murka. Lalu ia turun ke Bumi bersama Ratu Varela untuk
menghukum putrinya. Setelah,..”
Belum sempat Zhevara meneruskan kalimat itu tiba-tiba petir
menyambar. Langit yang terang berubah menjadi kelabu dalam sekejap. Lalu ada
seberkas cahaya putih menghampiri mereka berdua.
“Bagus sekali Zhevara kelakuanmu selama ini.” Ucap seorang
laki-laki. “Ayah?” Zhevara terkejut melihat Raja Deandra bersama Ratu Reyana.
“Kenapa nak? Kau terkejut melihat Ibu dan Ayah tercintamu yang hampir kau
bunuh datang menemuimu?” ucap Ratu Reyana sinis.
“Diam kau Reyana! Aku benci padamu.” Ucap Zhevara membentak dan
menjulurkan telunjuknya ke arah Ratu Reyana. “Ayah, kenapa ayah tega merubahku
seperti ini. Aku tidak mungkin membunuh Ayah, dia telah memfitnahku Ayah. Dia
yang ingin merebut takhtamu Ayah.”
“Berani-beraninya kau berkata seperti itu Vara. Terkutuk kau…”
ucap Raja Deandra. “Kutuklah aku Ayah, kutuklah aku jika aku bersalah. Aku
berani bersumpah jika aku salah aku akan hancur, melebur menjadi debu yang
bertebaran di dunia ini. Tapi jika aku benar, dia yang akan menggantikanku
menjadi butiran-butiran debu itu” Zhevara menunjuk ke arah Ratu Reyana.
Rafka yang sedari tadi hanya melongo melihat kejadian itu
akhirnya mengeluarkan suara, “Maksudnya apa ini Zhevara? Apa kamu sudah gila
berani bersumpah seperti itu?” Rafka membalikkan tubuh Zhevara.
“Ya aku sudah gila Rafka, gila karena tidak ada orang yang
percaya kepadaku. Termasuk kau Rafka.” Ucap Zhevara membentak. “Sekarang Ayah,
kutuklah aku jika aku bersalah. Dan kau Reyana, kau tau apa yang akan
terjadikan?” ucap Zhevara sinis.
“Ra, maafkan aku. Ok… ok… sekarang aku percaya dengan semua ini.
Walaupun gila, tapi aku selalu mempercayaimu Zhevara.” Rafka menggenggam tangan
Zhevara.
“Jadi itu maumu Vara? Baiklah Ayah turuti permintaanmu.” Ucap
Raja Dendra bijak. “Kanda, tidak perlu kau lakukan itu semua, dia anakmu, anak
kandungmu sendiri. Jika dia bersalah, dia akan melebur menjadi debu.” Ratu
Reyana ketakutan.
“Jangan tergoda dengan wanita jahat itu Ayah! Ayah lebih
bijaksana dari aku, sebaiknya Ayah mengambil keputusan yang tepat.” Ucap
Zhevara.
“Zhevara, apakah kau sudah gila?” ujar Ratu Reyana. “Kau takut
Reyana? Kau takut semua kebusukanmu selama ini terbongkarkan? Hahaha..” Zhevara
tertawa kecil.
“Kurang ajar kau Zhevara, Deathio Varada.” Ratu Reyana menjulurkan
tangan kanannya ke arah Zhevara dan mengucapkan sebuah kutukan hitam yang tak
boleh di ucapkan sembarangan, kutukan
kematian. Raja Deandra dan Zhevara terkejut mendengarnya. Seberkas
cahaya hitam ke luar dari tangan Ratu Reyana.
Entah karena angin yang berlalu, tiba-tiba Rafka mendorong tubuh
Zhevara hingga terjatuh. Dan, “Aaarrgg…” dalam sekejap Rafka tak sadarkan
diri.“Rafkaaaa…” Zhevara berteriak. Dia memeluk tubuh Rafka erat.
“Kau gila Reyana, kau dewi yang berhati iblis. Terkutuk kau
Reyana, akan kukurung kau di neraka selamanya.” Raja Deandra mengangkat
tangannya dan dalam sekejap Ratu Reyana menghilang, tanpa jejak sedikitpun.
“Rafka, bangun Rafka… jangan tinggalkan aku.” Ucap Zhevara
terisak. Dia menangisi Rafka, Zhevara menggoncang-goncangkan tubuh Rafka.
“Maafkan Ayah sayang, maafkan Ayah tak mempercayaimu.” Raja
Deandra hendak memeluk Zhevara. Tapi Zhevara segera menepisnya, “Aku akan
memaafkan Ayah kalau Ayah mengembalikanku menjadi seorang Dewi.” Ucapnya getir.
