Langit terlihat begitu mendung, seperti hati
pelayat yang berada dipemakaman. Batu nisan yang bertuliskan "Rara Dina Winata" berdiri
tegar di atas gundukan tanah merah yang basah.
Semua tampak sedih apalagi Reza,
“Vandi Reza Pramudinata” sahabat Rara. Rara dan Reza saling mencintai, tapi
Reza terlambat menyadari itu semua.
"Ra, kenapa kamu tinggalin aku? Aku tau aku
salah, aku terlambat mengingat itu semua. Aku sayang kamu Ra." Ucap Reza
lirih. Dia terus mengeluarkan air matanya, hatinya sangat terpukul melihat batu
nisan yang ada di depannya.
"Udahlah Za, ini semua kehendak Tuhan.
Yakinlah, semua akan berakhir indah. Loe nggak perlu nyesel sama semua
ini. Harusnya Loe berterima kasih sama Tuhan, seenggaknya loe dipertemukan
kembali sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya." ucap seorang lelaki
kepada Reza.
"Loe nggak tau apa yang gue rasain Rama, gue
udah jahat sama dia. Gue nggak bisa kasih yang terbaik di saat - saat terakhir
Rara. Tapi malah sebaliknya, gue bersikap jahat sama dia, bahkan gue lupa siapa
dia Rama." bentak Reza kepada Rama. Rama adalah saudara sepupu Reza, dia
juga mencintai Rara sejak pertama bertemu.
"Loe udah ngasih yang terbaik buat Rara Za.
Tapi loe nggak sadar. Sebelum dia meninggal loe udah inget semuanya. Loe inget
sama masa lalu loe, dan loe juga bisa menyatakan perasaan loe ke Rara."
Ucap Rama sambil menepuk bahu Reza.
"Yang kehilangan dia bukan cuma loe Za, gue
juga kehilangan dia. Keluarga dia sama orang - orang yang sayang sama dia juga
kehilangan dia Za." Ucap Rama menenangkan Reza. Rama terlihat lebih tegar
dibandingkan Reza. “Rama Karisma Wijaya”
seorang lelaki yang mencintai Rara lebih dari Reza mencintai Rara. Bagaimana
tidak? Rama selalu bersabar ketika Rara bercerita tentang Reza. Dia juga selalu
bersedih jika melihat Rara menangis karena Reza. Rama selalu menghibur Rara dan
selalu ada untuk Rara. Rama berkeyakinan suatu saat nanti Rara pasti akan
mencintai Rama seperti dia mencintai Rara. Tapi Tuhan berkehendak lain, Rara
meninggalkan mereka semua untuk selamanya.
"Sekarang kita doa'in Rara, biar dia tenang
disana." Rama menundukkan kepalanya di ikuti Reza. Setelah selesai berdoa
mereka semua kembali ke rumah masing – masing.
Hari demi haripun berlalu, satu tahun sudah Rara
meninggalkan Reza dan Rama selamanya. Tanpa sosok Rara keduanya tampak begitu
sedih. Siapa lagi kalau bukan "Reza
dan Rama"? terlibat dalam cinta segita yang berakhir dengan kematian.
"Za, semenjak Rara meninggal kita selalu
murung. Gue sadar Za, cinta itu nggak harus memiliki dan harus dimiliki oleh
orang yang kita cintai. Terlalu banyak cinta kita untuk Rara, sampai - sampai
kita melupakan orang - orang di sekeliling kita." Ucap Rama memandang
langit – langit kamar Reza. Ya, semenjak kepergian Rara Tante Kamila ibunda
Reza meminta Rama untuk menemani Reza.
"Maksud loe apa Rama? Gue nggak ngerti"
Kata Reza sambil mengernyitkan keningnya. Rama menghela nafasnya, "Gue mau
kita berjanji untuk selalu menjaga cinta kita untuk Rara selamanya di relung
hati kita yang paling dalam…” belum sempat Rama mengakhiri kalimatnya Reza
memotong pembicaraannya.
