Sabtu, 02 Maret 2013

Aku, Dia, dan Gerimis




Uhuk-uhuk... mumpung ada waktu buat share, jadi saya sempetin posting\(´▽`)/ Cerpen ini udah pernah saya post di Facebook. Nggak percaya? Nih liat aja sendiri(¬-̮¬)-σAku, Dia, dan Gerimis.Udah ah, males ngomong banyak-banyak. Selamat membaca... (✿◠‿◠)​





Aku, Dia, dan Gerimis

Aku telah jatuh dalam jeratan cintanya yang begitu dalam. Sampai aku tak mampu ungkapkan apa yang kurasa. Tapi aku juga tak bisa menahan rasa sakit ini. Kumohon, izinkanku untuk tersenyum bahagia dalam dekapanmu. Itu saja, titik!
Tetesan gerimis kala senja telah melebur menjadi satu dan membawa pergi air mata yang telah aku keluarkan. Air mataku seperti gerimis. Biarpun tidak sederas hujan, setiap rintiknya tetap jatuh kepadamu juga, satu demi satu. Aku memandang lurus kedepan, tatapanku kosong. Tak peduli bahwa dirinya memandangku dengan rasa iba.
“Kamu kenapa lagi Kara? Mereka lagi?” Tanya seorang lelaki yang satu tahun terakhir ini telah mengisi hatiku, Vandy. Dia membalikkan tubuhku agar aku berhadapan dengannya. Lalu ia mengangkat daguku, menatapku dengan sepasang matanya yang teduh.
Aku menghelakan napasku, “Kamu taukan, sejak awal tak ada satupun sahabatku yang setuju dengan hubungan kita. Aku lelah mendengarkan mereka ketika mereka nge-judge kamu seenaknya. Aku tak tahan dengan perkataan mereka Van, aku selalu membela kamu di depan mereka bahwa kamu tak seburuk dengan apa yang mereka pikirkan selama ini.” Aku meneteskan air mataku kembali bersama gerimis yang saat ini menemani kami, –aku dan Vandy.
Dia menghapus air mataku dan membelai rambutku, lalu dia tersenyum. “Udahlah jangan nangis lagi. Kalau mereka mau nge-judge aku biarin aja, itu hak mereka. Mungkin mereka salah mengartikan sikapku selama ini. Kamu nggak perlu belain aku sampai nangis kaya gini Ra, kamu percaya sama aku itu udah lebih dari cukup. Karena aku cintanya sama kamu, bukan sama mereka. Ini hati kita berdua, bukan mereka. Aku akan coba bersikap lebih baik lagi, biar sahabat-sahabat kamu percaya dengan omongan kamu. Aku nggak mau lihat kamu sedih lagi Kara, jadi please jangan nangis lagi. Janji ini untuk terakhir kalinya kamu nangis karena aku. Ok!”
Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Lalu ia menggenggam tanganku erat, kemudian merentangkan tangannya dan tanganku bersama. Kami merasakan lelehan air yang membasahi tubuh kami, sejenak melepaskan semua kepenatan yang ada dalam hati kami.
“Kamu tau nggak Ra, kenapa aku nggak mau pindah ke Bandung?” tanyanya dengan menatapku dari samping. Aku menyandarkan kepalaku pada bahunya, “Enggak, kenapa Van?”
“Untuk apa aku jauh-jauh pergi kesana, sementara disini, dalam dirimu, aku sudah menemukan alasan hidup, bahagia bersamamu.” Dia mendendekapku dari belakang. Aku menutup mataku, merasakan setiap detik dekapan yang ia berikan.
***
“Gue tuh cuma nggak mau elo sakit Ra, udah itu aja. Feeling gue selalu berkata enggak sama dia. Ayolah Ra, buka mata dan hati lo. Lo berhak ngedapetin cowok lebih baik dari dia.” Ucap sahabatku, Rea.
“Re, gue percaya sama dia. Entah kenapa hati gue selalu berkata dia, dan selalu dia. Terserah Re, lo mau menganggap dia apa. Tapi yang pasti, gue selalu berharap elo ngedukung hubungan gue sama Vandy.” Ucapku tegas.
“Ok Ra, gue dukung hubungan kalian. Tapi gue masih akan tetep mantau kelakuan Vandy. Gue nggak mau sahabat gue sakit.” Ucap Diana sambil menepuk bahuku. Lalu diikuti Rea dengan menganggukan kepalanya, tanda dia menyetujui keputusan Diana.
Andaikan aku bisa mengendalikan waktu, akan ku perlambat waktu ini agar aku bisa lebih lama bersamamu. Merasakan belaian kasihmu, serta kelembutan cintamu yang setiap detiknya menemani langkahku.
Adalah dirimu semata sebab yang menghadirkan bahagiaku berlinang air mata. Adalah dirimu yang mampu menopang raga ini ketika terjatuh. Adalah dirimu yang selalu membajak pikiranku dengan lukisan senyummu.
“Ra, bahkan aku telah melepaskan mimpi-mimpiku di Bandung serta… dia.” Ucap Vandy, dia memandang kearah sunset. Kami berada di Pantai. Aku terkejut, dan menoleh ke arahnya, “Maksud kamu Van? Lalu aku ini apa?”
Dia tersenyum lalu membelai rambutku, “Kenyataan cinta yang kubela.” Dia menggenggam tanganku, lalu mengarahkan kepalaku agar aku bersandar pada tubuhnya. “Love you Karania Zavantra.” “Love you too Vandyo Nugroho.”
Detik ini juga, aku ingin membunuh waktu.
Bukan cinta yang memisahkan, tapi kita yang membuatnya terjadi. Bukan cinta yang melukai, kita yang membuatnya terjadi sedemikian rupa. Dan semoga kita tak pernah berpikir tuk melakukannya Vandy. Karena dirimu, aku menemukan bayangan yang selama ini ku cari.
“Van, jadi artinya kita nggak satu sekolah lagi? Kenapa harus disana?” tanyaku sedikit kesal.
“Ra, ini kehendak orang tua aku. Aku udah ngejelasin berkali-kali sama mereka, tapi mereka tetap nggak mau mengubah kehendaknya. Yang terpenting kita tetap jaga hati kita Ra, aku jaga hati kamu dan kamu jaga hati aku. Jarak bukan halangan cinta kita untuk tetap bersemi.” Dia tersenyum padaku. Lalu dia memelukku sejenak dan bertanya padaku, ”Seperti apa kamu menginginkanku?”
Aku melepaskan pelukannya, lalu membelai lembut wajahnya dan terhenti pada sudut senyumannya. “Lebih dari itu. Aku membutuhkanmu tanpa kecuali, apalagi seperti.” Sedetik kemudian, kami tersenyum bersama.