“Baiklah Vara jika itu maumu. Tak perlu memintapun pasti Ayah
akan mengembalikan ke wujud aslimu.” Ucap Raja Deandra. Kemudian Raja Deandra
mengucapkan sebuah mantra, perlahan-lahan tubuh Zhevara terangkat bersama
cahaya yang bersinar. Zhevara merentangkan tangannya, Rambutnya berubah seperti
sedia kala, putih. Tubuhnya bersinar terang, karena dia telah menjadi Putri
Bulan kembali.
Zhevara tersenyum, “Terimakasih Ayah, kau telah merubahku
kembali. Ayah tau apa maksudku ini?”
Raja Deandra tampak bingung, “Maksud kamu apa Zhevara? Apa
jangan-jangan kamu…”
“Ya benar Ayah, aku akan memberikan hidupku untuk Rafka. Aku
sangat mencintai Rafka Ayah. Tolong jaga dia Ayah setelah kepergianku nanti.”
Ucap Zhevara memandangi tubuh Rafka.
Tak terasa air mata Raja Deandrapun meleleh, “Baiklah Zhevara,
aku takkan melarangmu. Kamu sangat keras kepala tapi hati lembut, sama seperti
Ibumu Aliandra. Dia tak pernah mencintaiku Zhevara, tapi aku rela berkorban
apapun demi Aliandra. Aku sangat mencintainya Zhevara, seperti aku
mencintaimu.”
Zhevara terkejut mendengarkan cerita Ayahnya, dia baru
mengetahui bahwa Putri Raja Matahari adalah Ibunya. “Ayah, kenapa Ayah baru
menceritakan itu semua kepadaku?” Zhevara memeluk Ayahnya.
“Aku tidak ingin kau tahu, aku takut kutukan Varela akan terjadi
padamu. Karena hanya keturunan Aliandralah yang dapat menghentikan itu semua.
Tapi dia harus mati dengan menyerahkan nyawanya kepada manusia yang serakah.”
Ujar Raja Deandra.
“Ayah, Rafka sangat baik. Dia tidak jahat dan serakah seperti
yang Ayah pikirkan. Tidak semua manusia seperti itu Ayah.” Ucap Zhevara
meyakinkan.
“Benarkah itu?” tanya Raja Deandra. “Benar Ayah, aku sangat
yakin. Ayah setelah kepergianku tolong abadikan kisah ini untuk keturunan Ayah
selanjutnya. Dan jaga Rafka untukku Ayah. Ayah tak perlu sedih, jiwaku akan
akan bersama Ayah selamanya.” Zhevara tersenyum. Lalu ia memejamkan matanya,
sebuah bola Kristal berwarna putih keluar dari mulutnya. Kristal putih yang
bersinar itu masuk ke dalam tubuh Rafka. Sesaat kemudian Rafka tersedak dan
bangun.
Rafka melirik ke arah kanannya, dia melihat gadis pujaannya terkulai
lemas. “Zhevara…” Rafka berteriak. Dia memeluk tubuh gadis itu. “Rafka, aku
sangat mencintaimu. Maafkan aku karena Ragaku tak bisa mendampingimu. Tapi
jiwaku akan selalu ada dalam jiwamu Rafka.” Zhevara tersenyum dan memejamkan
matanya. Dia berubah menjadi seberkas cahaya, lalu pergi ke arah Bulan dan
Bintang yang berada di angkasa.
***
“Zhevara… Zhevara… jangan tinggalkan aku. Zhevara…” Rafka
berteriak dan terbangun dari tidurnya. Dia melihat sekelilingnya, mobil
yang berlalu lalang di jalan Raya. Lampu-lampu yang menyala terang di pinggir
taman, “Astaga,.. tadi aku bermimpi.” Rafka mengusap peluh yang ada di
keningnya.
***
Setelah mimpi itu hadir, Rafka telah berubah. Ia percaya dengan
Putri Bulan, Rafka percaya bahwa semua itu terjadi dalam dirinya. Dia mengalami
semua kejadian itu, tapi dalam alam bawah sadar Rafka.
Lea yang melihat perubahan pada diri Rafka awalnya bingung. Tapi
akhirnya dia senang bahwa Rafka telah merubah keputusannya. Rafka yang dulunya
tidak mau bermain drama Legenda Putri Bulan, sekarang dia yang paling
bersemangat dalam menjalani latihan. Ya.. sekarang Rafka percaya bahwa Legenda
itu memang benar, dan Putri
Bulan itu ada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jangan langsung kabur! Ayo ketik sesuatu dulu di sini :)