“Nggak usah janji aja gue udah ngelakuin itu Rama.”
Ucap Reza kesal. Reza pergi menuju balkon kamarnya diikuti dengan Rama.
“Dengerin gue dulu Reza, seharusnya kita membuka
hati untuk orang lain. Udah 1 tahun kita kaya gini, pasti Rara disana juga
sedih liat kita kaya gini. Gimana setuju?" Rama melihat Reza yang sedang
memandang langit senja.
Tampak Reza sedang berpikir, "Ok gue setuju. Tapi
kita nggak boleh mencintai wanita yang sama dalam waktu yang bersamaan. Gue
nggak mau kejadian yang dulu terulang lagi. Setuju?" Reza mengulurkan
tangannya. “Setuju.” Ucap Rama mantap.
Mereka menikmati pemandangan senja bersama.
Semenjak kepergian Rara, mereka lebih akur dibandingkan dulu.
Mentari tersenyum pagi ini, langit tampak begitu
cerah secerah hati Reza dan Rama. Yap, setelah lama termenung mereka berusaha
untuk bangkit. Hari ini adalah tahun ajaran baru untuk mahasiswa – mahasiswi
tahun 2012/2013, mereka berdua adalah salah satu senior ospek kali ini.
“Pagi adik – adik semuanya.” Ucap salah seorang
senior sedikit berteriak. Perawakannya tinggi, tubuhnya atletis, mukanya
berbentuk oval serta putih. Tampak begitu manis ketika dia tersenyum
memperlihatkan deretan behel digiginya. Siapa lagi kalau bukan “Rama Karisma Wijaya”.
“Pagi Kak…” jawab para junior.
“Hari ini adalah hari pertama kalian ospek,
perkenalkan nama saya Rama Karisma
Wijaya panggil saja Rama atau Kak Rama. Saya ketua panitia Ospek tahun ini, dan di sebelah saya Vandi Reza Pramudinata panggil saja Reza atau Kak Reza, dia
adalah wakil ketua panitia Ospek tahun ini.” Ucap Rama mantap. Acara Ospek hari
ini adalah perkenalan dari Panitia serta memperkenalkan gedung yang ada di
Universitas Indonesia.
“Eh Za, gue ke toilet sebentar yah? Loe
gantiin gue bentar ok?” ucap Rama berbisik kepada Reza. “Ya udah sana cepetan.
Hhmmbb…” Reza menggelengkan kepala melihat tingkah sepupu sekaligus sahabatnya
itu.
Setelah selesai dari toilet, Rama
berlari menuju Aula. Tiba – tiba bbrruuuukkk… Rama menabrak sesorang.
“Maaf – maaf Kak, saya nggak sengaja.”
Ucap gadis itu ketakutan, dia junior baru. Rama memandang gadis itu dari ujung
kepala sampai kaki. “Manis.” batin Rama. “Putih, tinggi, langsing, rambutnya
panjang. Terlihat lebih anggun jika rambutnya tergerai, dan… dia juga memakai behel kaya gue.” ucap Rama
dalam hati.
“Kak saya minta maaf, saya tadi terburu
– buru. Tadi saya dari toilet, karena terburu- buru saya jadi kurang berhati –
hati.” Ucap gadis itu menunduk.
Rama tersadar, “Oh ya nggak apa – apa
kok. Aku tadi juga buru – buru.” Rama tersenyum memperlihatkan behelnya.
“Makasih kak, aku kesana dulu kak Rama.
Permisi.” Kata gadis itu tersenyum dan berlalu pergi.
Rama terdiam, dia terpesona dengan
gadis itu. “Rama, Rama… ngapain loe disitu?” teriak seseorang dari arah Aula.
Rama tersadar dari lamunannya “Eh, iya bentar.” Rama segera berlari ke arah
Aula.
