Sabtu, 02 Maret 2013

Berakhir Indah





Langit terlihat begitu mendung, seperti hati pelayat yang berada dipemakaman. Batu nisan yang bertuliskan "Rara Dina Winata" berdiri tegar di atas gundukan tanah merah yang basah.
Semua tampak sedih apalagi Reza, “Vandi Reza Pramudinata” sahabat Rara. Rara dan Reza saling mencintai, tapi Reza terlambat menyadari itu semua.
"Ra, kenapa kamu tinggalin aku? Aku tau aku salah, aku terlambat mengingat itu semua. Aku sayang kamu Ra." Ucap Reza lirih. Dia terus mengeluarkan air matanya, hatinya sangat terpukul melihat batu nisan yang ada di depannya.
"Udahlah Za, ini semua kehendak Tuhan. Yakinlah, semua akan berakhir indah. Loe nggak perlu nyesel sama semua ini. Harusnya Loe berterima kasih sama Tuhan, seenggaknya loe dipertemukan kembali sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya." ucap seorang lelaki kepada Reza.
"Loe nggak tau apa yang gue rasain Rama, gue udah jahat sama dia. Gue nggak bisa kasih yang terbaik di saat - saat terakhir Rara. Tapi malah sebaliknya, gue bersikap jahat sama dia, bahkan gue lupa siapa dia Rama." bentak Reza kepada Rama. Rama adalah saudara sepupu Reza, dia juga mencintai Rara sejak pertama bertemu.
"Loe udah ngasih yang terbaik buat Rara Za. Tapi loe nggak sadar. Sebelum dia meninggal loe udah inget semuanya. Loe inget sama masa lalu loe, dan loe juga bisa menyatakan perasaan loe ke Rara." Ucap Rama sambil menepuk bahu Reza.
"Yang kehilangan dia bukan cuma loe Za, gue juga kehilangan dia. Keluarga dia sama orang - orang yang sayang sama dia juga kehilangan dia Za." Ucap Rama menenangkan Reza. Rama terlihat lebih tegar dibandingkan Reza. “Rama Karisma Wijaya” seorang lelaki yang mencintai Rara lebih dari Reza mencintai Rara. Bagaimana tidak? Rama selalu bersabar ketika Rara bercerita tentang Reza. Dia juga selalu bersedih jika melihat Rara menangis karena Reza. Rama selalu menghibur Rara dan selalu ada untuk Rara. Rama berkeyakinan suatu saat nanti Rara pasti akan mencintai Rama seperti dia mencintai Rara. Tapi Tuhan berkehendak lain, Rara meninggalkan mereka semua untuk selamanya.
"Sekarang kita doa'in Rara, biar dia tenang disana." Rama menundukkan kepalanya di ikuti Reza. Setelah selesai berdoa mereka semua kembali ke rumah masing – masing.

Hari demi haripun berlalu, satu tahun sudah Rara meninggalkan Reza dan Rama selamanya. Tanpa sosok Rara keduanya tampak begitu sedih. Siapa lagi kalau bukan "Reza dan Rama"? terlibat dalam cinta segita yang berakhir dengan kematian.
"Za, semenjak Rara meninggal kita selalu murung. Gue sadar Za, cinta itu nggak harus memiliki dan harus dimiliki oleh orang yang kita cintai. Terlalu banyak cinta kita untuk Rara, sampai - sampai kita melupakan orang - orang di sekeliling kita." Ucap Rama memandang langit – langit kamar Reza. Ya, semenjak kepergian Rara Tante Kamila ibunda Reza meminta Rama untuk menemani Reza.
"Maksud loe apa Rama? Gue nggak ngerti" Kata Reza sambil mengernyitkan keningnya. Rama menghela nafasnya, "Gue mau kita berjanji untuk selalu menjaga cinta kita untuk Rara selamanya di relung hati kita yang paling dalam…” belum sempat Rama mengakhiri kalimatnya Reza memotong pembicaraannya.
“Nggak usah janji aja gue udah ngelakuin itu Rama.” Ucap Reza kesal. Reza pergi menuju balkon kamarnya diikuti dengan Rama.
“Dengerin gue dulu Reza, seharusnya kita membuka hati untuk orang lain. Udah 1 tahun kita kaya gini, pasti Rara disana juga sedih liat kita kaya gini. Gimana setuju?" Rama melihat Reza yang sedang memandang langit senja.
Tampak Reza sedang berpikir, "Ok gue setuju. Tapi kita nggak boleh mencintai wanita yang sama dalam waktu yang bersamaan. Gue nggak mau kejadian yang dulu terulang lagi. Setuju?" Reza mengulurkan tangannya. “Setuju.” Ucap Rama mantap.
Mereka menikmati pemandangan senja bersama. Semenjak kepergian Rara, mereka lebih akur dibandingkan dulu.