Rasanya berbeda sekali ketika dia tak berada dalam pandanganku. Dua bulan bukan waktu yang singkat tanpanya. Tapi aku harus mengerti, suatu saat semuanya akan berpisah ketika dipertemukan.
Saat ini aku sedang memandang pohon angsana yang daunnya berguguran. Tiba-tiba ada yang duduk disampingku. “Ra, lo masih sama Vandy?” Tanya seorang gadis padaku.
Aku menautkan kedua alisku, “Masih, emang kenapa Vi?” tanyaku pada Via. Via menghelakan napasnya, “Bukannya gue mau jelek-jelekin Vandy ya Ra, tapi gue dikasih tau sama saudara gue kalau Vandy itu lagi deket sama cewek di Bandung. Kalau dilihat dari kelakuan mereka berdua, saudara gue menganggap mereka pacaran. Tapi nggak tau itu bener apa enggak. Gue cuma ngomong apa yang diomongin saudara gue loh Ra. Bukan mau nge-judge Vandy seenaknya.” Via menepuk bahuku.
Aku tersenyum, “Iya Vi, makasih ya info-nya. Iya sih akhir-akhir ini Vandy jarang ngasih kabar. Gue sih mikirnya mungkin Vandy lagi sibuk ngurusin tugas-tugasnya. Tapi, setelah lo ngomong kaya gini perasaan gue kok jadi beda ya?”
“Sebaiknya lo cari tau kebenaran berita ini dulu deh. Jangan langsung nge-judge Vandy. Gue pasti bantu lo kok Ra, Diana, sama Rea juga.” Kata Via.
Thanks Vi, elo, Rea, sama Diana emang sahabat terbaik gue. Gue sayang banget sama kalian.” Aku memeluk Via. “Iya, sama-sama Ra,” Via melepaskan pelukanku. “Eh, coba lo tanya sahabatnya Vandy, si Karin itu. Barangkali dia tau semuanya.”
Sudah satu minggu ini Vandy benar-benar menghilang. Saat ini, ditemani nilanya senja, aku bergegas ke rumah Karin. Ketika sampai di rumah Karin, aku langsung menumpahkan apa yang selama ini mengganggu pikiranku. Karin hanya menyuruhku untuk tetap bersabar, dia juga tak pernah menghubungi Vandi begitupun sebaliknya. Vandy, kau ini dimana?