Masa – masa Ospekpun berlalu, akhir – akhir ini
Rama sering memikirkan gadis itu. Apakah dia jatuh cinta pada pandangan
pertama? Mungkin ya?
“Kenapa gue mikirin dia sih? Aduh Rama, jangan
mengulang kesalahan yang kedua kalinya.” Kata Rama dalam hati. Dia melamunkan
gadis itu, masih tergambar jelas senyum gadis itu dalam memory otaknya.
“Rama.” Ucap seseorang mengagetkan Rama. “Eh iya…
ada apa Za?” Rama tersadar dari lamunannya.
“Loe kenapa sih akhir – akhir ini sering ngelamun
nggak jelas kaya gitu? Mikirin Rara lagi ya?”
tanya Reza menatap Rama sinis.
“Ahh enggak Za, gue kangen nyokap sama bokap gue.”
jawab Rama berdusta.
Reza menghela nafasnya kemudian menepuk bahu kanan
Rama, “Loe yang sabar Rama, Om sama Tante Karisma di Inggris juga buat hidup
loekan? Dia kerja buat loe, buat kuliah loe. Sabar brada gue selalu di
samping loe.” Ucap Reza tersenyum. Reza sangat pecaya kepada Rama.
“Makasih Za, loe saudara sekaligus sahabat gue yang
paling baik.” Rama tersenyum. “Maaf Za, gue terpaksa bohong sama loe,
soalnya gue juga masih bingung sama perasaan gue. Suatu saat nanti pasti gue
bakalan cerita.” Kata Rama dalam hati.
“Gue ke kantin dulu Ya brada? Loe mau ikut nggak?” tanya Reza. “Nggak Za, loe sendiri aja.
Gue pengen disini dulu.” Jawab Rama merebahkan tubuhnya di kursi taman.
“Ok! Ati – ati entar loe kesambet sama yang nunggu
tuh pohon.” Bisik Reza sambil menunjuk pohon yang cukup besar di tengah –
tengah taman Kampus.
“Biarin. Entar gue ajak kenalan deh. Hahahagggg…”
Rama tertawa. Reza hanya geleng – geleng kepala dan meninggalkan Rama
sendirian. Rama memang lebih suka menyendiri jika dia mempunyai masalah.
Reza berjalan menuju kantin, pikirannya menerawang
jauh. Dia teringat kejadian satu tahun yang lalu.
“Kamu dimana La, aku mau minta maaf
kamu. Aku sekarang inget semuanya. Aku juga sayang kamu Lala aku cinta sama
kamu. Semoga belum terlambat.” Kata Reza di dalam mobilnya. Mata Reza mencari –
cari sosok Rara.
“Itu mobil Rama, sebaiknya gue nyusul
dia.” Ucap Reza. Dia menyetarakan mobilnya dengan mobil Rama. Dia membunyikan
klakson dan membuka jendela mobil sebelah kirinya.
“Rama, gue udah inget semuanya, makasih
Rama. Loe tau dimana Lala?” Reza berteriak dari dalam mobilnya. Rama hanya
tersenyum sinis, dan menunjuk ke arah depan.
“Itu Lala.” Ucap Reza.
Reza dan Rama melihat Rara mengendarai
motor dengan kecepatan tinggi, Rara berbelok ke kanan. Tapi tak di sangka dari
arah berlawan terdapat mobil yang melaju dengan kecepaan tinggi. Dan
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…” seseorang berteriak. Bbbrrraaaakkkk…
Mobil itu menabrak Rara, tubuh Rara
terseret di jalanan, helm yang di kenakan terlepas dari kepalanya. Rara
berhenti ketika kepalanya membentur trotoar. Reza dan Rama menghentikan
mobilnya, mereka berdua berlari mengahampiri Rara.
“Lala, lala. Ini aku Jae. Aku ingat semuanya
Rara. Maaf aku terlambat mengingat ini semua.” Ucap seorang laki – laki yang
ternyata adalah Reza. Dia mengangkat kepala Rara dan memeluknya. Rara membuka
matanya, dan tersenyum ke arah Reza.