Mentari tersenyum pagi ini, langit tampak begitu cerah secerah hati Reza dan Rama. Yap, setelah lama termenung mereka berusaha untuk bangkit. Hari ini adalah tahun ajaran baru untuk mahasiswa – mahasiswi tahun 2012/2013, mereka berdua adalah salah satu senior ospek kali ini.
“Pagi adik – adik semuanya.” Ucap salah seorang senior sedikit berteriak. Perawakannya tinggi, tubuhnya atletis, mukanya berbentuk oval serta putih. Tampak begitu manis ketika dia tersenyum memperlihatkan deretan behel digiginya. Siapa lagi kalau bukan “Rama Karisma Wijaya”.
“Pagi Kak…” jawab para junior.
“Hari ini adalah hari pertama kalian ospek, perkenalkan nama saya Rama Karisma Wijaya panggil saja Rama atau Kak Rama. Saya ketua panitia Ospek tahun ini, dan di sebelah saya Vandi Reza Pramudinata panggil saja Reza atau Kak Reza, dia adalah wakil ketua panitia Ospek tahun ini.” Ucap Rama mantap. Acara Ospek hari ini adalah perkenalan dari Panitia serta memperkenalkan gedung yang ada di Universitas Indonesia.
“Eh Za, gue ke toilet sebentar yah? Loe gantiin gue bentar ok?” ucap Rama berbisik kepada Reza. “Ya udah sana cepetan. Hhmmbb…” Reza menggelengkan kepala melihat tingkah sepupu sekaligus sahabatnya itu.

Setelah selesai dari toilet, Rama berlari menuju Aula. Tiba – tiba bbrruuuukkk… Rama menabrak sesorang.
“Maaf – maaf Kak, saya nggak sengaja.” Ucap gadis itu ketakutan, dia junior baru. Rama memandang gadis itu dari ujung kepala sampai kaki. “Manis.” batin Rama. “Putih, tinggi, langsing, rambutnya panjang. Terlihat lebih anggun jika rambutnya tergerai, dan…  dia juga memakai behel kaya gue.” ucap Rama dalam hati.
“Kak saya minta maaf, saya tadi terburu – buru. Tadi saya dari toilet, karena terburu- buru saya jadi kurang berhati – hati.” Ucap gadis itu menunduk.
Rama tersadar, “Oh ya nggak apa – apa kok. Aku tadi juga buru – buru.” Rama tersenyum memperlihatkan behelnya.
“Makasih kak, aku kesana dulu kak Rama. Permisi.” Kata gadis itu tersenyum dan berlalu pergi.
Rama terdiam, dia terpesona dengan gadis itu. “Rama, Rama… ngapain loe disitu?” teriak seseorang dari arah Aula. Rama tersadar dari lamunannya “Eh, iya bentar.” Rama segera berlari ke arah Aula.