Satu-satunya kesalahanku adalah mencintaimu. Kesalahan berlapis yang kusyukuri, karena tak pernah ada penyesalan yang mengikuti. Karena bisa mencintaimu adalah sebuah keajaiban sempurna yang mengakar lekang dalam barisan hari. Hari itu –ketika kita bersama mengucap janji, tunduk teduh pada keakuan hati, detik ini dan selamanya, nanti.
Absurd tapi absolute. Begitu mengagumkan kemiripan antara cinta dan kegilaan. Dua-duanya serba tak terduga. Rinduku padamu telah membumihanguskan kewarasan, itulah nyatanya. Seperti lilin yang membakar dirinya hingga luluh lantak pada ketiadaan. Menjadi awal seperti sedia kala, senyawa dalam dirinya tanpa api yang berpijar sebagai titik pengakhirannya.
Ddrrt.. drrtt.. drrt.. Ketika hati ini tetapkan pilihan, adakah kuasa diri tuk coba abaikan. Selalu ku katakan engkaulah yang tercakap. Dalam setiap langkah kau tuntun mimpiku.
One message received. Aku segera membukanya, “Tyo’? Tumben dia sms gue.”
From : Tyo’
Eh Ra, lo udah putus ya sama Vandy ya? Gue kemaren liat dia sama cewek mesra banget deh. Kok  elo putus nggak bilang-bilang gue sih? Kan jadinya gue bisa daftar jadi pacar lo gitu. Haha *eh
Napasku terhenti sejenak, bukan kali pertama aku mendengar berita seperti ini. Lalu dengan cepat aku membalasnya.
To : Tyo’
Lo tau dia dimana? Gue belom putus sama Vandy Yo’. Tapi udah beberapa bulan terakhir ini Vandy nggak ngasih gue kabar. Gue juga bingung mau cari dimana, kerumahnya? Nggak mungkinlah gue dari Jakarta langsung loncat ke Bandung. Lo sekarang di Bandung apa di Jakarta yo’?
From : Tyo’
Hah? Yang bener lo? Gue liat dia di PVJ. Gue sekarang di Jakarta, lo di rumahkan? Gue ke rumah lo aja deh biar lebih enak ceritanya.
To : Tyo’
Ya gue di rumah. Gue tunggu lo, ati-ati di jalan.

“Sstt.. ssstt udah Ra, udah jangan nangis. Kita juga belom tau Vandy beneran punya cewek lain jugakan? Kita harus selidiki lagi.” Ucap Tyo, dia menghapus air mataku.
“Sebenernya gue udah lama ngerasa aneh sama sifat Vandy yang tiba-tiba acuh gitu ke gue. Tapi gue diem aja, gue tahan Yo’. Gue nggak mau langsung nge-judge dia.” Aku terisak.
Tyo’ menepuk bahuku, “Ra, sebenernya gue kenal sama cewek yang jalan sama Vandy kemarin. Dan gue juga tau nomor HP-nya. Karena dia satu organisasi sama gue. Apa gue coba telepon dia aja? Namanya Deta.” Tyo mengambil handphone-nya, lalu dia menelpon gadis itu –Deta.
***
“Jadi benarkan apa yang mereka katakan? Jawab Van, jawab.” Aku tak dapat menahan emosiku. Sia-sia saja pengorbananku selama ini. Aku selalu membelanya, dan dia? Menjatuhkanku.
“Lo tau seberapa rendahnya gue dimata temen-temen gue waktu gue belain elo saat mereka nge-judge elo? Lo nyadar nggak sih? Sakit Van, sakit. Ketika orang yang sangat dicintainya dihina dan dicaci maki orang lain, dan kita berusaha mati-matian buat belain dia. Dan sekarang dia berkhianat. Elo berkhianat Van, lo ingkar sama janji-janji lo. Lo tuh arrgg…” aku memukul dinding rumah Vandy, ya Tyo’ mengantarkanku kerumah Vandy. Bandung.
Vandy tediam, dia menundukkan kepalanya. Sesaat kemudian dia mengangkat wajahnya dan menghelakan napasnya. “Maafin gue Ra, maaf. Gue nggak bisa bohongin perasaan gue, tiba-tiba gue mulai tertarik sama Deta. Jangan salahin dia, karena dia nggak tau apa-apa. Lo berhak benci gue. Maaf Ra.” Dia berusaha menggenggam tanganku, tapi aku menolaknya.
Aku memandang kearah halaman rumah Vandy, disana Tyo’ menganggukan kepalanya dan tersenyum padaku. “Oke, gue maafin elo. Dan anggap gue nggak pernah kenal lo. Terimakasih buat semua kenangan pahit dan manis yang elo torehkan ke hati gue. Gue nggak bisa lama-lama Van, gue pulang dulu.” Aku segera menghampiri Tyo’ yang telah menunggu di halaman rumah Vandy. Aku mencoba untuk tetap tegar, aku tak ingin menangisi laki-laki itu lagi. Pergilah Vandy, pergi dan menghilanglah dari hidupku, selamanya.
Tyo’ menepuk pundakku, lalu dia tersenyum padaku. “Makasih Yo’ lo udah bantuin gue.” Dia mengangguk dan mengacak-acak rambutku. “
***
Kamu telah mengajarkanku bagaimana menari dalam gerimis. Dan saat ini, gerimis itu telah berubah menjadi hujan, dalam hujan itu kutemukan tawa dan tangis mengeja bahagia bersamamu, satu demi satu. Akan kusimpan aroma luka ini dalam bejana yang kututup rapat-rapat. Biarlah jadi sunyi dan kunikmati keheningannya sampai hilang tak bersisa.
“Aku tak berharap menjadi superhero. Aku hanya ingin coba semampunya menjadi hero biasa, di hatimu. Someday, someway, and somehow. Aku mencintaimu di luar pemahaman. Selesai! Dan aku bahagia Karania Zavantra.”
Aku menoleh kebelakang, sedetik kemudian senyumanku terlukis pada bibir ini.




 Saturday, November 17, 2012


 TAMAT



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan langsung kabur! Ayo ketik sesuatu dulu di sini :)