Rara memegang pipi Reza, “Aa..kku…
sa..ya.aa.ng ka..mu Ja..a.a.e…” ucapnya terputus – putus.
“Aku juga sayang kamu Lala, aku sangat
mencintaimu. Kamu cinta pertamaku Lala dan aku ingin kamu selalu ada untukku.
Kita akan selalu bersama Lala.” Ucap Reza, dia menagis.
“Aa..a..kk.u.u ju.u.u..gggaa.. cci..inn..ttaa..aa
ka..mmuu Jaa..ee. Maa..aa..aa..ff aa..kku.u..uudd.aa..hh..nniinnggaalin
kkaa..mmuu” ucap Rara terbata – taba.
“Lala kamu harus kuat.” Ucap Reza
memberikan semangat
Rara menoleh ke arah laki – laki yang
ada di samping Reza, “Raa…aa.mma.a.a..a ttee..rii.ma..a kaa..ssihhh kaa...mmu
maa..uu.u jjaa…ddii tee..ammaa..a.a.nnnkuu..”
“Iya Rara aku juga terima kasih karena
kamu telah mengisi hari – hari indahku bersamamu. Aku panggil ambulance
ya Ra? Kamu yang kuat.” Ucap Rama membelai rambut Rara yang berlumuran darah.
Rara menggelengkan kepalanya, tanda
bahwa dia tidak mau. “Aaa…kku..uu u…daah nggak kkuuuu.u.u.u..aa.at llaa..ggi.i..i
aa..kkkkuu…u..u. saa…yyaa.aanngg kkaaa..aa.llii..ii..aannn.. Jaa..aa..ee
Raa.aa…mmmaa..a..” ucapnya terbata – bata.
“Nggak Rara, kamu harus kuat, aku mencintaimu. Aku sayang
kamu Rara sejak pertama bertemu.” Rama menangis.
“Aku juga mencintaimu Lala, jangan
tinggalin aku untuk kedua kalinya kita akan selalu bersama selamanya Lala.
Jangan tinggalin aku sama Rama La.” Ucap Reza.
Rara tersenyum melihat mereka berdua,
senyuman terakhirnya. Lalu dia memejamkan matanya, pergi ke dunia yang berbeda
yang paling indah.
“La aku sayang kamu.” Ucap Reza lirih, dia selalu
menitikkan air matanya ketika dia teringat kejadian itu. Bbrruukkk…
“Aduh…” Reza merintih kesakitan, seseorang telah
menabraknya.
“Maaf kak maaf. Saya nggak sengaja, saya minta maaf
kak.” Ucap gadis itu ketakutan, dia membantu Reza berdiri.
Reza tersenyum, “Nggak apa – apa kok. Tadi aku juga
ngelamun. Oh ya, kok panggilnya kakak? Emang kamu semester berapa?” tanya Reza.
“Aku semester satu kak Reza, bukankkah kakak wakil
ketua panitia Ospek tahun ini ya?” tanya gadis itu tersenyum.
“Eh iya ya, sampe lupa.” Reza menggaruk kepalanya
yang tidak gatal.
“Maaf kak, mata kakak kenapa merah?” tanya gadis
itu dan refleks memegang pipi Reza. “Upss, maaf kak refleks.” Cepat – cepat dia
menarik tangannya.
Reza hanya melongo melihat gadis itu, dia teringat
Rara. Belum pernah ada gadis yang memegang pipi Reza kecuali Rara.
“Kak? Kak Reza?” ucap gadis itu melambai –
lambaikan tangannya di depan muka Reza.
“Eh iya, ada apa?” Reza tersadar dari lamunannya.
“Kakak nggak kenapa – kenapa? Kok matanya merah?
Kakak abis nangis ya? Hhaayyoooo?” tanya gadis itu meledek.
“Ahh nggak kok, kamu udah makan? Makan bareng yuk?”
