Uhuk-uhuk... mumpung ada waktu buat share, jadi saya sempetin posting\(´▽`)/ Cerpen ini udah pernah saya post di Facebook. Nggak percaya? Nih liat aja sendiri(¬-̮¬)-σAku, Dia, dan Gerimis.Udah ah, males ngomong banyak-banyak. Selamat membaca... (✿◠‿◠)
Aku, Dia, dan Gerimis
Aku telah jatuh
dalam jeratan cintanya yang begitu dalam. Sampai aku tak mampu ungkapkan apa
yang kurasa. Tapi aku juga tak bisa menahan rasa sakit ini. Kumohon, izinkanku
untuk tersenyum bahagia dalam dekapanmu. Itu saja, titik!
Tetesan gerimis
kala senja telah melebur menjadi satu dan membawa pergi air mata yang telah aku
keluarkan. Air mataku seperti gerimis. Biarpun tidak sederas hujan, setiap
rintiknya tetap jatuh kepadamu juga, satu demi satu. Aku memandang lurus kedepan, tatapanku kosong. Tak peduli bahwa
dirinya memandangku dengan rasa iba.
“Kamu kenapa
lagi Kara? Mereka lagi?” Tanya seorang lelaki yang satu tahun terakhir ini
telah mengisi hatiku, Vandy. Dia membalikkan tubuhku agar aku berhadapan
dengannya. Lalu ia mengangkat daguku, menatapku dengan sepasang matanya yang
teduh.
Aku menghelakan
napasku, “Kamu taukan, sejak awal tak ada satupun sahabatku yang setuju dengan
hubungan kita. Aku lelah mendengarkan mereka ketika mereka nge-judge kamu seenaknya. Aku tak tahan dengan perkataan mereka
Van, aku selalu membela kamu di depan mereka bahwa kamu tak seburuk dengan apa yang
mereka pikirkan selama ini.” Aku meneteskan air mataku kembali bersama gerimis
yang saat ini menemani kami, –aku dan Vandy.
Dia menghapus
air mataku dan membelai rambutku, lalu dia tersenyum. “Udahlah jangan nangis
lagi. Kalau mereka mau nge-judge aku
biarin aja, itu hak mereka. Mungkin mereka salah mengartikan sikapku selama
ini. Kamu nggak perlu belain aku sampai nangis kaya gini Ra, kamu percaya sama
aku itu udah lebih dari cukup. Karena aku cintanya sama kamu, bukan sama
mereka. Ini hati kita berdua, bukan mereka. Aku akan coba bersikap lebih baik
lagi, biar sahabat-sahabat kamu percaya dengan omongan kamu. Aku nggak mau
lihat kamu sedih lagi Kara, jadi please jangan
nangis lagi. Janji ini untuk terakhir kalinya kamu nangis karena aku. Ok!”
Aku hanya
tersenyum dan mengangguk. Lalu ia menggenggam tanganku erat, kemudian
merentangkan tangannya dan tanganku bersama. Kami merasakan lelehan air yang
membasahi tubuh kami, sejenak melepaskan semua kepenatan yang ada dalam hati
kami.
“Kamu tau nggak
Ra, kenapa aku nggak mau pindah ke Bandung?” tanyanya dengan menatapku dari
samping. Aku menyandarkan kepalaku pada bahunya, “Enggak, kenapa Van?”
“Untuk apa aku
jauh-jauh pergi kesana, sementara disini, dalam dirimu, aku sudah menemukan alasan
hidup, bahagia bersamamu.” Dia mendendekapku dari belakang. Aku menutup mataku,
merasakan setiap detik dekapan yang ia berikan.
***
“Gue tuh cuma
nggak mau elo sakit Ra, udah itu aja. Feeling
gue selalu berkata enggak sama dia. Ayolah Ra, buka mata dan hati lo. Lo
berhak ngedapetin cowok lebih baik dari dia.” Ucap sahabatku, Rea.