Masa – masa Ospekpun berlalu, akhir – akhir ini Rama sering memikirkan gadis itu. Apakah dia jatuh cinta pada pandangan pertama? Mungkin ya?
“Kenapa gue mikirin dia sih? Aduh Rama, jangan mengulang kesalahan yang kedua kalinya.” Kata Rama dalam hati. Dia melamunkan gadis itu, masih tergambar jelas senyum gadis itu dalam memory otaknya.
“Rama.” Ucap seseorang mengagetkan Rama. “Eh iya… ada apa Za?” Rama tersadar dari lamunannya.
“Loe kenapa sih akhir – akhir ini sering ngelamun nggak jelas kaya gitu? Mikirin Rara lagi ya?”  tanya Reza menatap Rama sinis.
“Ahh enggak Za, gue kangen nyokap sama bokap gue.” jawab Rama berdusta.
Reza menghela nafasnya kemudian menepuk bahu kanan Rama, “Loe yang sabar Rama, Om sama Tante Karisma di Inggris juga buat hidup loekan? Dia kerja buat loe, buat kuliah loe. Sabar brada gue selalu di samping loe.” Ucap Reza tersenyum. Reza sangat pecaya kepada Rama.
“Makasih Za, loe saudara sekaligus sahabat gue yang paling baik.” Rama tersenyum. “Maaf Za, gue terpaksa bohong sama loe, soalnya gue juga masih bingung sama perasaan gue. Suatu saat nanti pasti gue bakalan cerita.” Kata Rama dalam hati.
“Gue ke kantin dulu Ya brada? Loe mau ikut nggak?” tanya Reza. “Nggak Za, loe sendiri aja. Gue pengen disini dulu.” Jawab Rama merebahkan tubuhnya di kursi taman.
“Ok! Ati – ati entar loe kesambet sama yang nunggu tuh pohon.” Bisik Reza sambil menunjuk pohon yang cukup besar di tengah – tengah taman Kampus.
“Biarin. Entar gue ajak kenalan deh. Hahahagggg…” Rama tertawa. Reza hanya geleng – geleng kepala dan meninggalkan Rama sendirian. Rama memang lebih suka menyendiri jika dia mempunyai masalah.

Reza berjalan menuju kantin, pikirannya menerawang jauh. Dia teringat kejadian satu tahun yang lalu.
“Kamu dimana La, aku mau minta maaf kamu. Aku sekarang inget semuanya. Aku juga sayang kamu Lala aku cinta sama kamu. Semoga belum terlambat.” Kata Reza di dalam mobilnya. Mata Reza mencari – cari sosok Rara.
“Itu mobil Rama, sebaiknya gue nyusul dia.” Ucap Reza. Dia menyetarakan mobilnya dengan mobil Rama. Dia membunyikan klakson dan membuka jendela mobil sebelah kirinya.
“Rama, gue udah inget semuanya, makasih Rama. Loe tau dimana Lala?” Reza berteriak dari dalam mobilnya. Rama hanya tersenyum sinis, dan menunjuk ke arah depan.
“Itu Lala.” Ucap Reza.
Reza dan Rama melihat Rara mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, Rara berbelok ke kanan. Tapi tak di sangka dari arah berlawan terdapat mobil yang melaju dengan kecepaan tinggi. Dan “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…” seseorang berteriak.  Bbbrrraaaakkkk…

Mobil itu menabrak Rara, tubuh Rara terseret di jalanan, helm yang di kenakan terlepas dari kepalanya. Rara berhenti ketika kepalanya membentur trotoar. Reza dan Rama menghentikan mobilnya, mereka berdua berlari mengahampiri Rara.
 “Lala, lala. Ini aku Jae. Aku ingat semuanya Rara. Maaf aku terlambat mengingat ini semua.” Ucap seorang laki – laki yang ternyata adalah Reza. Dia mengangkat kepala Rara dan memeluknya. Rara membuka matanya, dan tersenyum ke arah Reza.
Rara memegang pipi Reza, “Aa..kku… sa..ya.aa.ng ka..mu Ja..a.a.e…” ucapnya terputus – putus.
“Aku juga sayang kamu Lala, aku sangat mencintaimu. Kamu cinta pertamaku Lala dan aku ingin kamu selalu ada untukku. Kita akan selalu bersama Lala.” Ucap Reza, dia menagis.
“Aa..a..kk.u.u ju.u.u..gggaa.. cci..inn..ttaa..aa ka..mmuu Jaa..ee. Maa..aa..aa..ff aa..kku.u..uudd.aa..hh..nniinnggaalin kkaa..mmuu” ucap Rara terbata – taba.
“Lala kamu harus kuat.” Ucap Reza memberikan semangat
Rara menoleh ke arah laki – laki yang ada di samping Reza, “Raa…aa.mma.a.a..a ttee..rii.ma..a kaa..ssihhh kaa...mmu maa..uu.u jjaa…ddii tee..ammaa..a.a.nnnkuu..”
“Iya Rara aku juga terima kasih karena kamu telah mengisi hari – hari indahku bersamamu. Aku panggil ambulance ya Ra? Kamu yang kuat.” Ucap Rama membelai rambut Rara yang berlumuran darah.
Rara menggelengkan kepalanya, tanda bahwa dia tidak mau. “Aaa…kku..uu u…daah nggak kkuuuu.u.u.u..aa.at llaa..ggi.i..i aa..kkkkuu…u..u. saa…yyaa.aanngg kkaaa..aa.llii..ii..aannn.. Jaa..aa..ee Raa.aa…mmmaa..a..” ucapnya terbata – bata.
“Nggak Rara,  kamu harus kuat, aku mencintaimu. Aku sayang kamu Rara sejak pertama bertemu.” Rama menangis.
“Aku juga mencintaimu Lala, jangan tinggalin aku untuk kedua kalinya kita akan selalu bersama selamanya Lala. Jangan tinggalin aku sama Rama La.” Ucap Reza.
Rara tersenyum melihat mereka berdua, senyuman terakhirnya. Lalu dia memejamkan matanya, pergi ke dunia yang berbeda yang paling indah.