Reza mengajak gadis itu. “Ok! Dengan senang hati Kak Reza.” Gadis itu tersenyum
dan langsung menggandeng tangan Reza.
Refleks? Yap, itu juga kebiasan Rara. Reza hanya
bisa diam melihat tingkah gadis yang berada di sampingnya.
“Oh ya, nama kamu siapa dek?” tanya Reza. “Dana kak
Pramudana Castellina Effendi, sampe
lupa nggak memperkenalkan diri.” Dana tersenyum.
“Tuhan, sungguh manis gadis ini.” Kata Reza dalam
hati. “Panggil aku Reza aja, nggak usah pake kakak biar lebih akrab ok?”
“Ok! Kamu panggil aku Dana aja nggak usah pake
dek.” Dana tersenyum.
Mereka berdua saling bertukar cerita, dari cerita lucu
sampai sedih. Dan tak ketinggalan mereka saling bertukar nomor Handphone, pin
BB, twitter, dan yang lainnya.
“Wake Up
Rama, Wake Up. Ngelamun terus loe
dari tadi.” Kata Rama dalam hati. “Daripada ngelamun terus mending gue nyusul
Reza deh.” Rama bergegas menuju kantin.
Sesampainya di ambang pintu kantin, Rama mendengar
suara dua orang sejoli yang sedang tertawa. Dan salah satunya dia sangat
mengenali suara itu. “Reza? Sama siapa dia?” Rama bertanya dalam hati. Rama
terus memperhatikan Reza dan ? ya Rama belum tau, mereka membelakangi Rama.
“Apa gue samperin aja ya?” Ucap Rama lirih. Ketika
hendak masuk, gadis itu menoleh ke belakang. Dengan sigap Rama berbalik arah
dan bersembunyi. “Dia?” bukan main kagetnya. Dia adalah gadis yang akhir –
akhir ini dipikirkan oleh Rama. Dadanya terasa sesak melihat Reza bersama gadis
itu. “Rama loe harus pulang. Nggak boleh mikir macem – macem.” Kata Rama dalam
hati.
Sesampainya di rumah Rama langsung masuk ke
kamarnya, dia teringat kejadian tadi. “Aduh Rama, kenapa loe mikirin yang tadi
sih? Loe cemburu? Nggak Rama enggak, pokoknya loe nggak boleh suka apalagi
cinta sama gadis itu. Inget janji loe sama Reza.” Gumam Rama.
Tok tok tok… seseorang mengetuk pintu kamar Rama.
“Siapa?” Rama berteriak. “Gue Reza, gue curhat donk Rama.” Jawab Reza sedikit
berteriak. “Masuk aja Za! Nggak dikunci.” Ucap Rama.
Reza memasuki kamar
Rama dengan senyuman, dia hari ini bahagia. Melihat Reza yang tersenyum
– senyum tidak jelas seperti itu, Rama menempelkan punggung tangannya ke dahi
Reza.
Reza merasa risih dan menepis tangan Rama, “Iiihh
apaan sih loe Ram? Kurang kerjaan banget tau nggak” ucap Reza geram.
“Abisnya loe masuk kamar orang senyum – senyum
nggak jelas gitu. Gue mau mastiin loe sakit jiwa apa enggak?” Rama berkata
dengan sedikit tertawa.
“Kurang ajar loe. Eh gue mau cerita nih, gue tadi
ketemu sama cewek manis banget, tinggi, putih, langsing, kalo dia senyum
ngingetin gue sama Rara namanya Dana. Apa gue jatuh cinta pada pandangan
pertama ya Ram?” Reza menoleh ke arah Rama. Tertanya Rama tidak mendengarkan
ceritanya, “Wwwoooyy, Rama. Loe dengerin gue nggak sih?” Reza berteriak tepat
di telinga kanan Rama.