“Re, gue
percaya sama dia. Entah kenapa hati gue selalu berkata dia, dan selalu dia.
Terserah Re, lo mau menganggap dia apa. Tapi yang pasti, gue selalu berharap
elo ngedukung hubungan gue sama Vandy.” Ucapku tegas.
“Ok Ra, gue
dukung hubungan kalian. Tapi gue masih akan tetep mantau kelakuan Vandy. Gue
nggak mau sahabat gue sakit.” Ucap Diana sambil menepuk bahuku. Lalu diikuti
Rea dengan menganggukan kepalanya, tanda dia menyetujui keputusan Diana.
Andaikan aku
bisa mengendalikan waktu, akan ku perlambat waktu ini agar aku bisa lebih lama
bersamamu. Merasakan belaian kasihmu, serta kelembutan cintamu yang setiap detiknya
menemani langkahku.
Adalah dirimu
semata sebab yang menghadirkan bahagiaku berlinang air mata. Adalah dirimu yang
mampu menopang raga ini ketika terjatuh. Adalah dirimu yang selalu membajak
pikiranku dengan lukisan senyummu.
“Ra, bahkan aku
telah melepaskan mimpi-mimpiku di Bandung serta… dia.” Ucap Vandy, dia
memandang kearah sunset. Kami berada
di Pantai. Aku terkejut, dan menoleh ke arahnya, “Maksud kamu Van? Lalu aku ini
apa?”
Dia tersenyum
lalu membelai rambutku, “Kenyataan cinta yang kubela.” Dia menggenggam
tanganku, lalu mengarahkan kepalaku agar aku bersandar pada tubuhnya. “Love you
Karania Zavantra.” “Love you too Vandyo Nugroho.”
Detik
ini juga, aku ingin membunuh waktu.
Bukan cinta yang memisahkan, tapi kita yang membuatnya terjadi.
Bukan cinta yang melukai, kita yang membuatnya terjadi sedemikian rupa. Dan
semoga kita tak pernah berpikir tuk melakukannya Vandy. Karena dirimu, aku
menemukan bayangan yang selama ini ku cari.
“Van, jadi artinya kita nggak satu sekolah lagi? Kenapa harus
disana?” tanyaku sedikit kesal.
“Ra, ini kehendak orang tua aku. Aku udah ngejelasin berkali-kali
sama mereka, tapi mereka tetap nggak mau mengubah kehendaknya. Yang terpenting
kita tetap jaga hati kita Ra, aku jaga hati kamu dan kamu jaga hati aku. Jarak
bukan halangan cinta kita untuk tetap bersemi.” Dia tersenyum padaku. Lalu dia
memelukku sejenak dan bertanya padaku, ”Seperti apa kamu menginginkanku?”
Aku melepaskan pelukannya, lalu membelai lembut wajahnya dan
terhenti pada sudut senyumannya. “Lebih dari itu. Aku membutuhkanmu tanpa
kecuali, apalagi seperti.” Sedetik kemudian, kami tersenyum bersama.
Rasanya berbeda sekali ketika dia tak berada dalam pandanganku. Dua
bulan bukan waktu yang singkat tanpanya. Tapi aku harus mengerti, suatu saat
semuanya akan berpisah ketika dipertemukan.
Saat ini aku sedang memandang pohon angsana yang daunnya berguguran.
Tiba-tiba ada yang duduk disampingku. “Ra, lo masih sama Vandy?” Tanya seorang
gadis padaku.
Aku menautkan kedua alisku, “Masih, emang kenapa Vi?” tanyaku pada
Via. Via menghelakan napasnya, “Bukannya gue mau jelek-jelekin Vandy ya Ra,
tapi gue dikasih tau sama saudara gue kalau Vandy itu lagi deket sama cewek di
Bandung. Kalau dilihat dari kelakuan mereka berdua, saudara gue menganggap
mereka pacaran. Tapi nggak tau itu bener apa enggak. Gue cuma ngomong apa yang
diomongin saudara gue loh Ra. Bukan mau nge-judge
Vandy seenaknya.” Via menepuk bahuku.