“La aku sayang kamu.” Ucap Reza lirih, dia selalu menitikkan air matanya ketika dia teringat kejadian itu. Bbrruukkk…
“Aduh…” Reza merintih kesakitan, seseorang telah menabraknya.
“Maaf kak maaf. Saya nggak sengaja, saya minta maaf kak.” Ucap gadis itu ketakutan, dia membantu Reza berdiri.
Reza tersenyum, “Nggak apa – apa kok. Tadi aku juga ngelamun. Oh ya, kok panggilnya kakak? Emang kamu semester berapa?” tanya Reza.
“Aku semester satu kak Reza, bukankkah kakak wakil ketua panitia Ospek tahun ini ya?” tanya gadis itu tersenyum.
“Eh iya ya, sampe lupa.” Reza menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Maaf kak, mata kakak kenapa merah?” tanya gadis itu dan refleks memegang pipi Reza. “Upss, maaf kak refleks.” Cepat – cepat dia menarik tangannya.
Reza hanya melongo melihat gadis itu, dia teringat Rara. Belum pernah ada gadis yang memegang pipi Reza kecuali Rara.
“Kak? Kak Reza?” ucap gadis itu melambai – lambaikan tangannya di depan muka Reza.
“Eh iya, ada apa?” Reza tersadar dari lamunannya.
“Kakak nggak kenapa – kenapa? Kok matanya merah? Kakak abis nangis ya? Hhaayyoooo?” tanya gadis itu meledek.
“Ahh nggak kok, kamu udah makan? Makan bareng yuk?” Reza mengajak gadis itu. “Ok! Dengan senang hati Kak Reza.” Gadis itu tersenyum dan langsung menggandeng tangan Reza.
Refleks? Yap, itu juga kebiasan Rara. Reza hanya bisa diam melihat tingkah gadis yang berada di sampingnya.
“Oh ya, nama kamu siapa dek?” tanya Reza. “Dana kak Pramudana Castellina Effendi, sampe lupa nggak memperkenalkan diri.” Dana tersenyum.
“Tuhan, sungguh manis gadis ini.” Kata Reza dalam hati. “Panggil aku Reza aja, nggak usah pake kakak biar lebih akrab ok?”
“Ok! Kamu panggil aku Dana aja nggak usah pake dek.” Dana tersenyum.
Mereka berdua saling bertukar cerita, dari cerita lucu sampai sedih. Dan tak ketinggalan mereka saling bertukar nomor Handphone, pin BB, twitter, dan yang lainnya.

Wake Up Rama, Wake Up. Ngelamun terus loe dari tadi.” Kata Rama dalam hati. “Daripada ngelamun terus mending gue nyusul Reza deh.” Rama bergegas menuju kantin.
Sesampainya di ambang pintu kantin, Rama mendengar suara dua orang sejoli yang sedang tertawa. Dan salah satunya dia sangat mengenali suara itu. “Reza? Sama siapa dia?” Rama bertanya dalam hati. Rama terus memperhatikan Reza dan ? ya Rama belum tau, mereka membelakangi Rama.
“Apa gue samperin aja ya?” Ucap Rama lirih. Ketika hendak masuk, gadis itu menoleh ke belakang. Dengan sigap Rama berbalik arah dan bersembunyi. “Dia?” bukan main kagetnya. Dia adalah gadis yang akhir – akhir ini dipikirkan oleh Rama. Dadanya terasa sesak melihat Reza bersama gadis itu. “Rama loe harus pulang. Nggak boleh mikir macem – macem.” Kata Rama dalam hati.