“Apaan sih Za, sakit tau. Gue nggak budek, gue
dengerin cerita loe tadi loe ketemu sama cewek manis banget, tinggi, putih,
langsing, kalo dia senyum ngingetin loe sama Rara namanya Dana. Terus loe tanya apa loe jatuh cinta pada
pandangan pertama. Gitukan? Rama geram.
“Hehehe… maaf brada abisnya loe
kaya ngelamun gitu sih. Kayanya gue jatuh cinta nih Ram.” Kata Reza.
“Ehmm,
may be.” Kata Rama mengangkat kedua bahunya.
“Ah
loe Ram, nggak asik loe hari ini. Ya udah, gue mandi dulu deh.” Reza
meninggalkan kamar Rama.
“Tuhan
kenapa selalu seperti ini? Menyukai dan mencintai wanita yang sama?” kata Rama
lirih.
Empat
bulanpun berlalu, Reza semakin dekat dengan Dana. Rama? Dia memilih untuk
menjauh agar tidak terjerumus lebih dalam di cinta segitiga ini.
Rama
sedang berjalan – jalan di taman kota, dia hanya sendiri. Sungguh besar hati
Rama, merelakan cintanya untuk kedua kalinya.
“Dana?
Ngapain dia kesini?” Rama terkejut melihat Dana sendirian. Dia ingin
menghampiri Dana tapi tidak jadi karena seseorang telah menghampirinya. Siapa
lagi kalau bukan Reza.
Rama
mengendap – endap berjalan mendekat ke arah mereka. Rama mendengarkan pembicaraan
mereka.
“Ehmb
Dan, aku mau ngomong sama kamu?” kata Reza.
“Aduh
Reza sejak kapan kamu izin sama aku kalo kamu mau ngomong sama aku. Hahahagg…
ada – ada aja kamu itu.” Ucap Dana mengacak – acak rambut Reza.
“Aku
serius Dana.” Ucap Reza mantap.
Dana
agak terkejut, tidak biasanya Reza seperti ini. “Ada apa Za?” tanya Dana
penasaran.
Reza
membungkuk di depan Dana dan memegang kedua tangan Dana. “Dana, Would
you be my girl?” Reza menatap Dana dalam menembus bola matanya.
Tersirat kebahagian dalam bola mata Dana. Dana langsung menganggukan kepalanya
dan tersenyum ke arah Reza.
Duuuuaarr…
petir menyambar hati Rama. “Kenapa hatiku sakit Tuhan?” kata Rama dalam hati.
Rama bergegas pulang, pikirannya sangat kacau setelah melihat kejadian tadi.
Rama berjalanan dengan langkah gontainya, dia tak memperhatikan sekelilingnya.
“Aduh…”
Rama terjatuh, dia menabrak seorang gadis, “Kamu?” Rama bertanya pada gadis
itu. “Kak Rama? Maaf kak aku tidak melihat kakak tadi.” Ucap gadis itu.
“Bukannya
tadi dia bersama Reza? Kenapa sekarang disin?” batin Rama. Dia menabrak Dana.
“Kak
Rama nggak kenapa – kenapakan?” tanya gadis itu.
“Bukannya
kamu tadi sama Reza? Kenapa kamu sekarang disini? Ahh, tapi biarlah bukan
urusanku. Aku pergi dulu Dana.” Rama pergi meniggalkan gadis itu.
“Dana?”
ucap gadis itu. Tapi Rama sudah meninggalkannya, dia mengejar Rama. “Kak Rama,
Kak Rama?” gadis itu berteriak memanggil Rama. Rama tetap berjalan tak tentu
arah, dia tak menghiraukan gadis itu.
Sampai
pada akhirnya “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...” Rama berteriak karena ada truk menuju
ke arahnya. Sebelum truk itu menyentuh tubuh Rama ada seseorang mendorong Rama.
Dan
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...” teriak gadis itu. Bbrrrrrrraaaaaaaaaaakkk... Gadis
itu tertabrak oleh truk. Rama melihat gadis yang telah menolongnya.