Aku tersenyum, “Iya Vi, makasih ya info-nya. Iya sih akhir-akhir
ini Vandy jarang ngasih kabar. Gue sih mikirnya mungkin Vandy lagi sibuk
ngurusin tugas-tugasnya. Tapi, setelah lo ngomong kaya gini perasaan gue kok
jadi beda ya?”
“Sebaiknya lo cari tau kebenaran berita ini dulu deh. Jangan
langsung nge-judge Vandy. Gue pasti
bantu lo kok Ra, Diana, sama Rea juga.” Kata Via.
“Thanks Vi, elo, Rea,
sama Diana emang sahabat terbaik gue. Gue sayang banget sama kalian.” Aku
memeluk Via. “Iya, sama-sama Ra,” Via melepaskan pelukanku. “Eh, coba lo tanya
sahabatnya Vandy, si Karin itu. Barangkali dia tau semuanya.”
Sudah satu
minggu ini Vandy benar-benar menghilang. Saat ini, ditemani nilanya senja, aku
bergegas ke rumah Karin. Ketika sampai di rumah Karin, aku langsung menumpahkan
apa yang selama ini mengganggu pikiranku. Karin hanya menyuruhku untuk tetap
bersabar, dia juga tak pernah menghubungi Vandi begitupun sebaliknya. Vandy,
kau ini dimana?
Satu-satunya
kesalahanku adalah mencintaimu. Kesalahan berlapis yang kusyukuri, karena tak
pernah ada penyesalan yang mengikuti. Karena bisa mencintaimu adalah sebuah
keajaiban sempurna yang mengakar lekang dalam barisan hari. Hari itu –ketika
kita bersama mengucap janji, tunduk teduh pada keakuan hati, detik ini dan
selamanya, nanti.
Absurd tapi
absolute. Begitu mengagumkan kemiripan antara cinta dan kegilaan. Dua-duanya
serba tak terduga. Rinduku padamu telah membumihanguskan kewarasan, itulah
nyatanya. Seperti lilin yang membakar dirinya hingga luluh lantak pada
ketiadaan. Menjadi awal seperti sedia kala, senyawa dalam dirinya tanpa api
yang berpijar sebagai titik pengakhirannya.
Ddrrt..
drrtt.. drrt.. Ketika hati ini tetapkan pilihan, adakah kuasa diri tuk coba
abaikan. Selalu ku katakan engkaulah yang tercakap. Dalam setiap langkah kau
tuntun mimpiku.
One message received. Aku
segera membukanya, “Tyo’? Tumben dia sms gue.”
From : Tyo’
Eh Ra, lo udah putus ya sama Vandy ya? Gue kemaren liat
dia sama cewek mesra banget deh. Kok elo
putus nggak bilang-bilang gue sih? Kan jadinya gue bisa daftar jadi pacar lo
gitu. Haha *eh
Napasku
terhenti sejenak, bukan kali pertama aku mendengar berita seperti ini. Lalu
dengan cepat aku membalasnya.
To : Tyo’
Lo tau dia dimana? Gue belom putus sama Vandy Yo’.
Tapi udah beberapa bulan terakhir ini Vandy nggak ngasih gue kabar. Gue juga
bingung mau cari dimana, kerumahnya? Nggak mungkinlah gue dari Jakarta langsung
loncat ke Bandung. Lo sekarang di Bandung apa di Jakarta yo’?
From : Tyo’
Hah? Yang bener lo? Gue liat dia di PVJ. Gue
sekarang di Jakarta, lo di rumahkan? Gue ke rumah lo aja deh biar lebih enak
ceritanya.
To : Tyo’
Ya gue di rumah. Gue tunggu lo, ati-ati di jalan.