Sesampainya di rumah Rama langsung masuk ke kamarnya, dia teringat kejadian tadi. “Aduh Rama, kenapa loe mikirin yang tadi sih? Loe cemburu? Nggak Rama enggak, pokoknya loe nggak boleh suka apalagi cinta sama gadis itu. Inget janji loe sama Reza.” Gumam Rama.
Tok tok tok… seseorang mengetuk pintu kamar Rama. “Siapa?” Rama berteriak. “Gue Reza, gue curhat donk Rama.” Jawab Reza sedikit berteriak. “Masuk aja Za! Nggak dikunci.” Ucap Rama.
Reza memasuki kamar  Rama dengan senyuman, dia hari ini bahagia. Melihat Reza yang tersenyum – senyum tidak jelas seperti itu, Rama menempelkan punggung tangannya ke dahi Reza.
Reza merasa risih dan menepis tangan Rama, “Iiihh apaan sih loe Ram? Kurang kerjaan banget tau nggak” ucap Reza geram.
“Abisnya loe masuk kamar orang senyum – senyum nggak jelas gitu. Gue mau mastiin loe sakit jiwa apa enggak?” Rama berkata dengan sedikit tertawa.
“Kurang ajar loe. Eh gue mau cerita nih, gue tadi ketemu sama cewek manis banget, tinggi, putih, langsing, kalo dia senyum ngingetin gue sama Rara namanya Dana. Apa gue jatuh cinta pada pandangan pertama ya Ram?” Reza menoleh ke arah Rama. Tertanya Rama tidak mendengarkan ceritanya, “Wwwoooyy, Rama. Loe dengerin gue nggak sih?” Reza berteriak tepat di telinga kanan Rama.
“Apaan sih Za, sakit tau. Gue nggak budek, gue dengerin cerita loe tadi loe ketemu sama cewek manis banget, tinggi, putih, langsing, kalo dia senyum ngingetin loe sama Rara namanya Dana.  Terus loe tanya apa loe jatuh cinta pada pandangan pertama. Gitukan? Rama geram.
“Hehehe… maaf brada abisnya loe kaya ngelamun gitu sih. Kayanya gue jatuh cinta nih Ram.” Kata Reza.
“Ehmm, may be.” Kata Rama mengangkat kedua bahunya.
“Ah loe Ram, nggak asik loe hari ini. Ya udah, gue mandi dulu deh.” Reza meninggalkan kamar Rama.
“Tuhan kenapa selalu seperti ini? Menyukai dan mencintai wanita yang sama?” kata Rama lirih.