“Dana...”
Rama berteriak, dia sangat terkejut bahwa orang yang telah menolongnya adalah
Dana. Rama menangis, orang – orang yang berada disana segera menolong Rama dan
gadis itu. Gadis itu segera dibawa ke Rumah Sakit.
Rama
gelisah menunggu keterangan dari dokter, dia takut terjadi apa – apa dengan
gadis itu. Tiba – tiba terlihat laki – laki paruh baya keluar dari ruang IGD,
“Maaf, apakah anda keluarga pasien?” tanya seorang laki – laki itu memakai
seragam serba putih.
“Bukan
dok saya temannya, bagaimana keadaannya?” tanya Rama gelisah.
“Keadaannya
cukup kritis, semoga tidak terjadi apa –apa dengan pasien. Kita berdoa saja. Oh
ya, sebaiknya anda segera menghubungi keluarga pasien.” Kata dokter tersebut.
“Saya
tidak tau tentang keluarganya dok. Bagaimana ini?” Ucap Rama bingung.
“Tadi
suster menemukan handphone di saku wanita tersebut, semoga anda dapat menemukan
nomor salah satu keluarganya.” Dokter itu menyarankan Rama.
“Kalau
begitu baik dok, saya akan berusaha menghubungi keluarganya. Bolehkah saya
masuk dok?” tanya Rama.
"Silakan,
tapi jangan sampai menggangu pasien.” kata dokter itu.
“Baik
dok.” Kata Rama tersenyum getir. Dokter itu berlalu pergi, Rama masuk ke
ruangan Gadis itu. Hatinya tersayat melihat gadis pujaannya terbaring lemah tak
berdaya. Selang – selang oksigen yang dikenakan semakin membuat Rama perih, “Kenapa
kamu ngelakuin ini Dana.” Rama menggenggam tangan gadis itu.
“Oh
iya, gue harus telpon keluarganya.” Kata Rama. Dia melihat sebuah handphone
yang terletak di atas meja. “Pasti ini handphone Dana.” Batin Rama. Dia mencari
– cari nomor terakhir yang di hubungi gadis itu. “My Sister” ucap Rama
lirih. Dia segera menghubungi nomor tersebut.
“Halo,
selamat siang.” Kata Rama sopan.
“Halo,
maaf ini siapa?” Kata gadis diseberang sana.
“Saya
Rama teman gadis pemilik handphone ini. Apakah benar ini kakaknya Dana?” tanya
Rama.
“Dana?
Maksud anda...” perkataan gadis itu terpotong karena Rama menyela
pembicaraannya.
“Maaf
adik anda tadi mengalami kecelakaan, dia sekarang berada di Rumah Sakit Harapan
Jaya. Keadaannya...” handphone gadis itu mati.
“Iiiiiissssshhhhh...
kenapa mati sih ni hp.” Umpat Rama. Rama kembali ke tempat duduknya, dia
memandangi gadis itu.
“Ada
apa Dana?” tanya Reza.
“Dina
Za, adik aku kecelakaan. Dia sekarang di Rumah Sakit Harapan Jaya. Ayo sekarang
kita kesana.” Kata Dana khawatir. Reza mengangguk dan segera menggandeng tangan
kekasihnya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tapi berhati – hati.
Sesampainya
di Rumah Sakit Dana langsung berlari ke dalam Rumah Sakit. Dia bertanya kepada perawat
disana, “Maaf Sus, ruang pasien yang baru saja kecelakaan dimana ya?” ucap Dana
terengah – engah.
“Atas
nama Bapak Rama ya? Dia berada di ruang Rajawali 12.” Jawab perawat tersebut.
“Makasih sus.” Dana dan Reza berlari menuju ruang tersebut.
“Dina...”
teriak Dana. Dia menangis melihat saudara kembarnya yang terbaring lemah. Rama
tampak bingung, “Dina?” tanya Rama pada Dana.