“Sstt.. ssstt
udah Ra, udah jangan nangis. Kita juga belom tau Vandy beneran punya cewek lain
jugakan? Kita harus selidiki lagi.” Ucap Tyo, dia menghapus air mataku.
“Sebenernya gue
udah lama ngerasa aneh sama sifat Vandy yang tiba-tiba acuh gitu ke gue. Tapi
gue diem aja, gue tahan Yo’. Gue nggak mau langsung nge-judge dia.” Aku terisak.
Tyo’ menepuk
bahuku, “Ra, sebenernya gue kenal sama cewek yang jalan sama Vandy kemarin. Dan
gue juga tau nomor HP-nya. Karena dia satu organisasi sama gue. Apa gue coba
telepon dia aja? Namanya Deta.” Tyo mengambil handphone-nya, lalu dia menelpon gadis itu –Deta.
***
“Jadi benarkan
apa yang mereka katakan? Jawab Van, jawab.” Aku tak dapat menahan emosiku.
Sia-sia saja pengorbananku selama ini. Aku selalu membelanya, dan dia?
Menjatuhkanku.
“Lo tau
seberapa rendahnya gue dimata temen-temen gue waktu gue belain elo saat mereka nge-judge elo? Lo nyadar nggak sih?
Sakit Van, sakit. Ketika orang yang sangat dicintainya dihina dan dicaci maki
orang lain, dan kita berusaha mati-matian buat belain dia. Dan sekarang dia
berkhianat. Elo berkhianat Van, lo ingkar sama janji-janji lo. Lo tuh arrgg…”
aku memukul dinding rumah Vandy, ya Tyo’ mengantarkanku kerumah Vandy. Bandung.
Vandy tediam,
dia menundukkan kepalanya. Sesaat kemudian dia mengangkat wajahnya dan
menghelakan napasnya. “Maafin gue Ra, maaf. Gue nggak bisa bohongin perasaan
gue, tiba-tiba gue mulai tertarik sama Deta. Jangan salahin dia, karena dia
nggak tau apa-apa. Lo berhak benci gue. Maaf Ra.” Dia berusaha menggenggam
tanganku, tapi aku menolaknya.
Aku memandang
kearah halaman rumah Vandy, disana Tyo’ menganggukan kepalanya dan tersenyum
padaku. “Oke, gue maafin elo. Dan anggap gue nggak pernah kenal lo. Terimakasih
buat semua kenangan pahit dan manis yang elo torehkan ke hati gue. Gue nggak
bisa lama-lama Van, gue pulang dulu.” Aku segera menghampiri Tyo’ yang telah
menunggu di halaman rumah Vandy. Aku mencoba untuk tetap tegar, aku tak ingin
menangisi laki-laki itu lagi. Pergilah Vandy, pergi dan menghilanglah dari
hidupku, selamanya.
Tyo’ menepuk
pundakku, lalu dia tersenyum padaku. “Makasih Yo’ lo udah bantuin gue.” Dia
mengangguk dan mengacak-acak rambutku. “
***
Kamu telah
mengajarkanku bagaimana menari dalam gerimis. Dan saat ini, gerimis itu telah berubah
menjadi hujan, dalam hujan itu kutemukan tawa dan tangis mengeja bahagia
bersamamu, satu demi satu. Akan kusimpan aroma luka ini dalam bejana yang
kututup rapat-rapat. Biarlah jadi sunyi dan kunikmati keheningannya sampai
hilang tak bersisa.
“Aku tak
berharap menjadi superhero. Aku hanya
ingin coba semampunya menjadi hero
biasa, di hatimu. Someday, someway, and
somehow. Aku mencintaimu di luar pemahaman. Selesai! Dan aku bahagia
Karania Zavantra.”
Aku menoleh
kebelakang, sedetik kemudian senyumanku terlukis pada bibir ini.
Saturday, November 17,
2012
TAMAT

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jangan langsung kabur! Ayo ketik sesuatu dulu di sini :)