Empat bulanpun berlalu, Reza semakin dekat dengan Dana. Rama? Dia memilih untuk menjauh agar tidak terjerumus lebih dalam di cinta segitiga ini.
Rama sedang berjalan – jalan di taman kota, dia hanya sendiri. Sungguh besar hati Rama, merelakan cintanya untuk kedua kalinya.
“Dana? Ngapain dia kesini?” Rama terkejut melihat Dana sendirian. Dia ingin menghampiri Dana tapi tidak jadi karena seseorang telah menghampirinya. Siapa lagi kalau bukan Reza.
Rama mengendap – endap berjalan mendekat ke arah mereka. Rama mendengarkan pembicaraan mereka.
“Ehmb Dan, aku mau ngomong sama kamu?” kata Reza.
“Aduh Reza sejak kapan kamu izin sama aku kalo kamu mau ngomong sama aku. Hahahagg… ada – ada aja kamu itu.” Ucap Dana mengacak – acak rambut Reza.
“Aku serius Dana.” Ucap Reza mantap.
Dana agak terkejut, tidak biasanya Reza seperti ini. “Ada apa Za?” tanya Dana penasaran.
Reza membungkuk di depan Dana dan memegang kedua tangan Dana. “Dana, Would you be my girl?” Reza menatap Dana dalam menembus bola matanya. Tersirat kebahagian dalam bola mata Dana. Dana langsung menganggukan kepalanya dan tersenyum ke arah Reza.
Duuuuaarr… petir menyambar hati Rama. “Kenapa hatiku sakit Tuhan?” kata Rama dalam hati. Rama bergegas pulang, pikirannya sangat kacau setelah melihat kejadian tadi. Rama berjalanan dengan langkah gontainya, dia tak memperhatikan sekelilingnya.
“Aduh…” Rama terjatuh, dia menabrak seorang gadis, “Kamu?” Rama bertanya pada gadis itu. “Kak Rama? Maaf kak aku tidak melihat kakak tadi.” Ucap gadis itu.
“Bukannya tadi dia bersama Reza? Kenapa sekarang disin?” batin Rama. Dia menabrak Dana.
“Kak Rama nggak kenapa – kenapakan?” tanya gadis itu.
“Bukannya kamu tadi sama Reza? Kenapa kamu sekarang disini? Ahh, tapi biarlah bukan urusanku. Aku pergi dulu Dana.” Rama pergi meniggalkan gadis itu.
“Dana?” ucap gadis itu. Tapi Rama sudah meninggalkannya, dia mengejar Rama. “Kak Rama, Kak Rama?” gadis itu berteriak memanggil Rama. Rama tetap berjalan tak tentu arah, dia tak menghiraukan gadis itu.
Sampai pada akhirnya “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...” Rama berteriak karena ada truk menuju ke arahnya. Sebelum truk itu menyentuh tubuh Rama ada seseorang mendorong Rama.
Dan “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...” teriak gadis itu. Bbrrrrrrraaaaaaaaaaakkk... Gadis itu tertabrak oleh truk. Rama melihat gadis yang telah menolongnya.
“Dana...” Rama berteriak, dia sangat terkejut bahwa orang yang telah menolongnya adalah Dana. Rama menangis, orang – orang yang berada disana segera menolong Rama dan gadis itu. Gadis itu segera dibawa ke Rumah Sakit.
Rama gelisah menunggu keterangan dari dokter, dia takut terjadi apa – apa dengan gadis itu. Tiba – tiba terlihat laki – laki paruh baya keluar dari ruang IGD, “Maaf, apakah anda keluarga pasien?” tanya seorang laki – laki itu memakai seragam serba putih.
“Bukan dok saya temannya, bagaimana keadaannya?” tanya Rama gelisah.
“Keadaannya cukup kritis, semoga tidak terjadi apa –apa dengan pasien. Kita berdoa saja. Oh ya, sebaiknya anda segera menghubungi keluarga pasien.” Kata dokter tersebut.
“Saya tidak tau tentang keluarganya dok. Bagaimana ini?” Ucap Rama bingung.
“Tadi suster menemukan handphone di saku wanita tersebut, semoga anda dapat menemukan nomor salah satu keluarganya.” Dokter itu menyarankan Rama.
“Kalau begitu baik dok, saya akan berusaha menghubungi keluarganya. Bolehkah saya masuk dok?” tanya Rama.
"Silakan, tapi jangan sampai menggangu pasien.” kata dokter itu.
“Baik dok.” Kata Rama tersenyum getir. Dokter itu berlalu pergi, Rama masuk ke ruangan Gadis itu. Hatinya tersayat melihat gadis pujaannya terbaring lemah tak berdaya. Selang – selang oksigen yang dikenakan semakin membuat Rama perih, “Kenapa kamu ngelakuin ini Dana.” Rama menggenggam tangan gadis itu.
“Oh iya, gue harus telpon keluarganya.” Kata Rama. Dia melihat sebuah handphone yang terletak di atas meja. “Pasti ini handphone Dana.” Batin Rama. Dia mencari – cari nomor terakhir yang di hubungi gadis itu. “My Sister” ucap Rama lirih. Dia segera menghubungi nomor tersebut.
“Halo, selamat siang.” Kata Rama sopan.
“Halo, maaf ini siapa?” Kata gadis diseberang sana.
“Saya Rama teman gadis pemilik handphone ini. Apakah benar ini kakaknya Dana?” tanya Rama.
“Dana? Maksud anda...” perkataan gadis itu terpotong karena Rama menyela pembicaraannya.
“Maaf adik anda tadi mengalami kecelakaan, dia sekarang berada di Rumah Sakit Harapan Jaya. Keadaannya...” handphone gadis itu mati.
“Iiiiiissssshhhhh... kenapa mati sih ni hp.” Umpat Rama. Rama kembali ke tempat duduknya, dia memandangi gadis itu.

“Ada apa Dana?” tanya Reza.
“Dina Za, adik aku kecelakaan. Dia sekarang di Rumah Sakit Harapan Jaya. Ayo sekarang kita kesana.” Kata Dana khawatir. Reza mengangguk dan segera menggandeng tangan kekasihnya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tapi berhati – hati.
Sesampainya di Rumah Sakit Dana langsung berlari ke dalam Rumah Sakit. Dia bertanya kepada perawat disana, “Maaf Sus, ruang pasien yang baru saja kecelakaan dimana ya?” ucap Dana terengah – engah.
“Atas nama Bapak Rama ya? Dia berada di ruang Rajawali 12.” Jawab perawat tersebut. “Makasih sus.” Dana dan Reza berlari menuju ruang tersebut.