“Hey
kok loe disini Rama?” Reza menepuk bahu Rama. “Reza?” Ucap Rama semakin
bingung. Rama tampak bingung melihat dua gadis yang ada didepannya. Ya, mereka
berdua kembar.
“Kenapa
Dina bisa kaya gini Rama?” ucap Dana sendu.
“A..ee..
maafin aku, tadi dia meyelamatkanku. Tapi Tuhan berkehendak lain, aku selamat
dari truk yang akan menabrakku tapi dia malah tertabrak. Maaf anda siapa?
Kenapa anda mirip sekali dengan Dana?” tanya Rama heran.
Dana
menghela nafasnya, “Dia adik kembarku Dina, lengkapnya Pramudina Castellina Effendi. Apakah Reza tidak cerita padamu? Bukankah kalian
satu rumah?” tanya Dana bertubi – tubi.
Rama melihat ke arah Reza bingung, berharap Reza
menjelaskan semua ini. Reza mendekat kea rah Rama, “Bener apa yang dibilang
Dana Rama, maaf gue nggak cerita sama loe. Gue nggak mau nambahin masalah loe,
karena akhir – akhir ini loe jadi pemurung. Dulu gue juga nggak bisa bedain
mereka berdua. Tapi karena Dina pakai behel gue jadi lebih gampang bedain
mereka.” Ucap Reza tegas.
“Berarti selama ini gue salah paham sama loe Za?
Ahh gue bodo banget.” Rama mengacak – acak rambutnya.
“Maksud loe apa Rama?” tanya Reza heran.
“Gue kira Dana itu cewek yang gue suka, tapi ternyata salah. Gue
ngejauhin kalian karena gue nggak mau mengulang kesalahan yang sama Za. Gue
bener – bener nyesel u...” belum sempat Rama mengakhiri kalimatnya mereka semua
di kejutkan oleh Dina.
“Kak Rama...” Ucap Dina lirih. Rama langsung
menghampiri Dina dan menggenggam tangan kanan Dina.
“Dina syukurlah kamu sadar, maafkan aku Dina.
Karena aku kamu jadi seperti ini.” Rama memandang Dina penuh kasih sayang.
“Nggak apa – apa kak, yang penting Kak Rama
selamat.” Ucap Dina lirih.
“Sekali lagi maafkan aku Dina. Mulai hari ini aku
berjanji, aku akan melindungi kamu sampai detik terakhirku.” Kata Rama.
Terlukis seulas senyum dari bibir tipis Dina,
“Makasih Kak Rama, aku melakukan hal itu karena aku sayang sama kakak.” Dina
berterus terang kepada Rama. Dia sudah merasakan getaran cinta sejak pertama
bertemu Rama.
“Aku juga sayang kamu Dina, bahkan aku mencintaimu
sejak pertama kita bertemu.” Ucap Rama.
“Ooooohh so
sweet.” Dana meledek mereka berdua.
“Gila loe brada so sweet amat.” Reza tertawa melihat kelakuan Rama.
Rama tersipu malu, dia menggaruk kepalanya yang
tidak gatal. Dina tersenyum melihat mereka semua, hatinya lega telah menyatakan
persaan yang selama ini dia pendam.
Sungguh hari ini adalah hari yang paling bahagia
bagi mereka. Reza dan Rama telah menemukan cintanya setelah Rara. Mereka
berharap Dana dan Dina adalah cinta terakhir mereka. Tapi mereka akan selalu
menyimpan memory tentang Rara di dalam hati kecil mereka. Sebuah akhir yang
indah, yang tak pernah mereka duga sebelumnya.
Tidak semua yang kita inginkan langsung terjadi
sesuai keinginan kita. Semua membutuhkan usaha serta doa untuk mencapai itu
semua. Yakinlah bahwa takdir berada di tangan Tuhan, karena jika kita meyakini
itu “Semua
Akan Berakhir Indah”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jangan langsung kabur! Ayo ketik sesuatu dulu di sini :)