“Dina...” teriak Dana. Dia menangis melihat saudara kembarnya yang terbaring lemah. Rama tampak bingung, “Dina?” tanya Rama pada Dana.
“Hey kok loe disini Rama?” Reza menepuk bahu Rama. “Reza?” Ucap Rama semakin bingung. Rama tampak bingung melihat dua gadis yang ada didepannya. Ya, mereka berdua kembar.
“Kenapa Dina bisa kaya gini Rama?” ucap Dana sendu.
“A..ee.. maafin aku, tadi dia meyelamatkanku. Tapi Tuhan berkehendak lain, aku selamat dari truk yang akan menabrakku tapi dia malah tertabrak. Maaf anda siapa? Kenapa anda mirip sekali dengan Dana?” tanya Rama heran.
Dana menghela nafasnya, “Dia adik kembarku Dina, lengkapnya Pramudina Castellina Effendi. Apakah Reza tidak cerita padamu? Bukankah kalian satu rumah?” tanya Dana bertubi – tubi.
Rama melihat ke arah Reza bingung, berharap Reza menjelaskan semua ini. Reza mendekat kea rah Rama, “Bener apa yang dibilang Dana Rama, maaf gue nggak cerita sama loe. Gue nggak mau nambahin masalah loe, karena akhir – akhir ini loe jadi pemurung. Dulu gue juga nggak bisa bedain mereka berdua. Tapi karena Dina pakai behel gue jadi lebih gampang bedain mereka.” Ucap Reza tegas.
“Berarti selama ini gue salah paham sama loe Za? Ahh gue bodo banget.” Rama mengacak – acak rambutnya.
“Maksud loe apa Rama?” tanya Reza heran.
“Gue kira Dana itu cewek  yang gue suka, tapi ternyata salah. Gue ngejauhin kalian karena gue nggak mau mengulang kesalahan yang sama Za. Gue bener – bener nyesel u...” belum sempat Rama mengakhiri kalimatnya mereka semua di kejutkan oleh Dina.
“Kak Rama...” Ucap Dina lirih. Rama langsung menghampiri Dina dan menggenggam tangan kanan Dina.
“Dina syukurlah kamu sadar, maafkan aku Dina. Karena aku kamu jadi seperti ini.” Rama memandang Dina penuh kasih sayang.
“Nggak apa – apa kak, yang penting Kak Rama selamat.” Ucap Dina lirih.
“Sekali lagi maafkan aku Dina. Mulai hari ini aku berjanji, aku akan melindungi kamu sampai detik terakhirku.” Kata Rama.
Terlukis seulas senyum dari bibir tipis Dina, “Makasih Kak Rama, aku melakukan hal itu karena aku sayang sama kakak.” Dina berterus terang kepada Rama. Dia sudah merasakan getaran cinta sejak pertama bertemu Rama.
“Aku juga sayang kamu Dina, bahkan aku mencintaimu sejak pertama kita bertemu.” Ucap Rama.
“Ooooohh so sweet.” Dana meledek mereka berdua.
“Gila loe brada so sweet amat.” Reza tertawa melihat kelakuan Rama.
Rama tersipu malu, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dina tersenyum melihat mereka semua, hatinya lega telah menyatakan persaan yang selama ini dia pendam.
Sungguh hari ini adalah hari yang paling bahagia bagi mereka. Reza dan Rama telah menemukan cintanya setelah Rara. Mereka berharap Dana dan Dina adalah cinta terakhir mereka. Tapi mereka akan selalu menyimpan memory tentang Rara di dalam hati kecil mereka. Sebuah akhir yang indah, yang tak pernah mereka duga sebelumnya.
Tidak semua yang kita inginkan langsung terjadi sesuai keinginan kita. Semua membutuhkan usaha serta doa untuk mencapai itu semua. Yakinlah bahwa takdir berada di tangan Tuhan, karena jika kita meyakini itu “Semua Akan Berakhir Indah”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan langsung kabur! Ayo ketik sesuatu dulu di sini :)